Rancak Media – , JAKARTA – Di tengah bayang-bayang fenomena musiman yang dikenal sebagai September Effect pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), sejumlah sektor saham justru dipandang masih menyimpan potensi cuan yang menjanjikan bagi para investor. Meskipun histori menunjukkan kecenderungan pelemahan indeks di bulan kesembilan dari tahun ke tahun, para analis melihat peluang yang berbeda di tahun ini.
Arifin, seorang analis dari Reliance Sekuritas, menyoroti sektor perbankan sebagai pilihan utama. Ia menegaskan bahwa perbankan adalah jantung perekonomian. Dengan prospek penurunan suku bunga, sektor ini diproyeksikan akan mendapat implikasi positif yang signifikan. Prospek sektor perbankan semakin kuat didukung oleh ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed yang dijadwalkan pada 17 September mendatang. Di ranah domestik, Bank Indonesia (BI) juga diperkirakan masih memiliki ruang untuk melakukan pelonggaran moneter.
Meskipun data pasar menunjukkan kinerja saham finansial sejak awal tahun hingga 3 September baru naik 4,67%, dan bahkan saham-saham unggulan seperti BBCA serta BMRI masih menjadi ‘top laggards’ IHSG, Arifin justru melihat ini sebagai sebuah kesempatan. Menurutnya, posisi tersebut memberikan ruang rebound yang menarik di masa depan, menjadikannya momen yang tepat untuk akumulasi.
Selain perbankan, sektor energi baru terbarukan (EBT) juga dinilai sangat menjanjikan. Sentimen utama datang dari fokus pemerintahan Prabowo yang memasukkan energi bersih sebagai proyek strategis nasional (PSN). Reliance Sekuritas merekomendasikan saham-saham seperti TOBA, BREN, dan PGEO dalam daftar pilihannya. Sebaliknya, saham migas dipandang kurang prospektif. Rencana OPEC untuk meningkatkan produksi berpotensi menekan harga minyak global, dengan proyeksi hanya bertahan di kisaran US$65 per barel tahun ini. Arifin juga menyoroti saham properti yang berpotensi mendapat angin segar dari stimulus pemerintah untuk sektor perumahan, yang diyakininya akan memberikan implikasi positif ke depan.
Arifin menjelaskan bahwa September Effect tahun ini berbeda dengan periode sebelumnya karena ditopang oleh ekspektasi pemangkasan Fed Rate. Kondisi ini berpotensi memicu pergeseran aliran dana asing dari obligasi ke saham domestik, memberikan dorongan positif bagi pasar modal Indonesia. Ia juga menambahkan bahwa fundamental emiten-emiten di Indonesia cukup tangguh dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global, terbukti dari konsistensi pembagian dividen, berbeda dengan tren sejumlah emiten global. “Kesimpulannya, kita tetap positif. Kalau nanti pasar turun, justru jadi kesempatan beli. Karena biasanya siklus Oktober itu positif dan bisa jadi momentum take profit,” jelas Arifin dalam sebuah forum webinar pada Kamis (4/9/2025).
Sementara itu, JP Morgan sebelumnya telah memproyeksikan IHSG dapat bergerak di rentang 7.500–8.000 hingga akhir 2025, memberikan konteks optimisme jangka panjang di tengah dinamika bulanan.
Namun, Martha Christina, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, mengingatkan akan historis September Effect yang memang rawan koreksi. Dalam 10 tahun terakhir, IHSG tercatat hanya dua kali menguat dan delapan kali melemah di bulan September, dengan rerata penurunan 1,8%. Menurut Martha, selain keputusan The Fed, pasar juga akan mencermati data penting lainnya seperti Non-Farm Payroll AS pada 5 September, inflasi AS pada 11 September, serta pengumuman suku bunga acuan BI pada 17 September. Dengan banyaknya sentimen yang beredar, Martha memperkirakan IHSG berisiko melemah pada September 2025. “Pemangkasan Fed Rate sebenarnya sudah price in di pasar. Jadi, sentimen politik, keamanan, dan sosial masih bisa memicu aksi ambil untung,” pungkasnya, memberikan pandangan yang lebih berhati-hati.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
