IHSG Terkoreksi! BBCA, WIFI, dan RAJA Rontok ke Zona Merah

 

Rancak Media, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan sore ini, Rabu (1/10/2025), dengan pelemahan signifikan, ditutup pada level 8.043,82. Sejumlah saham unggulan, seperti PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI), hingga PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA), terpantau merosot tajam pada hari ini.

Berdasarkan data dari RTI Infokom, IHSG terkoreksi 0,21% dan berhenti di angka 8.043,82. Pergerakan IHSG sepanjang hari ini berada dalam rentang 8.034 hingga 8.093.

Kondisi pasar mencerminkan tekanan jual, dengan sebanyak 378 saham melemah, berbanding 289 saham yang menguat, dan 130 saham stagnan. Akibatnya, kapitalisasi pasar turut menyusut menjadi Rp14.887 triliun.

Penurunan harga saham juga memukul emiten-emiten besar. Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) tercatat anjlok 1,64% ke level Rp7.500 per saham sore ini. Demikian pula, saham afiliasi Hashim Djojohadikusumo, PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI), ambrol 3,20% ke level Rp2.720 per saham.

Cek Peluang Window Dressing Akhir Tahun Saat IHSG Naik Tinggi

Tak ketinggalan, saham PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA), yang terafiliasi dengan Happy Hapsoro, juga melemah 4,73% ke level Rp3.020 per saham pada hari ini. Beberapa saham lain yang turut memasuki zona merah antara lain PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) yang terkoreksi 2,37% ke level Rp2.060, PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) turun 3,10% menjadi Rp625, dan PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) melemah 2,40% ke level Rp9.150 per saham sore ini.

Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas menjelaskan bahwa sentimen negatif yang membebani pasar global bersumber dari kekhawatiran akan potensi penutupan pemerintahan Amerika Serikat (AS). Hal ini terjadi setelah Kongres AS gagal meloloskan RUU pendanaan. Kebuntuan politik antara Partai Republik dan Demokrat ini menimbulkan kekhawatiran serius bagi para pelaku pasar global yang memantau ketat ekonomi terbesar di dunia tersebut.

Dari sisi domestik, pergerakan IHSG tampak variatif, namun terbebani oleh aksi jual investor asing. Berdasarkan data kemarin, investor asing membukukan net sell sebesar Rp1,25 triliun di pasar reguler, memperkuat tekanan pada indeks.

Meneropong Arah IHSG Kuartal IV/2025 di Tengah Depresiasi Rupiah & Net Sell Asing

Kendati demikian, sejumlah katalis positif datang dari rentetan rilis data ekonomi dalam negeri. Indeks Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur S&P Global untuk bulan September tercatat di level 50,4, menunjukkan zona ekspansi, meskipun melambat dari angka 51,5 pada bulan sebelumnya. Perlambatan pertumbuhan ini sejalan dengan penurunan volume produksi yang diakibatkan oleh melemahnya daya beli klien yang dicatat perusahaan.

Selain itu, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan posisi neraca perdagangan Indonesia pada bulan Agustus mengalami surplus signifikan sebesar US$5,49 miliar. Pencapaian ini didukung oleh tingginya kinerja ekspor dibandingkan impor. Selanjutnya, BPS juga mengungkapkan bahwa tingkat inflasi Indonesia pada September 2025 tercatat sebesar 0,21% secara bulanan (mtm) dan 2,65% secara tahunan (YoY), angka ini menunjukkan inflasi tetap terkendali dalam kisaran target Bank Indonesia (BI) 1,5% hingga 3,5%.

Terjaganya laju inflasi berpotensi memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk mempertimbangkan pemangkasan suku bunga. Penurunan suku bunga diharapkan dapat mendorong peningkatan daya beli masyarakat serta memicu pelaku usaha untuk berinvestasi lebih besar, yang pada gilirannya akan menjadi penopang pertumbuhan ekonomi nasional.

IDX COMPOSITE INDEX – TradingView

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Ringkasan

IHSG mengakhiri perdagangan Rabu (1/10/2025) dengan pelemahan signifikan 0,21% menjadi 8.043,82, ditandai dengan merosotnya saham unggulan seperti BBCA, WIFI, dan RAJA. Kondisi pasar menunjukkan tekanan jual dengan lebih banyak saham melemah, dipicu kekhawatiran penutupan pemerintahan AS dan aksi jual investor asing sebesar Rp1,25 triliun. Akibatnya, kapitalisasi pasar turut menyusut signifikan.

Namun, terdapat sejumlah katalis positif dari data ekonomi domestik yang dirilis. Indeks PMI Manufaktur September menunjukkan ekspansi di angka 50,4, neraca perdagangan Agustus mencatat surplus US$5,49 miliar, dan inflasi September 2025 tetap terkendali pada 2,65% YoY. Laju inflasi yang terjaga ini berpotensi memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk mempertimbangkan pemangkasan suku bunga, guna mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Baca Juga

nafa cahyani

Saya merupakan seorang content writer SEO, Teknologi, Finansial, Wisata, Resep Masakan dan lain-lain, Semoga dapat bermanfaat untuk teman semua.