Rancak Media, JAKARTA — Pasar modal Indonesia kembali diwarnai fenomena menarik: deretan saham pendatang baru yang mencatatkan lonjakan harga signifikan sejak penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO). Sebut saja PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) dan PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) yang harga sahamnya meroket tajam. Namun, muncul pertanyaan krusial: mampukah tren kenaikan fantastis ini bertahan di tengah dinamika pasar ke depan?
Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), tahun ini telah tercatat sebanyak 23 perusahaan yang sukses melantai di bursa, berhasil menghimpun dana segar mencapai Rp15,05 triliun. Menariknya, sejumlah emiten baru ini langsung mencuri perhatian investor dengan performa harga saham yang cemerlang di pasar.
Contoh nyata adalah harga saham CDIA yang telah melesat hingga 836,84% sejak IPO pada Juni 2025. Lebih mencengangkan, harga saham COIN bahkan mencatatkan kenaikan yang jauh lebih spektakuler, yakni terbang 2.760% sejak melantai pada Juli 2025. Tidak hanya itu, PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), yang memulai debut IPO pada Januari 2025, juga tak kalah impresif dengan lonjakan harga saham sebesar 560,87%. Begitu pula PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) yang, meskipun baru IPO bulan lalu, telah menguat signifikan sebesar 67,71%.
Prospek pasar modal juga masih akan diramaikan dengan kehadiran emiten baru. BEI melaporkan bahwa saat ini masih ada 11 perusahaan yang masuk dalam pipeline IPO. Tujuh di antaranya berasal dari kategori aset skala menengah, yakni dengan nilai aset antara Rp50 miliar hingga Rp250 miliar. Sementara itu, empat perusahaan lainnya tergolong dalam kategori aset skala besar, yaitu memiliki aset di atas Rp250 miliar. Calon-calon emiten ini berasal dari berbagai sektor strategis, mulai dari basic materials, industrial, hingga transportasi dan logistik.
Menyikapi lonjakan harga saham emiten-emiten pendatang baru ini, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset, Rully Arya Wisnubroto, mengungkapkan bahwa terdapat kecenderungan kuat investor untuk menilai kekuatan konglomerasi atau pengendali di balik emiten IPO. Menurutnya, ini menjadi faktor penentu utama daya tarik saham-saham tersebut.
Fakta di lapangan memang menunjukkan bahwa beberapa saham IPO yang bersinar tahun ini merupakan bagian dari grup konglomerasi besar. CDIA, misalnya, merupakan entitas afiliasi dari konglomerasi taipan terkemuka, Prajogo Pangestu. Sementara itu, RATU berada di bawah kendali taipan Happy Hapsoro.
“Jadi, orang kembali lagi lihat owner, karena nanti ketahuan grup-grup yang maintain harga. Lihat siapa di balik perusahaan IPO,” jelas Rully pada Kamis (16/10/2025), menggarisbawahi pentingnya identitas pemilik dalam menjaga stabilitas harga saham.
Senada dengan itu, Associate Director Pilarmas Investindo, Maximilianus Nicodemus, menjelaskan bahwa lonjakan harga saham seperti COIN, CDIA, hingga RATU pasca-penawaran saham perdana ke publik didorong oleh narasi yang kuat dan meyakinkan yang dibangun oleh emiten kepada pelaku pasar. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa fundamental perusahaan juga memegang peranan vital. Pasar akan secara cermat mengevaluasi kinerja bisnis, valuasi, serta performa secara sektoral.
“Kemudian, ada ekspektasi terhadap saham baru. Karena kalau bicara narasi yang dibangun kuat, fundamental mendukung, otomatis ekspektasi tinggi. Misal CDIA, semuanya kuat,” ujar Nico kepada Bisnis beberapa waktu lalu, mencontohkan bagaimana perpaduan narasi dan fundamental menciptakan ekspektasi pasar yang tinggi. Selain itu, dukungan dari sosok atau entitas di belakang emiten, seperti konglomerat atau induk perusahaan yang kuat, juga menjadi faktor pendukung signifikan.
Melihat ke depan, Nicodemus menilai bahwa saham-saham seperti CDIA dan RATU masih memiliki potensi penguatan, setidaknya hingga akhir tahun ini. Namun, ia mengingatkan bahwa potensi ini harus selalu diimbangi dengan prospek pertumbuhan valuasi yang solid di masa mendatang.
“Kalau sektornya bagus, bisnisnya bagus, apalagi unik. Kemudian fundamentalnya mesti dilihat. Kalau jangka pendek saat ini memang sudah mahal. Tapi kalau jangka panjang fundamental masih meyakinkan bisa saja masih ada penguatan,” tambahnya, menekankan perlunya investor melihat prospek jangka panjang di balik valuasi jangka pendek.
Di sisi lain, Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyoroti bahwa harga saham emiten pendatang baru seperti RATU, CDIA, dan COIN telah diapresiasi sangat baik oleh pasar. Namun, ia mengingatkan para investor untuk tidak terbuai euforia.
“Namun, yang menjadi concern adalah ketika euforia IPO tidak bisa berlangsung selamanya. Ada saat harga itu overvalued. Kemudian, terjadi aksi profit taking dan depresiasi harga. Jadinya ke depan investor harus melihat prospek fundamental juga,” pungkas Nafan, menekankan pentingnya analisis fundamental untuk menghadapi potensi koreksi harga di masa mendatang.
—
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Ringkasan
Pasar modal Indonesia diwarnai lonjakan signifikan harga saham emiten pendatang baru, seperti PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) yang naik 836,84% dan PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) melonjak 2.760% sejak IPO. Tahun ini, 23 perusahaan telah melantai di bursa, menghimpun Rp15,05 triliun, dengan 11 lainnya masih dalam antrean IPO. Menurut Head of Research & Chief Economist Mirae Asset, Rully Arya Wisnubroto, investor cenderung menilai kekuatan konglomerasi atau pemilik di balik emiten sebagai faktor utama daya tarik.
Associate Director Pilarmas Investindo, Maximilianus Nicodemus, menambahkan bahwa kenaikan harga didorong oleh narasi kuat emiten serta fundamental perusahaan yang solid dan dukungan konglomerat. Meski saham seperti CDIA dan RATU berpotensi menguat hingga akhir tahun, investor perlu mempertimbangkan prospek valuasi jangka panjang. Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, memperingatkan tentang risiko harga *overvalued* yang dapat memicu *profit taking*, sehingga analisis fundamental tetap krusial.
