Rancak Media – JAKARTA – Setelah mencetak rekor dengan 79 perusahaan melantai di bursa pada tahun 2023, geliat Initial Public Offering (IPO) tampak meredup. Tahun 2024 mencatat hanya 41 perusahaan yang go public. Bahkan, target IPO tahun ini yang telah dikoreksi dari 66 menjadi 45, baru terealisasi 24 hingga November 2025.
Ronny P. Sasmita, Analis Senior Indonesia Strategic and Economics Institution (ISEAI), berpendapat bahwa secara makro ekonomi, kondisi tahun 2024 dan 2025 tidak menunjukkan perbedaan signifikan. Pertumbuhan PDB yang stabil di kisaran 5% dan inflasi yang terkendali mengindikasikan tidak adanya pelemahan ekonomi yang berarti.
“Perubahan justru terletak pada sentimen usaha dan struktur pasar modal. Banyak perusahaan menunda IPO karena sulit mencapai valuasi publik yang diharapkan, terutama saat likuiditas cenderung melemah dan tingkat free float masih rendah,” jelas Ronny pada Selasa (18/11/2025).
Selain itu, ketidakpastian global dan tekanan pada neraca perdagangan turut mendorong perusahaan untuk lebih berhati-hati. Ronny melihat penurunan jumlah IPO bukan disebabkan oleh penurunan kondisi ekonomi, melainkan kombinasi dari sentimen pasar, masalah likuiditas, dan kekhawatiran terhadap regulasi free float yang diperketat.
Menjelang tahun depan, Ronny memperkirakan iklim usaha nasional akan relatif positif asalkan stabilitas makro tetap terjaga dan reformasi pasar modal berjalan lancar.
Rencana peningkatan ketentuan free float yang saat ini tengah dibahas oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga diprediksi Ronny dapat meningkatkan likuiditas di pasar saham. Hal ini berpotensi menarik lebih banyak perusahaan untuk melakukan IPO tahun depan, terutama perusahaan-perusahaan besar dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Baca Juga: Peta IPO Regional 2025: Malaysia Unggul Jumlah Perusahaan, Singapura Catat Nilai Tertinggi
Namun, Ronny menekankan bahwa jika kenaikan free float dinilai terlalu agresif atau kondisi global kembali bergejolak, perusahaan berpotensi menunda rencana IPO mereka.
“Proyeksinya, tren [jumlah perusahaan IPO] berpotensi naik, tetapi akan sangat selektif, tidak bersifat massal,” pungkasnya.
Baca Juga: BEI Incar 6 IPO Perusahaan Lighthouse pada 2026, Berharap dari BUMN?
Terkait peluang BUMN baru yang melantai di bursa, Ronny menilai kehadiran Danantara Indonesia berpotensi menjadi katalis penting. Dengan kapasitas dana yang besar dan posisinya sebagai investor institusi domestik, Danantara dapat berperan sebagai anchor investor dan penyedia likuiditas, sehingga meningkatkan kepercayaan pasar.
Menurutnya, dukungan semacam ini sangat krusial bagi BUMN yang membutuhkan stabilitas harga saat melakukan IPO. Meski demikian, efektivitasnya tetap bergantung pada desain strategi investasi Danantara dan seberapa disiplin perannya dikelola di pasar.
“Namun, secara prinsip, Danantara bisa menjadi pendorong signifikan bagi gelombang IPO BUMN di tahun-tahun mendatang,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2025 banyak perusahaan yang melakukan ekspansi bisnis, namun memilih untuk mengutamakan penggunaan dana internal dibandingkan menggalang dana publik melalui IPO.
“Namun, saya melihat minat investasi sudah mulai meningkat memasuki kuartal IV. Hal ini mungkin terkait dengan suku bunga yang cenderung menurun. Iklim bisnis di semester pertama juga terganggu oleh ketidakpastian, sehingga banyak yang menunda IPO dan memilih menggunakan dana sendiri,” ujar David.
Untuk proyeksi tahun 2026, David melihat bahwa suku bunga sudah melandai dan kemungkinan akan ada lebih banyak perusahaan yang melakukan ekspansi melalui IPO. Kehadiran Danantara juga menjadi faktor pembeda yang perlu diperhatikan.
“Saya pikir potensinya masih cukup besar, meskipun masih ada faktor ketidakpastian, namun relatif lebih baik di 2026. Iklim bisnisnya juga lebih baik, suku bunga cenderung turun. Sekarang, Danantara juga sudah banyak melakukan upaya restrukturisasi, dan salah satu opsinya bisa melalui IPO,” pungkasnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Summary
The number of companies conducting IPOs on the Indonesia Stock Exchange (IDX) has decreased following a record year in 2023. According to ISEAI analyst Ronny P. Sasmita, this decline isn’t primarily due to stable macroeconomic conditions, but rather market sentiment and liquidity issues. Global uncertainty and stricter free float regulations are also contributing factors influencing companies’ decisions.
Looking ahead to 2026, the business climate is expected to improve, provided macroeconomic stability is maintained and capital market reforms are successfully implemented. The presence of Danantara Indonesia as an anchor investor and liquidity provider has the potential to catalyze IPOs, particularly for state-owned enterprises (BUMN). BCA economist David Sumual adds that declining interest rates and increased investment appetite are also driving factors for potential IPOs in 2026.
