Advertisement

Pemakaian Tehnologi Untuk Jaga Kekayaan Adat

www.rancakmedia.com – Waktu sekarang ini tidak bisa dipungkiri. Kita harus tetap diterima tanpa hilangkan kebudayaan bangsa Indonesia.

Seiring berjalannya waktu, adat dan budaya bisa mengikut pengubahan. Akan tetapi, akar budaya diinginkan tak pernah berbeda.

Menyaksikan perubahan tehnologi dan budaya di Indonesia, Kantor Pengajaran Bahasa dan Kebudayaan Kampus Atma Jaya Yogyakarta (KPBB UAJY) melangsungkan talk show budaya bertema “Optimasi Budaya di Teritori Digital”.

Dosen Fakultas Pengetahuan Sosial dan Pengetahuan Politik UAJY Desideria Cempaka Wijaya Murti menerangkan jika jagat maya sebagai representasi spasial dari satu lingkungan maya.

Harmonisasi Budaya Dan Tehnologi

Dengan keinginan dunia bisa diinterpretasikan dan dirasakan oleh beberapa peserta di saat yang bertepatan, diwakilkan oleh simbol-simbol alternatif seperti virtual 3D dan virtual tur. “Saat ini kita bergerak ke arah tehnologi yang terpusat pada manusia.

Dari sisi budaya, angkatan muda perlu meningkatkan apa yang disebutkan kapabilitas budaya, “kata Desideria dalam info tercatat yang diterima Kompas.com, Senin (29 Maret 2021). Disamping itu, angkatan muda perlu tingkatkan kesadaran akan tehnologi.

Ke-2 hal itu diinginkan bisa dilaksanakan oleh anak muda dengan arah untuk menyeimbangi budaya dengan tehnologi.

Dalam peluang itu, salah satunya Putri Kraton Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu Hayu menerangkan jika budaya tidak dapat diambil pindah oleh orang asing sepanjang kita sebagai pemiliknya masih jaga budayanya. “Akses budaya harus gampang dijangkau,” kata GKR Hayu.

Jaga Adat Keraton Yogyakarta

GKR Hayu sebagai perlindungan Tepas Tandha Yekti mempunyai visi untuk jaga kekayaan adat lewat pendayagunaan tehnologi.

Menurut dia, ada digitalisasi jadikan kebudayaan Keraton Yogyakarta sebagai perpustakaan digital yang memuat bermacam dokumen digital.

“Maksudnya supaya manuskripnya terbangun secara baik, dan kebalikannya diinginkan tiap orang masih mempunyai akses pada dokumen itu,” kata GKR Hayu. Disamping itu, digitalisasi menolong Keraton Yogyakarta simpan beberapa foto seperti atraksi wayang.

Ambil photo dengan watak dan Gaya Menurut Keinginannya bisa memvisualisasikan watak asli dari boneka itu. Modernisasi bukan bermakna westernisasi, tandas GKR Hayu.

Rektor UAJY Prof Yoyong Arfiadi menambah, aktivitas ini diinginkan bisa memberikan dukungan dan tumbuhkan kesadaran akan konservasi budaya. “Jika bukan kita, siapa kembali yang bertanggungjawab. Tidak boleh terkejut jika kebudayaan kita perlahan-lahan lenyap dan mendadak kita sadar jika kita ada pada status yang telah susah dipulihkan,” lebih Yoyong.

Tombol kembali ke atas