Asing Masuk Emerging Market, Pasar Saham RI Nikmati Net Buy Rp2,02 Triliun dalam Sehari

 

Rancak Media – , JAKARTA — Pasar saham Indonesia kembali menikmati aliran masuk modal asing (foreign capital inflow) pada kuartal IV/2025 yang mengguyur pasar negara berkembang atau emerging market.

Pada awal pekan ini saja, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat beli bersih atau net buy dari investor asing mencapai Rp2,02 triliun pada Senin (6/10/2025). Deretan saham besutan taipan Prajogo Pangestu seperti PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) hingga PT Chandra Daya Investasi Tbk. (CDIA) banyak diborong asing.

Sejak awal tahun, memang pasar saham Indonesia masih mencatatkan nilai jual bersih atau net sell asing sebesar Rp54,68 triliun.

Aset pasar negara berkembang diperkirakan akan menutup tahun ini dengan hasil yang kinclong, seiring dengan ekspektasi investor bahwa arus masuk dana ke saham dan obligasi di emerging market akan semakin deras mengalir di kuartal terakhir.

: Investor Asing Net Buy Rp2,02 Triliun, Borong Saham Prajogo Pangestu CUAN, CDIA Cs

Survei HSBC Holdings Plc. menunjukkan bahwa para manajer investasi di pasar berkembang saat ini berada di posisi paling optimistis sejak awal 2021. Para ahli strategi dari Goldman Sachs Group Inc. menyatakan bahwa pasar negara berkembang saat ini “tumbuh dan bukan sekadar bertahan,” karena pertumbuhan ekonomi tahun ini melampaui ekspektasi meskipun di tengah kenaikan tarif impor AS.

Sebagai gambaran awal dari tren yang mungkin berlanjut, Bloomberg mencatat arus masuk ke reksa dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) pasar berkembang mulai meningkat di akhir kuartal III/2025.

Aset emerging market saat ini mendapat dorongan dari berbagai faktor positif yang menjanjikan prospek cerah dalam beberapa bulan ke depan. Beberapa di antaranya seperti siklus pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve yang memberikan ruang bagi bank sentral negara berkembang untuk melonggarkan kebijakan moneter.

Di sisi lain, pelemahan dolar AS mendorong rotasi dari aset AS ke pasar lain. Kenaikan saham di China juga berpotensi meningkatkan sentimen terhadap pasar negara berkembang secara umum.

Jon Harrison, Direktur Pelaksana Strategi Makro EM di GlobalData TS Lombard, mengatakan prospek untuk sisa tahun ini cukup positif bagi saham karena membaiknya proyeksi pertumbuhan dan stimulus dari China. Sedangkan bagi obligasi lokal juga menguntungkan karena bank sentral negara berkembang terus memangkas suku bunga dari level riil dan nominal yang masih tinggi.

“Arus dana masuk ke aset emerging market diperkirakan akan kuat dan mendukung mata uang negara-negara tersebut,” kata Harrison, dikutip Bloomberg pada Senin (6/10/2025).

Sebelumnya, Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengatakan terdapat peluang masuknya aliran dana asing pada kuartal IV/2025 didorong oleh sejumlah sentimen positif.

“Jadi, untuk kuartal IV/2025 kuncinya ada di dinamika window dressing hingga santa clause rally effect,” kata Nafan kepada Bisnis.

Window dressing merupakan strategi yang digunakan oleh manajer investasi untuk meningkatkan penampilan kinerja saham atau reksa dana sebelum disajikan kepada investor atau pemegang saham. Adapun, santa claus rally merujuk kepada kondisi nilai pasar saham yang cenderung melesat selama pekan terakhir Desember. 

Selain itu, Nafan mengatakan terdapat pula dorongan dari saham-saham dengan likuiditas tinggi yang akan membagikan dividen interimnya pada akhir tahun. Momentum pembagian dividen interim itu menurutnya mampu mendongkrak aliran dana asing.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Baca Juga

nafa cahyani

Saya merupakan seorang content writer SEO, Teknologi, Finansial, Wisata, Resep Masakan dan lain-lain, Semoga dapat bermanfaat untuk teman semua.