
Rancak Media – JAKARTA – Sektor pariwisata Indonesia menunjukkan geliat positif di pasar modal. Sejumlah emiten yang bergerak dalam industri ini mengalami penguatan signifikan pada harga saham mereka menyusul rilis data kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada Senin (1/9/2025). Lonjakan ini menjadi sinyal optimisme bagi para investor terhadap prospek pemulihan dan pertumbuhan sektor pariwisata nasional.
Pada perdagangan sesi I hari Selasa (2/9/2025), saham PT Bukit Uluwatu Villa Tbk. (BUVA) memimpin dengan kenaikan 4,09% mencapai Rp356 per lembar. Performa impresif BUVA tidak hanya terjadi dalam sehari, melainkan telah menunjukkan peningkatan harga saham sebesar 513,79% sepanjang tahun berjalan 2025 (YtD), mencerminkan kepercayaan pasar yang kuat.
Tak hanya BUVA, PT Sanurhasta Mitra Tbk. (MINA) juga turut menikmati keuntungan dengan kenaikan harga saham sebesar 2,22% menjadi Rp184 pada jeda perdagangan hari ini. Angka ini sekaligus mengukuhkan pertumbuhan harga saham MINA sebesar 291,49% secara YtD. Emiten pariwisata lainnya, seperti PT Hotel Fitra International Tbk. (FITT) dan PT Jakarta International Hotels & Development Tbk. (JIHD), juga mencatatkan penguatan masing-masing 5,52% dan 5,11% pada perdagangan hari ini. Sementara itu, PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk. (PJAA) menguat 3,24% ke level Rp510.
Di tengah deretan emiten yang menguat, saham Grup MNC melalui PT MNC Tourism Indonesia Tbk. (KPIG) tidak ketinggalan, tercatat menguat 1,11% ke Rp182 per lembar. Kenaikan ini menambah panjang rekor positif KPIG yang telah naik 22,15% YtD. Penguatan harga saham ini secara keseluruhan menunjukkan respons positif pasar terhadap indikator makroekonomi di sektor pariwisata.
Rancak Media : Malaysia Dominasi Kunjungan Wisman Juli 2025, China Cetak Pertumbuhan Tertinggi
Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengonfirmasi adanya korelasi kuat antara kenaikan harga saham di sektor pariwisata dengan data BPS yang baru dirilis. Menurut data BPS, pada Juli 2025, kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia mencapai 1,48 juta kunjungan. Angka ini menandai kenaikan yang solid, yakni 4,62% secara bulanan (MoM) dan melonjak 13,01% secara tahunan (YoY). Wisman yang berkunjung didominasi oleh warga negara Malaysia sebesar 14,32%, disusul Australia 11,69%, dan Tiongkok 9,76%.
Rancak Media : Menpar Widiyanti Pamer Kunjungan Wisman Naik 9,44% Semester I 2025
Tidak hanya dari mancanegara, sektor perjalanan domestik juga menunjukkan performa yang membanggakan. Selama periode Januari–Juli 2025, jumlah perjalanan wisatawan domestik di Indonesia mencapai 713,98 juta perjalanan, meningkat 19,25% dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Data komprehensif ini menegaskan bahwa sektor pariwisata, baik internasional maupun domestik, sedang dalam tren pertumbuhan yang menjanjikan. “Adapun harga saham-saham di industri pariwisata yang mengalami kenaikan, terdapat hubungan dengan data positif kunjungan wisman yang disampaikan BPS kemarin,” jelas Nafan.
Rancak Media : Jumlah Wisman Juni 2025 Tembus 1,42 Juta Orang, Terbanyak dari Malaysia
Meskipun demikian, Nafan Aji Gusta memberikan pandangan yang lebih berhati-hati. Ia secara khusus tidak merekomendasikan saham-saham di industri pariwisata untuk investasi, mengingat beberapa pertimbangan penting. Menurutnya, saham di sektor ini cenderung kurang likuid, serta fundamental perusahaan-perusahaan terkait belum sepenuhnya solid. Faktor kapitalisasi pasar yang relatif kecil juga menjadi salah satu alasannya.
Sebagai contoh, BUVA mencatatkan market cap senilai Rp7,33 triliun, MINA sebesar Rp1,81 triliun, dan PJAA sebesar Rp816 miliar. Hanya KPIG yang memiliki kapitalisasi pasar yang lebih besar, mencapai Rp17,75 triliun. “[Saham di industri pariwisata] tidak likuid, fundamentalnya pun juga belum bagus, serta market cap relatif kecil,” pungkas Nafan, mengingatkan investor untuk tetap cermat dalam mengambil keputusan investasi.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Ringkasan
Sektor pariwisata Indonesia menunjukkan geliat positif di pasar modal, ditandai dengan penguatan saham beberapa emiten seperti BUVA, MINA, dan KPIG. Kenaikan ini menyusul rilis data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Senin (1/9/2025) yang menunjukkan lonjakan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). Pada Juli 2025, kunjungan wisman mencapai 1,48 juta, naik 4,62% secara bulanan dan 13,01% secara tahunan, didominasi oleh warga negara Malaysia, Australia, dan Tiongkok.
Selain kunjungan wisman, perjalanan wisatawan domestik juga tumbuh signifikan mencapai 713,98 juta perjalanan pada Januari–Juli 2025. Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengonfirmasi korelasi antara kenaikan saham pariwisata dengan data positif ini. Meskipun demikian, Nafan tidak merekomendasikan saham sektor pariwisata untuk investasi karena cenderung kurang likuid, fundamental yang belum sepenuhnya solid, dan kapitalisasi pasar yang relatif kecil.
