Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) baru-baru ini mencetak rekor tertinggi sepanjang masa atau all time high (ATH) sebanyak dua kali beruntun, yakni pada perdagangan Senin (6/10) dan Selasa (7/10). Meskipun demikian, potensi penguatan indeks komposit ini kini diiringi bayang-bayang aksi profit taking yang perlu dicermati.
M. Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, mengamati bahwa aksi profit taking mulai mendominasi pasar pada perdagangan Rabu (8/10). Setelah dua hari berturut-turut menembus ATH, IHSG ditutup turun tipis 0,04% ke level 8.166, dengan saham CDIA, CUAN, dan BRPT terpantau melaju di jalur merah. “IHSG memang sempat mengalami penguatan mencapai ATH di pagi hari, namun kemudian terlihat aksi profit taking yang mana ini merupakan hal yang wajar dalam dinamika pasar,” jelas Nafan kepada Bisnis pada Rabu (8/10/2025).
Nafan kemudian membeberkan sejumlah sentimen yang tengah membayangi pasar saham saat ini. Salah satunya adalah sorotan pelaku pasar terhadap proyeksi terbaru World Bank mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini yang diperkirakan berada di bawah 5%. Di samping itu, perkembangan isu shutdown pemerintah Amerika Serikat (AS) turut menjadi perhatian, sebab kondisi ini berpotensi mengaburkan proyeksi pelonggaran moneter oleh The Fed. Pelaku pasar, menurut Nafan, sangat berharap The Fed dapat menurunkan suku bunga acuan sebanyak dua kali pada sisa tahun ini.
Secara teknikal, Nafan menilai bahwa IHSG masih berada dalam fase uptrend yang solid. Ia memproyeksikan level resistance IHSG saat ini berada di 8.245, yang merupakan bagian dari wave 3. Dengan mempertimbangkan potensi pelonggaran moneter The Fed sebagai sentimen positif, Nafan optimis IHSG tetap akan menguat hingga akhir tahun. “Fenomena seperti window dressing dan Santa Claus Rally di akhir tahun juga akan menjadi katalis kuat yang berpotensi mendorong penguatan IHSG ke depan,” tegas Nafan, memperkuat prediksinya.
Untuk memberikan konteks, window dressing merupakan strategi lazim yang diterapkan oleh manajer investasi atau perusahaan guna memperindah portofolio atau laporan keuangan mereka menjelang penutupan periode. Fenomena ini kerap terjadi di akhir kuartal atau akhir tahun, dengan tujuan menampilkan citra positif yang dapat berimbas pada kenaikan harga saham di pasar.
Sementara itu, Santa Claus Rally adalah fenomena kenaikan harga saham yang secara historis terjadi antara akhir Desember hingga awal Januari. Kenaikan ini didorong oleh beragam faktor, mulai dari sentimen positif menjelang liburan Natal dan Tahun Baru, dampak lanjutan dari aktivitas window dressing, volume transaksi yang lebih rendah karena banyaknya investor yang libur sehingga mengurangi tekanan jual, hingga optimisme terhadap prospek ekonomi di tahun baru.
Menariknya, jika dicermati pola pasar ketika IHSG mencetak rekor baru dua hari berturut-turut, terlihat konsistensi pada saham sektor industri dan konsumer siklikal yang menorehkan koreksi. Di sisi lain, sektor infrastruktur justru konsisten menduduki peringkat tiga besar sektor dengan pertumbuhan tertinggi. “Sektor industrial diuntungkan oleh ekspansi manufaktur Indonesia yang hingga kini masih berlangsung,” jelas Nafan.
Meskipun demikian, laporan terbaru dari S&P Global menunjukkan bahwa Indeks Manufaktur (PMI) Indonesia sedikit melambat ke level 50,4 pada September 2025, turun dari 51,5 di Agustus. Namun, penting untuk dicatat bahwa level ini tetap berada dalam zona ekspansi, mengindikasikan pertumbuhan.
Sementara itu, untuk sektor konsumen, Nafan berpendapat bahwa meskipun saat ini sedang mengalami tekanan, terdapat potensi penguatan signifikan di akhir tahun. Potensi ini didukung oleh paket kebijakan ekonomi 8+4+5 yang telah diumumkan pemerintah pada September lalu. “Dari sisi moneter, nilai tukar rupiah masih relatif stabil, bergerak di bawah Rp16.700. Kami berharap Bank Indonesia dapat kembali ‘all out’ dalam menerapkan kebijakan pelonggaran moneter, mengingat selisih antara BI Rate dengan tingkat inflasi masih cukup lebar. Selain itu, momen Natal dan Tahun Baru (Nataru) di akhir tahun juga akan menjadi pendorong signifikan bagi konsumsi domestik,” pungkas Nafan.
Ringkasan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) baru-baru ini mencatat rekor tertinggi dua kali beruntun sebelum sedikit terkoreksi 0,04% ke level 8.166 akibat aksi profit taking yang dianggap wajar. Sentimen pasar saat ini dipengaruhi oleh proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari World Bank yang di bawah 5% serta isu shutdown pemerintah AS. Pelaku pasar menaruh harapan besar pada The Fed untuk melakukan pelonggaran moneter dua kali, yang dapat mendorong penguatan IHSG.
Meskipun demikian, IHSG secara teknikal masih dalam fase uptrend yang solid dan diproyeksikan menguat hingga akhir tahun, didukung oleh fenomena window dressing dan Santa Claus Rally. Sektor infrastruktur konsisten mencatat pertumbuhan, sementara sektor konsumen, yang saat ini tertekan, memiliki potensi penguatan signifikan di akhir tahun berkat kebijakan pemerintah dan momentum Natal serta Tahun Baru.
