Bisnis.com, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) baru-baru ini mencetak rekor all time high (ATH) yang mengesankan, bahkan saat investor asing secara konsisten melakukan net sell atau aksi jual bersih senilai Rp52,8 triliun sepanjang tahun berjalan (year to date/YTD). Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting: kekuatan apa yang sebenarnya menjadi penggerak utama penguatan IHSG di tengah derasnya arus keluar dana asing?
Menjawab pertanyaan tersebut, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menjelaskan bahwa meskipun investor asing mencatatkan net sell yang signifikan, IHSG tetap mampu membukukan rekor penguatan baru. Hal ini, menurut Nico pada Rabu (24/9/2025), mengindikasikan pergerakan aktif dari institusi dalam negeri. “Ini menjadi cerminan bahwa bursa kita tidak lagi bergantung dengan inflow [arus dana masuk] asing, meskipun inflow tetap penting dalam pergerakan pasar,” ujarnya, menyoroti kemandirian pasar modal Indonesia yang semakin kuat.
Penguatan IHSG yang berkelanjutan, disertai peningkatan nilai transaksi harian, menjadikan pasar modal Indonesia kian menarik di mata pelaku pasar. Nico menambahkan, beberapa sentimen positif turut memberikan dorongan signifikan. Kehadiran Menteri Keuangan yang baru dengan program-programnya, serta kebijakan pro-pertumbuhan dari Bank Indonesia yang berani memangkas tingkat suku bunga, menjadi faktor-faktor pendorong utama.
Harapan untuk pertumbuhan lebih lanjut juga kian membumbung tinggi, terutama jika The Fed (bank sentral Amerika Serikat) memutuskan untuk memangkas tingkat suku bunga. Langkah tersebut akan memberikan ruang gerak yang lebih besar bagi Bank Indonesia untuk melakukan pemangkasan suku bunga lanjutan menjelang akhir tahun, yang berpotensi memicu stimulus ekonomi dan investasi.
Kendati demikian, Nico juga mengingatkan adanya tantangan. Dengan posisi IHSG yang sudah cukup tinggi dan beberapa saham yang telah bergerak naik, pelaku pasar dan investor cenderung bersikap wait and see, menanti potensi penurunan harga sebelum kembali masuk. “Kekhawatiran akan koreksi juga menjadi perhatian, karena untuk dapat naik lebih tinggi, dibutuhkan koreksi terlebih dahulu,” imbuhnya, menekankan bahwa koreksi sehat seringkali menjadi prasyarat untuk lonjakan yang lebih besar.
Sebagai bukti nyata meningkatnya aktivitas, nilai transaksi harian Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat melonjak drastis sejak akhir pekan lalu. Pada Jumat (19/9/2025), misalnya, nilai transaksi Bursa mencapai Rp69 triliun, yang didominasi oleh aktivitas tutup sendiri atau crossing. Peningkatan ini berlanjut pada awal pekan ini dengan total transaksi sebesar Rp22 triliun, kemudian naik lagi menjadi Rp31 triliun pada Selasa (23/9/2025). Hari ini, Rabu (24/9/2025), nilai transaksi bursa bahkan menyentuh angka Rp38 triliun, jauh melampaui rata-rata nilai transaksi harian BEI yang biasanya berkisar antara Rp13 triliun hingga Rp14 triliun.
Ringkasan
IHSG baru-baru ini mencetak rekor tertinggi (all-time high) meskipun investor asing mencatatkan aksi jual bersih signifikan sebesar Rp52,8 triliun sepanjang tahun. Kekuatan pendorong utama penguatan ini berasal dari aktivitas institusi dalam negeri, menunjukkan kemandirian pasar modal Indonesia yang tidak lagi terlalu bergantung pada arus dana asing. Sentimen positif dari kebijakan pro-pertumbuhan pemerintah dan Bank Indonesia, termasuk potensi pemangkasan suku bunga, turut mendukung kinerja IHSG.
Meski ada potensi pertumbuhan lanjutan, pelaku pasar cenderung bersikap “wait and see” mengingat posisi IHSG yang sudah tinggi dan kekhawatiran akan koreksi harga sehat. Namun, nilai transaksi harian Bursa Efek Indonesia telah melonjak drastis, jauh melampaui rata-rata normal, menandakan peningkatan aktivitas dan minat pasar yang kuat.
