Indonesia’s Spectrum Future: 900 MHz Auction, 3.5 GHz Study

 

Indonesia’s Spectrum Future: 900 MHz Auction, 3.5 GHz Study

Kementerian Komunikasi dan Digital atau Komdigi mulai menyiapkan lelang pita frekuensi 900 MHz. Hal itu dilakukan setelah pemerintah menyelesaikan proses seleksi spektrum 2026 yakni 700 MHz dan 2,6 GHz.

Insyaallah ke depan, persis ketika ini (lelang 700 Mhz dan 2,6 GHz) selesai, kita juga akan mempersiapkan proses pemanfaatan frekuensi di 900 MHz. Mudah-mudahan lelang dapat dimulai di tahun ini juga sambil kemudian melakukan kajian terhadap band 3,5 GHz,” kata Meutya dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (21/7).

Menurut Meutya, pemerintah belum menetapkan jadwal pelelangan pita frekuensi 3,5 GHz. Komdigi masih mengkaji peruntukan spektrum tersebut agar sesuai dengan kebutuhan konektivitas nasional sekaligus mempertimbangkan kepentingan strategis negara.

“Kajiannya itu akan melihat pemanfaatan frekuensi seperti apa yang dibutuhkan ke depan bagi masyarakat dan juga kepentingan nasional sebagai negara,” ujarnya.

Baca juga:

  • Anggaran MBG 2027 Bakal Lebih Rendah karena Pemangkasan Penerima Manfaat
  • Perpres Ojol Belum Rampung, Mensesneg Ungkap Alasannya
  • Jejak Karier PM Baru Inggris Andy Burnham: Menkes hingga Wali Kota Manchester

Sekretaris Jenderal Kementerian Komdigi, Ismail menjelaskan, kajian terhadap pita frekuensi 3,5 GHz diperlukan karena spektrum tersebut masih digunakan bersama dengan layanan satelit. Pemerintah ingin memastikan layanan seluler dan satelit dapat beroperasi berdampingan tanpa menimbulkan gangguan.

“Untuk yang 3,5 GHz memang butuh kajian karena ini terkait dengan penggunaan spectrum sharing bersama dengan satelit,” kata Ismail.

Ia menuturkan, proses kajian difokuskan pada aspek teknis untuk menjamin koeksistensi layanan mobile dengan satelit sebelum spektrum tersebut dilelang. Menurutnya, hal tersebut membutuhkan proses kajian yang lebih teliti lagi. 

Sementara itu, menurut Ismail, pita frekuensi 900 MHz lebih siap dimanfaatkan. Hal ini dikarenakan spektrumnya telah tersedia menyusul pengembalian frekuensi dari operator, khususnya XLSmart. 

“Kalau 900 ini kan free karena memang ada pengembalian kemarin dari XL waktu lelang sebelumnya, dari proses merger mereka (dengan Smartfren),” katanya.

Pemerintah sebelumnya telah menetapkan pemenang lelang pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz pada 21 Juli 2026. Tahapan tersebut menandai berakhirnya proses seleksi yang berlangsung sejak April 2026 dan menjadi awal penataan spektrum berikutnya untuk mendukung perluasan layanan telekomunikasi nasional.

Butuh Amunisi Tambahan Menuju 6G 

Direktur Penataan Spektrum Frekuensi Radio, Orbit Satelit, dan Standarisasi Infrastruktur Digital Kementerian Komdigi, Adis Alifiawan mengatakan, sebelum lelang frekuensi 2026, total spektrum yang digunakan layanan mobile broadband mencapai 452 MHz, terdiri atas pita 800 MHz, 900 MHz, 1.800 MHz, 2,1 GHz, dan 2,3 GHz.

Setelah pemerintah menambahkan spektrum baru pada tahun ini, total spektrum seluler nasional meningkat menjadi 712 MHz. Dengan penambahan frekuensi itu, komposisi spektrum masing-masing operator menjadi sebagai berikut:

Telkomsel

  • Spektrum sebelum lelang: 165 MHz
  • Tambahan pita 700 MHz: 20 MHz
  • Tambahan pita 2,6 GHz: 80 MHz
  • Total spektrum setelah lelang: 265 MHz

XLSmart

  • Spektrum sebelum lelang: 152 MHz
  • Tambahan pita 700 MHz: 30 MHz
  • Tambahan pita 2,6 GHz: 50 MHz
  • Total spektrum setelah lelang: 232 MHz

Indosat

  • Spektrum sebelum lelang: 135 MHz
  • Tambahan pita 700 MHz: 20 MHz
  • Tambahan pita 2,6 GHz: 60 MHz
  • Total spektrum setelah lelang: 215 MHz

Dengan tambahan tersebut, total spektrum yang dikuasai ketiga operator mencapai 712 MHz, terdiri atas:

  • Telkomsel: 265 MHz atau sekitar 37,2% dari total spektrum seluler nasional.
  • XLSmart: 232 MHz atau sekitar 32,6%.
  • Indosat: 215 MHz atau sekitar 30,2%.

Kendati total spektrum meningkat signifikan, Adis menilai Indonesia masih kekurangan amunisi untuk memasuki era 6G.

Ia menjelaskan, setiap operator idealnya membutuhkan sekitar 200 MHz spektrum yang bersebelahan untuk menggelar layanan 6G secara optimal. Sementara pita terbesar yang baru dilelang di Indonesia, yakni 2,6 GHz hanya menyediakan 190 MHz secara keseluruhan.

“Enggak sampai ke 200 MHz. Jadi kalau buat 6G, enggak sampai buat satu operator,” ujar Adis dalam Diskusi Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) pada Kamis (9/7). 

Dia mengatakan, Indonesia pada akhirnya harus membuka pita frekuensi baru, terutama di mid-band. Hal ini karena low-band memiliki bandwidth terbatas, sedangkan high-band memiliki jangkauan pendek.

Menurutnya, pelepasan spektrum mid-band tidak hanya penting untuk menghadirkan layanan 6G, tetapi juga menopang perkembangan kecerdasan buatan atau AI. Perkembangan AI diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan kapasitas jaringan secara drastis.

Adis mengatakan, kebutuhan untuk AI dengan 6G sangat berdampingan. “Kalau kita ingin AI kita terus berkembang penggunanya ya kita butuh 6G. Jadi 6G sama AI itu kayaknya sudah setali tiga uang, sudah satu bagian satu bundling,” tuturnya.

Karena itu, Indonesia perlu merilis pita mid-band baru agar bisa menuju era 6G. Ia menambahkan, apabila tidak tersedia tambahan spektrum baru, operator hanya memiliki dua pilihan untuk meningkatkan kapasitas jaringan, yakni membangun lebih banyak BTS atau melakukan peningkatan teknologi.

Baca Juga

Tags

Lutfi

Hai perkenalkan saya Lutfi Hulasoh, Saya adalah seorang penulis dan bloger tekno. saya mulai membuat blog pribadi menulis artikel-artikel informatif tentang tren dan perkembangan terbaru dalam teknologi. Tulisan saya mencakup berbagai topik, mulai dari aplikasi mobile hingga kecerdasan buatan, dan Saya juga dapat memberikan penjelasan yang mudah dipahami untuk membantu pembaca memahami konsep yang kompleks.