IHSG ditutup naik 0,03% ke 8.646,94 pada akhir 2025, dengan transaksi Rp20,39 triliun. Sepanjang 2025, IHSG menguat 22,13% dan mencatat rekor tertinggi.
Sebanyak 13 calon emiten siap IPO awal 2026, didukung sentimen ekonomi positif dan optimisme pasar, meski tantangan ekonomi sebelumnya mengurangi jumlah IPO.
IHSG mencapai rekor tertinggi 8.600, menunjukkan kepercayaan investor terhadap kebijakan ekonomi pemerintah. Menteri Keuangan Purbaya menilai ini sebagai validasi optimisme ekonomi.
Investor asing kembali melakukan pembelian bersih di BEI, memilih saham ASII, BRMS, TLKM, AMMN, dan CUAN karena faktor likuiditas global dan stabilitas ekonomi Indonesia.
Saham bank besar dan konsumer siklikal rawan profit taking usai IHSG cetak rekor ATH, sementara sektor energi dan infrastruktur diprediksi lebih stabil.
IHSG mencapai rekor tertinggi baru di 8.394,59, didorong oleh kenaikan saham PTRO, BBCA, dan lainnya. Optimisme ekonomi dan indeks MSCI mempengaruhi pasar.
IHSG cetak rekor 8.312,57, kapitalisasi pasar BEI capai Rp15.322,47 triliun. Analis prediksi potensi penguatan, fokus pada laporan keuangan dan data inflasi AS.