Saham blue chip kehilangan taji, asing angkat kaki hingga depresiasi rupiah membebani

 

Rancak Media – , JAKARTA – Sederet saham blue chip kehilangan tenaganya sepanjang 2025 dan terkalahkan (underperform) dari saham-saham viral milik konglomerat. Kombinasi rotasi investasi dan hengkangnya investor asing telah membuat koreksi terhadap saham-saham berfundamental solid Tanah Air.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai bahwa tergerusnya kinerja saham blue chip sepanjang 2025 lebih dipicu oleh sentimen global yang risk-off dan depresiasi rupiah yang terjadi belakangan. Rupiah sendiri telah terdepresiasi sebesar 2,33% YtD ke level Rp16.670 per dolar AS.

Alhasil, aksi jual asing tercatat di saham blue chip. Koreksi saham-saham ini tampak dari kinerja saham perbankan besar, seperti BBRI yang terkoreksi 7,35%, BMRI terkoreksi 12,46%, hingga BBCA terkoreksi 14,21%. Hanya BBNI yang masih mencatatkan pertumbuhan tipis 2,07% YtD.

“Koreksi saham blue chip utama pada 2025 termasuk Himbara dan BBCA, disebabkan oleh aksi jual asing yang masif, dipicu oleh sentimen pasar global yang risk-off dan depresiasi rupiah,” katanya, Senin (15/12/2025).

: Prospek Cuan Blue Chip 2026, Mampu Bersaing dengan Saham Konglomerat?

Pada saat yang bersamaan, Abida mencatat terjadi pergeseran pola penggerak pasar. Sepanjang tahun ini, IHSG lebih digerakkan oleh saham mid-cap, komoditas, dan saham konglomerat yang dinilai memiliki cerita yang menarik.

Di tengah likuiditas ritel dalam negeri yang kuat, saham-saham dengan story yang menarik lebih diminati oleh investor ritel. Alhasil, kombinasi kepergian asing dan ketertarikan investor ritel dalam negeri terhadap saham konglomerat menjadi gambaran pasar modal saat ini.

Hal itu tampak dari saham Prajogo Pangestu yang kompak menguat sepanjang tahun berjalan 2025. PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) misalnya, telah menguat 2,43% YtD, PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) terbang 291,30%, PT Chandra Daya Investasi Tbk. (CDIA) terbang 868,42%, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) terbang 111,71% YtD.

Selain itu, saham Happy Hapsoro seperti PT Bukit Uluwatu Villa Tbk. (BUVA) juga telah terbang 2.610% YtD dan PT Sanurhasta Mitra Tbk. (MINA) telah terbang hingga 938,30% YtD.

“Pergeseran ini menunjukkan kehati-hatian investor asing terhadap makro domestik, sementara likuiditas ritel yang kuat mendorong saham-saham dengan narasi pertumbuhan,” katanya.

Senada, Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi juga menilai bahwa koreksi yang terjadi terhadap saham blue chip lebih disebabkan oleh aksi net sell asing yang membengkak serta pertumbuhan pendapatan fundamental yang melambat.

Belum lagi, valuasi saham blue chip pada awal 2025 masih tergolong mahal. Hal itu yang membuat investor lebih memilih saham dengan pertumbuhan yang cenderung lebih cepat.

“Koreksi blue chip pada 2025 terjadi karena market shifting. Investor domestik mengejar saham-saham konglomerasi yang memiliki story, likuiditas besar, dan upside cepat,” katanya, Senin (15/12/2025).

Meskipun begitu, Wafi menilai bahwa peluang penguatan saham blue chip pada 2026 terbuka lebar. Hal itu menyusul valuasi yang lebih murah, ekspektasi pemangkasan suku bunga lanjutan, hingga rotasi investor ke saham dengan fundamental yang baik.

“Himbara, BBCA, consumer staples, dan kesehatan berpeluang balik jadi penentu arah IHSG karena earnings visibility lebih kuat,” katanya.

Bank Central Asia Tbk. – TradingView

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Baca Juga

Rancak

Saya seorang penulis konten dengan pengalaman di bidang SEO, teknologi, dan keuangan. Saya berspesialisasi dalam membuat konten yang menarik dan ramah mesin telusur yang membantu mengarahkan lebih banyak lalu lintas ke situs web. Saya telah membantu banyak klien mencapai tujuan mereka untuk meningkatkan visibilitas mereka secara online, meningkatkan peringkat situs web mereka di mesin telusur, dan membuat konten menarik yang mendorong jumlah pembaca.