
Rancak Media – , JAKARTA – Kalangan analis menilai peluang rebound saham blue chip niscaya terjadi pada 2026. Hal itu didasarkan pada sejumlah katalis yang berpotensi memberikan suntikan tenaga terhadap saham-saham tersebut.
Adapun sepanjang tahun berjalan 2025 (YtD), sejumlah saham blue chip tampak tidak bertenaga. Dari sektor perbankan, saham BBRI terkoreksi 7,35%, BMRI terkoreksi 12,46%, hingga BBCA terkoreksi 14,21%. Hanya BBNI yang masih mencatatkan pertumbuhan tipis 2,07% YtD.
Saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) juga terkoreksi 12,01%, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) terkoreksi 27,03%, hingga PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) terkoreksi 10,29%.
Memasuki 2026, Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai bahwa peluang pembalikan kinerja saham-saham blue chip terbuka cukup lebar. Beberapa katalis seperti harga yang cenderung murah, ekspektasi pemangkasan suku bunga lanjutan, hingga pemulihan konsumsi masyarakat bakal menjadi pendorongnya.
: Saham Astra (ASII) Ngegas 35% Sepanjang 2025, Ini Target Harga Lanjutannya
Menurutnya, terdapat pula potensi rotasi investor dari saham yang telah diuntungkan lantaran momentum pada 2025 ke saham berfundamental baik. Dengan begitu, saham-saham blue chip yang notabene telah malang melintang di pasar modal Indonesia, berpotensi diuntungkan dari aksi ini.
“Himbara, BBCA, consumer staples, kesehatan berpeluang balik jadi penentu arah IHSG karena earnings visibility yang lebih kuat,” katanya kepada Bisnis, Senin (15/12/2025).
Senada, Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai bahwa peluang rebound saham blue chip terbuka kian lebar pada tahun depan. Hal itu mengingat saham-saham berfundamental solid ini telah diperdagangkan pada valuasi yang murah dibandingkan posisi historisnya.
BBCA misalnya, selama tiga tahun terakhir masih mencatat koreksi 3,77%. Harga saham perbankan milik Djarum ini pernah berada pada level Rp10.950 selama tiga tahun terakhir. Artinya, peluang pembalikan arah menuju penguatan BBCA masih terbuka ke depannya.
“Ketertinggalan indeks IDX30 menciptakan valuasi diskon yang sangat menarik dibandingkan historisnya, membuka peluang akumulasi bagi investor institusi domestik maupun asing,” kata Abida, Senin (15/12/2025).
Belum lagi, terdapat spread antara dividend yield saham blue chip dengan yield obligasi pemerintah yang cukup lebar. Yield dividen berada di kisaran 5–7%, sementara yield SBN berada pada level mendekati 5%. Hal ini menurut Abida bakal memaksa terjadinya rotasi dana dari instrumen berpendapatan tetap ke ekuitas.
Bank Central Asia Tbk. – TradingView
Menurut Abida, rotasi ini diperkirakan akan memuncak menjelang musim dividen pada periode Maret–Juni 2026. Hal itu juga didorong oleh revisi laba emiten blue chip yang kian positif sehingga berpeluang mengejar ketertinggalannya dengan IHSG.
Menurutnya, koreksi saham blue chip sepanjang 2025 terjadi lantaran aksi jual asing yang masif karena sentimen pasar global yang risk-off dan pelemahan rupiah yang terjadi pada periode ini. Rupiah sendiri telah terdepresiasi sebesar 2,33% YtD ke level Rp16.670 per dolar AS.
“Sektor finansial, sebagai proksi utama blue chip, memiliki korelasi yang mendekati sempurna dengan arus dana asing, sehingga outflow berdampak signifikan pada penurunan harga,” katanya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
