
Rancak Media – , JAKARTA — Indikasi pelonggaran moneter The Fed pada akhir tahun ini diproyeksikan menjadi titik balik arus modal global. Pasar obligasi Indonesia pun berpeluang kembali dibanjiri capital inflow dari investor asing.
Adapun, The Fed memberi sinyal akan mengakhiri kebijakan quantitative tightening (QT) mulai 1 Desember 2025. QT merupakan kebijakan pengetatan neraca The Fed dengan cara mengurangi kepemilikan obligasi pemerintah dan surat utang beragunan hipotek untuk menyerap likuiditas. Dengan demikian, bila kebijakan ini dihentikan, The Fed akan beralih ke fase netral atau ekspansif, yang menandakan likuiditas global akan kembali meningkat.
Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto, menilai, sentimen pelonggaran moneter oleh The Fed dengan mengakhiri kebijakan QT, akan memberikan peluang masuknya dana asing ke pasar emerging market, salah satunya Indonesia.
Dengan begitu, catatan net sell asing senilai Rp27,56 triliun di pasar SBN pada Oktober 2025, diprediksi akan membaik pada akhir 2025. Bahkan, jika kebijakan ini berlangsung dengan cukup panjang, Ramdhan memprediksi net buy di pasar surat utang Tanah Air bisa terjadi.
“Tapi dengan pencabutan QT tadi, membuka peluang kembali, dana-dana asing yang selama ini banyak masuk di portofolio AS, mulai menyebar ke emerging market termasuk Indonesia,” tegas Ramdhan saat dihubungi, Kamis (13/11/2025).
Belum lagi, jika dibandingkan negara emerging market lainnya, Ramdhan menilai bahwa Indonesia memiliki posisi yang strategis. Hal tersebut tampak dari pasar surat utang Tanah Air yang lebih memiliki ketahanan dibandingkan negara lain. Hal tersebut terjadi lantaran investor institusi domestik mendominasi pasar SBN.
: : Sinyal Dovish The Fed Goyang Pasar Kripto, BTC Diramal Tembus US$110.000
Saat ini, yield obligasi negara bertenor 10 tahun di Indonesia telah berada di level 6,11%. Hal ini menunjukkan bahwa sempat terjadi pelemahan terhadap pasar SBN Tanah Air yang pada 17 Oktober lalu sempat mencatatkan yield sebesar 5,92%. Meskipun begitu, kondisi imbal hasil Indonesia masih lebih baik dibandingkan yield India sebesar 6,51%.
Ramdhan bahkan memprediksi, hingga 2025, potensi penguatan terhadap imbal hasil obligasi masih akan berlanjut. Ramdhan meramal, yield SBN bertenor 10 tahun akan terparkir di level 6% hingga penghujung 2025.
: : Pejabat The Fed Ragu Lanjutkan Pemangkasan Bunga Imbas Government Shutdown
“Saya lihat kalau dalam kondisi ini, terlebih tekanan asingnya mereda gitu, saya melihat ini akan ada potensi penguatan. Walaupun memang ya tadi, mencapai 6% lah menurut saya masih memungkinkan,” tegas Ramdhan.
Senada, Portfolio Manager/Analyst Batavia Prosperindo Aset Manajemen Putri Nur Astiwi, menilai bahwa kendati penghentian kebijakan ini berpotensi meningkatkan likuiditas dan memberikan sentimen positif bagi negara emerging market, tetapi besarnya aliran dana asing yang masuk akan sangat bergantung pada kondisi perekonomian dalam negeri.
Beberapa data makroekonomi domestik yang bakal menjadi daya tarik investor asing, menurut Putri, antara lain stabilitas nilai tukar rupiah, kejelasan komunikasi kebijakan domestik, kredibilitas defisit, hingga independensi Bank Indonesia.
“Besarannya aliran masuk akan data-dependent dan sentiment-driven. Normalisasi pemerintahan AS pasca-shutdown membantu, tetapi persepsi risiko dan sentimen terhadap Indonesia tetap menjadi penentu minat asing,” tegas Putri, Kamis (13/11/2025).
Tantangan Inflow Dana Asing
Menurut Putri, kondisi ini harus dimanfaatkan oleh pemerintah untuk menjaga sentimen asing terhadap pasar Indonesia tetap membaik. Dengan begitu, dana asing disebut berpeluang bertahan lebih lama di pasar SBN pada 2026.
Meskipun begitu, sejumlah tantangan masih menghantui potensi masuknya dana asing ke pasar domestik, antara lain data ekonomi AS yang kembali menguat, sehingga mendorong pengetatan kebijakan moneter, hingga ketidakpastian kebijakan domestik, seperti independensi BI dan arah kebijakan fiskal.
“Jika setelah penghentian QT, The Fed mampu menjaga kondisi finansial tetap longgar dan volatilitas treasury AS tetap rendah, serta sentimen terhadap Indonesia membaik, maka dana asing berpeluang bertahan lebih lama di pasar SBN pada 2026,” katanya.
Sementara itu, Ekonom KB Valbury Sekuritas Fikri C. Permana, menerangkan bahwa untuk mengharapkan dana asing di pasar SBN bertahan di dalam negeri, risiko berinvestasi mesti bisa diminimalisasi oleh pemerintah. Beberapa hal antara lain stabilitas nilai tukar rupiah, defisit fiskal yang lebih rendah, hingga pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
“Yang perlu juga dilihat adalah risiko dari ekonomi kita secara keseluruhan juga harus lebih rendah dibandingkan US, seperti risiko inflasi bisa lebih rendah atau pertumbuhan ekonominya lebih tinggi,” katanya, Kamis (13/11/2025).
Pasalnya, Fikri menilai bahwa selama ini, volatilitas rupiah masih terjadi, lantaran didorong current account yang masih defisit selama sembilan bulan berturut-turut. Hal itu yang dinilai menjadi salah satu pertimbangan investor global untuk menginvestasikan dananya di pasar domestik. Belum lagi, Fikri menilai bahwa kepastian hukum terhadap praktik berinvestasi di Indonesia belum begitu kuat.
Di tengah kondisi ini, Fikri memprediksi net buy masih bisa dicapai oleh pasar SBN Tanah Air hingga penghujung 2025. Namun, net buy yang tercatat akan minim lantaran defisit fiskal yang melebar.
“Saya harap begitu [net buy], apalagi jika nanti The Fed turunkan rate tanggal 10, lebih cepat dibandingkan Indonesia. Biasanya di situ interest rate differential-nya nambah 25 bps, harusnya Indonesia dirasa lebih prospektif dibandingkan US,” katanya.
_______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual obligasi. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
