Advertisement

6 Referensi Rakornas Untuk Pengokohan Minat Baca

www.rancakmedia.com – Rapat Kerja Nasional atau Rakornas Sektor Perpustakaan 2021 yang diadakan oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas) 23/3/2021 dengan beberapa referensi pengokohan literasi.

Rapat koordinasi nasional bertopik “Pengokohan budaya literasi segi hilir dan hulu dalam perbaikan perekonomian dan reformasi sistematis” sudah berjalan semenjak Senin, 22 Maret 2021 dan didatangi lebih dari sepuluh ribu peserta dari pustakawan, Literasi, Aktivis, Media, Penerbit sampai perwakilan kementerian / instansi.

“Banyak hal yang kami lihat dari beberapa pembicara masih memiliki sifat classic, seperti belum ada angka kecukupan koleksi yang bagus, tenaga perpustakaan yang masih belum rata, akses service perpustakaan yang masih belum rata, dan fasilitas prasarana perpustakaan yang ada belum penuhi standard perpustakaan nasional. ” kata Kepala Perpustakaan Nasional, Muhammad Syarif Bundo.

Disamping itu, masih ada beberapa rintangan, dimulai dari keterlibatan warga yang masih belum maksimal dalam peningkatan perpustakaan, kebatasan bujet untuk peningkatan perpustakaan dan literasi warga, sampai implikasi peraturan perpustakaan yang masih belum mencukupi oleh pemda.

Kaperpusnas menjelaskan, hasil Rakornas ini akan dipakai untuk hasilkan laporan komplet tatap muka peraturan, pegiat dan sesion diskusi dengan keseluruhan 17 raungan, dan hasil referensi Rapat koordinasi Perpusnas tahun 2021 sebagai bahan dasar hari esok mengenai peningkatan perpustakaan.

Beberapa referensi Rapat koordinasi Perpustakaan Nasional diantaranya:

1. Kolaborasi perolehan sasaran index literasi

Perpustakaan Nasional, Perpustakaan Umum, Perpustakaan Perguruan Tinggi, Perpustakaan Sekolah dan Perpustakaan Khusus, dan Kementerian yang merajut kolaborasi lintasi kementerian / instansi, pemda. , bidang swasta dan khalayak.

Kolaborasi ini mempunyai tujuan untuk tingkatkan budaya literasi, pengembangan dan kreasi sebagai pilar perolehan warga Indonesia yang berkualitas dan memiliki daya saing. Karena itu, target vital pembangunan nasional sektor perpustakaan di tahun 2022 ialah merealisasikan literasi dan hoby membaca warga dengan target membaca 63,3 (sedang) dan index peningkatan literasi warga 13 (cukup).

2. Prestasi Perpustakaan Propinsi dan Kabupaten / Kota

Perpustakaan Propinsi dan Kabupaten / Kota merangkum program dan aktivitas yang menggerakkan perolehan masalah perpustakaan, yakni: Tingkat hoby membaca warga bertambah dengan tanda nilai warga Tingkat Hoby Membaca; Keaksaraan warga bertambah dengan tanda bertambahnya Index Peningkatan Keaksaraan Warga.

3. Pemenuhan tingkat kecukupan staff perpustakaan

Perpustakaan nasional, perpustakaan umum, perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan sekolah / madrasah, dan perpustakaan khusus berusaha untuk tingkatkan kecukupan staff perpustakaan dengan mengambil, melalui, dan tingkatkan staff perpustakaan dengan menyarankan pengangkatan staff PPPK di Kementerian PANRB. dikoordinasikan oleh Perpustakaan Nasional.

4. Realisasi Perpustakaan Inklusi Sosial

Perpustakaan Propinsi dan Kabupaten / Kota berusaha tingkatkan utilitas perpustakaan inklusi sosial lewat simulasi / peluasan daerah dan jaringan baru antar aktor alih bentuk perpustakaan dan jaringan dengan faksi swasta atau faksi berkaitan yang lain Membuat penopang kebutuhan untuk tingkatkan yang berbentuk faedah perpustakaan dalam masyarakat.

5. Peranan ASN dan pendayagunaan Perpustakaan Tehnologi Info

Nasional, Perpustakaan Umum, Perpustakaan Perguruan Tinggi, Perpustakaan Sekolah dan Perpustakaan Khusus untuk perkuat peranan ASN sebagai agen literasi dengan jadi mesin dan perintis dalam mempromokan dan meningkatkan budaya literasi dalam masyarakat di Umum.

Ini dipropagandakan lewat pendayagunaan instansi perpustakaan dan mengoptimalkan pemakaian tehnologi info untuk meningkatkan budaya literasi warga dan percepat terbentuknya warga literasi.

6. Kolaborasi Pustakawan dan Pengajar

Pustakawan untuk bersinergi dengan guru dalam meningkatkan sistem evaluasi aktif untuk tingkatkan ketrampilan dan memikir krisis pelajar di Zaman Industri 4.0 dan evaluasi jarak jauh.

Related Articles

Back to top button