IHSG Bangkit dari Panic Selling: Momentum Investasi atau Masih Rawan?

 

Bisnis.com, JAKARTA — Gejolak di pasar modal akibat aksi panic selling pascademonstrasi yang berakhir bentrok mulai menunjukkan tanda-tanda mereda pada Senin (1/9/2025). Meskipun demikian, laju penguatan pasar masih sangat bergantung pada kepastian yang akan diberikan oleh pemerintah.

Pada sesi pembukaan pagi hari, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terperosok tajam, anjlok hingga -3,31% ke level 7.571. Namun, seiring berjalannya waktu, tekanan jual perlahan berkurang, memungkinkan indeks gabungan untuk memperkecil kerugian harian menjadi -1,21%, menutup perdagangan di level 7.736,06. Performa ini menunjukkan adanya pemulihan parsial meskipun pasar masih diselimuti nuansa kehati-hatian.

Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Investment and Research Pilarmas Investindo Sekuritas, menyoroti bahwa situasi dan kondisi saat ini masih cenderung kurang kondusif. Di tengah ketidakpastian ini, Presiden Prabowo Subianto telah menyampaikan pandangannya dan tengah merumuskan langkah-langkah strategis yang akan diambil oleh pemerintah berikutnya.

Menurut Nico, fokus utama investor dan pelaku pasar modal saat ini adalah menantikan kejelasan mengenai kebijakan pemerintah yang akan ditetapkan. “Pertanyaan berikutnya adalah kebijakan seperti apa sih yang akan diambil oleh pemerintah? Kebijakan mana yang benar untuk dilakukan dan pastinya memberikan dampak bagi perekonomian dan bagi masyarakat secara luas, hal ini yang akan dinantikan sebetulnya,” ujarnya pada Senin (1/9/2025).

Lebih lanjut, Nico menjelaskan bahwa meskipun aksi panic selling telah mereda, pasar masih diselimuti spekulasi. Para investor sangat membutuhkan kepastian yang lebih konkret dari pemerintah untuk bisa kembali mengambil sikap yang jelas. Kejelasan tersebut dianggap krusial untuk mengembalikan kepercayaan dan mendorong stabilitas pasar saham.

“Tentu kalau kita perhatikan saat ini sudah mulai tenang tapi belum sepenuhnya mendapatkan kepastian. Oleh sebab itu hari-hari berikutnya akan menentukan arah IHSG selanjutnya,” tambahnya, menegaskan pentingnya perkembangan dalam waktu dekat.

Di tengah suasana yang belum sepenuhnya pasti akibat gejolak politik, Nico melihat beberapa sektor saham masih menarik untuk dicermati. Saham-saham yang berkaitan dengan komoditas emas, seperti ANTM, BRMS, ARCI, dan PSAB, dinilai menjadi pilihan yang cukup menarik bagi investor. Selain itu, saham-saham di sektor konsumer non-cyclical juga patut diperhatikan, mengingat produk-produknya berhubungan langsung dengan kebutuhan pokok masyarakat dan cenderung stabil.

Saham-saham yang punya fundamental bagus, punya potensi valuasi di masa akan datang, dan mengalami koreksi, bisa menjadi pilihan, merupakan kesempatan untuk mulai masuk,” pungkas Nico, memberikan panduan bagi investor yang ingin mencari peluang di tengah volatilitas pasar.

Sementara itu, Analis BRI Danareksa Sekuritas Helmy Kristanto dalam risetnya mengemukakan bahwa dampak demonstrasi terhadap pasar akan sangat tergantung pada durasi kerusuhan. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, dampak pasar akibat protes umumnya bersifat sementara dan kerugian cenderung cepat pulih kembali. Helmy lebih lanjut menekankan bahwa risiko yang lebih besar justru berasal dari kelemahan makroekonomi mendasar, yang sering kali menjadi pemicu utama ketidakpuasan publik.

Helmy mengamati bahwa pasar bereaksi dengan cepat terhadap demonstrasi ini, terutama pada aset-aset berisiko. Meskipun demikian, arus portofolio asing menunjukkan tren positif. BRI Danareksa Sekuritas mencatat inflow mencapai Rp1,5 triliun pada minggu ke-4 Agustus, mendorong total inflow sepanjang bulan (MTD) menjadi Rp11,3 triliun. Angka ini merupakan yang tertinggi dalam 12 bulan terakhir dan berperan membantu menutupi sebagian dari outflow sejak awal tahun (YTD) yang masih tercatat sebesar Rp34,3 triliun.

Meskipun minat investor asing kembali meningkat, sentimen pasar saham secara keseluruhan masih rapuh. Hal ini tercermin dari penurunan IHSG sebesar 0,4% sepanjang pekan, di mana protes yang melanda berbagai kota besar di Indonesia memicu tekanan jual yang signifikan di pasar modal.

Ringkasan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok tajam akibat aksi panic selling pascademonstrasi, namun berhasil pulih sebagian dan menutup perdagangan dengan pelemahan lebih kecil di level 7.736,06. Pemulihan pasar yang lebih solid sangat bergantung pada kepastian dan kebijakan yang akan dikeluarkan oleh pemerintah berikutnya. Investor saat ini menantikan kejelasan mengenai langkah-langkah strategis pemerintah untuk mengembalikan kepercayaan dan menstabilkan pasar.

Meskipun aksi panic selling telah mereda, pasar masih diselimuti spekulasi, dengan investor membutuhkan kepastian konkret. Analis menyarankan investor untuk mencermati saham komoditas emas dan sektor konsumer non-siklis sebagai pilihan menarik di tengah volatilitas. Meskipun dampak demonstrasi biasanya bersifat sementara, aliran portofolio asing menunjukkan tren positif, namun sentimen pasar saham secara keseluruhan masih rapuh.

Baca Juga

nafa cahyani

Saya merupakan seorang content writer SEO, Teknologi, Finansial, Wisata, Resep Masakan dan lain-lain, Semoga dapat bermanfaat untuk teman semua.