Rancak Media – , JAKARTA – Operasional pemerintahan Amerika Serikat (AS) kembali terhenti, atau yang dikenal dengan istilah shutdown, dan kini telah memasuki hari kelima. Situasi ini muncul setelah Senat gagal menyetujui Rancangan Undang-Undang (RUU) belanja tahunan sejak Selasa, 30 September 2025. Kondisi ini secara alami memicu ketidakpastian di panggung global, menimbulkan kekhawatiran akan potensi dampaknya terhadap stabilitas pasar saham Indonesia.
Namun, Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, memiliki pandangan yang lebih terukur. Ia menilai bahwa dampak langsung dari shutdown pemerintah AS terhadap pasar saham Indonesia cenderung netral. Ekky menjelaskan bahwa fenomena shutdown ini bukanlah hal baru dalam lanskap dinamika politik dan anggaran di Amerika. Oleh karena itu, para pelaku pasar global, menurutnya, sudah cenderung memperhitungkan skenario seperti ini dalam proyeksi mereka.
Observasi Ekky juga diperkuat oleh pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sejauh ini, IHSG tidak menunjukkan reaksi signifikan yang secara langsung terkait dengan shutdown tersebut. Fokus utama investor justru lebih banyak tertuju pada faktor-faktor domestik. Bahkan, pada hari ini, IHSG ditutup menguat 0,27%, mencapai all time high (ATH) baru di level 8.139.
: IHSG Ditutup Sentuh ATH, Saham Prajogo CDIA-CUAN Dorong Laju Indeks
Meskipun shutdown AS mungkin sedikit menekan sentimen global, Ekky menegaskan bahwa akar masalah utamanya bukanlah shutdown itu sendiri. “Faktor utamanya bukan shutdown itu sendiri, melainkan bagaimana ketidakpastian ini memperpanjang antisipasi investor terhadap arah suku bunga The Fed yang masih belum pasti,” ujar Ekky kepada Bisnis, Senin (6/10/2025). Ia menambahkan bahwa dalam konteks Indonesia, sentimen domestik tetap menjadi pendorong utama pergerakan pasar.
Kendati IHSG hari ini berhasil menguat, perlu dicatat bahwa dalam sepekan terakhir, pasar saham Indonesia mencatat net sell asing sebesar Rp3,10 triliun. Angka ini berbanding terbalik dengan pekan sebelumnya yang mencatatkan net buy asing Rp5,09 triliun, menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam aktivitas investor asing.
: IHSG Sesi I Terkoreksi, Saham Prajogo CDIA-BRPT Topang Laju Indeks
Ekky lebih lanjut menjelaskan bahwa minimnya aliran dana asing ke pasar saham Indonesia saat ini bukan akibat langsung dari shutdown AS. Sebaliknya, hal ini lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor internal yang kuat. Ia menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah yang cukup dalam sejak akhir kuartal III, serta ketidakpastian arah kebijakan fiskal pasca-reshuffle kabinet sebagai pemicu utama kehati-hatian investor.
Dengan adanya ketidakpastian tersebut, investor asing cenderung bersikap hati-hati dalam menambah eksposur investasinya. “Investor asing cenderung berhati-hati dalam menambah eksposur, menunggu kejelasan arah kebijakan fiskal pemerintah baru serta implementasi dari stimulus likuiditas dan belanja negara,” pungkas Ekky, menggambarkan sikap menunggu investor terhadap langkah-langkah pemerintah ke depan.
: Potensi IHSG Reli Pekan Ini, Cek ASII, ACES, hingga MIDI
Sementara itu, Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, menyoroti sentimen global lainnya yang akan dihadapi pasar saham Indonesia pekan ini, yaitu kekhawatiran akan government shutdown di AS yang berpotensi merugikan ekonomi AS secara keseluruhan. Di tengah situasi fiskal AS yang menegang, pasar memproyeksikan probabilitas sebesar 96,2% bahwa The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin (bps).
“Di tengah situasi tersebut, pelaku pasar akan menyoroti beberapa agenda penting dari The Federal Reserve, termasuk pidato dari dua pejabatnya, Raphael Bostic dan Michelle Bowman, serta rilis FOMC Minutes pada 8 Oktober,” tegas Imam, menggarisbawahi pentingnya pengawasan terhadap kebijakan moneter AS.
Selain fokus pada The Fed, para investor juga menanti data Initial Jobless Claims yang akan dirilis pada 9 Oktober. Data ini sangat penting untuk mencari petunjuk mengenai arah suku bunga, terutama sinyal pelonggaran kebijakan moneter di tengah tren pelemahan ekonomi global yang sedang berlangsung.
Dari dalam negeri, pekan ini akan diwarnai dengan rilis berbagai data kunci yang signifikan. Agenda dimulai dengan pengumuman posisi cadangan devisa Bank Indonesia pada 7 Oktober, yang mengukur ketahanan eksternal. Selanjutnya, data penjualan ritel akan dirilis pada 9 Oktober, diikuti oleh data penjualan motor dan mobil pada 9–10 Oktober.
“Rangkaian data ini sangat penting karena akan memberikan gambaran kekuatan konsumsi rumah tangga dan daya beli masyarakat kelas menengah, yang merupakan katalis utama pertumbuhan ekonomi Indonesia di akhir tahun,” tandas Imam, menegaskan relevansi data-data tersebut bagi proyeksi ekonomi nasional.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Ringkasan
Analis Infovesta Utama, Ekky Topan, menilai shutdown pemerintah AS berdampak netral pada pasar saham Indonesia. Menurutnya, shutdown bukan hal baru dan sudah diperhitungkan pasar global. IHSG juga tidak menunjukkan reaksi signifikan terkait shutdown, dan fokus investor lebih ke faktor domestik, bahkan ditutup menguat dan mencapai all time high.
Pelemahan rupiah dan ketidakpastian kebijakan fiskal pasca-reshuffle kabinet lebih mempengaruhi minimnya aliran dana asing ke pasar saham Indonesia. Investor asing cenderung hati-hati menunggu kejelasan kebijakan fiskal pemerintah baru dan implementasi stimulus. Analis IPOT menyoroti kekhawatiran government shutdown AS yang berpotensi merugikan ekonomi AS secara keseluruhan.
