
Rancak Media – , JAKARTA — Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan atau suspensi tujuh saham mulai dari PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) hingga PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) seiring dengan lonjakan harga pada perdagangan kemarin, Senin (1/9/2025).
Berdasarkan pengumumannya, ketujuh emiten yang dihentikan sementara perdagangannya antara lain PGUN, MPRO, PT Leyand International Tbk (LAPD), PT Falmaco Nonwoven Industri Tbk (FLMC) PT Paramita Bangun Sarana Tbk (PBSA), PT Sumber Mas Konstruksi Tbk (SMKM), dan PT Multi Makmur Lemindo Tbk (PIPA).
“Sehubungan dengan terjadinya peningkatan harga kumulatif yang signifikan pada saham PGUN dan sebagai bentuk perlindungan bagi Investor, Bursa Efek Indonesia memandang perlu untuk melakukan penghentian sementara perdagangan saham PGUN di pasar reguler dan pasar tunai,” tulis Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI Yulianto Aji Sadono dan Kepala Divisi Pengaturan & Operasional Perdagangan BEI Pande Made Kusuma Ari A. dalam pengumumannya pada Senin (1/9/2025).
Penghentian sementara perdagangan ketujuh emiten itu berlaku mulai sesi pertama hari ini, Selasa (2/9/2025) sampai dengan pengumuman bursa lebih lanjut.
: BBCA to BMRI Stocks Heavily Sold by Foreign Investors as Protests Escalate
Bursa mengimbau kepada pihak-pihak yang berkepentingan untuk selalu memperhatikan keterbukaan informasi yang disampaikan oleh perseroan terkait.
Bursa pun memberikan waktu yang memadai bagi pelaku pasar untuk mempertimbangkan secara matang berdasarkan informasi yang ada dalam setiap pengambilan keputusan investasinya di masing-masing saham.
Seiring dengan penghentian sementara, ketujuh saham mencatatkan lonjakan harga pada perdagangan kemarin, Senin (1/9/2025). Berdasarkan data BEI, harga saham PGUN misalnya telah naik 25% pada perdagangan kemarin ke level Rp3.850 per lembar.
Kemudian, harga saham LAPD naik 9,26% ke level Rp118 per lembar, FLMC naik 9,55% ke level Rp195 per lembar, dan MPRO naik 14,07% ke level Rp4.540 per lembar.
Selain itu, harga saham PBSA naik 13,29% ke level Rp895 per lembar, SMKM naik 9,93% ke level Rp155 per lembar, dan PIPA naik 13,07% ke level Rp173 per lembar.
Lonjakan harga saham deretan emiten itu terjadi di tengah kinerja jeblok indeks harga saham gabungan (IHSG). Pada perdagangan kemarin, IHSG melemah 1,21% ke level 7.736,06. Meskipun, IHSG masih di zona hijau, menguat 9,27% sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd) atau sejak perdagangan perdana 2025.
Pasar saham Indonesia juga mencatatkan nilai jual bersih atau net sell asing sebesar Rp2,15 triliun pada perdagangan kemarin. Dengan begitu, net sell asing mencapai Rp53,1 triliun di pasar saham Indonesia sepanjang 2025 berjalan.
Associate Director of Investment and Research Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai lesunya IHSG masih dipengaruhi oleh situasi dan kondisi yang kurang kondusif. Terjadi gelombang demonstrasi sejak akhir pekan lalu.
Kemudian, terdapat kekhawatiran aksi panic selling yang terjadi pada pasar modal Indonesia. Meskipun, kekhawatiran panic selling sudah mulai mereda. Akan tetapi, menurut Nico pasar masih menerka-nerka, karena pelaku pasar dan investor membutuhkan kepastian lebih untuk mendapatkan sikap dari pemerintah.
“Tentu kalau kita perhatikan saat ini sudah mulai tenang tapi belum sepenuhnya mendapatkan kepastian. Oleh sebab itu hari-hari berikutnya akan menentukan arah IHSG selanjutnya,” ujarnya pada Senin (1/9/2025).
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
