Di ambang punah: Data terbaru ungkap krisis populasi orangutan di Sumatra

 

Di ambang punah: Data terbaru ungkap krisis populasi orangutan di Sumatra

Populasi orangutan sumatra mengkhawatirkan. Bahkan sebelum bencana besar banjir dan longsor Sumatra tahun lalu, populasinya terpantau berada dalam tren turun, bukan naik. Artinya, jumlah yang tewas lebih banyak dari yang lahir. 

Berdasarkan survei yang dilakukan Kementerian Kehutanan bersama lembaga riset, akademisi, dan organisasi non-pemerintah pada 2021-2023, hanya tersisa 12.410 individu orangutan yang mendiami Pulau Sumatra. Jumlah tersebut terdiri dari 11.694 individu orangutan sumatra dan 716 individu orangutan tapanuli.

Survei ini dilakukan di seluruh wilayah jelajah orangutan sumatra dan orangutan tapanuli yang diakui di Sumatra Utara. Luas area studi mencapai 18.670 kilometer persegi, tidak termasuk lokasi reintroduksi Jantho dan Bukit Tigapuluh. 

Angka populasi tersebut berkurang lebih dari seribu individu dalam satu dekade. Berdasarkan survei tahun 2011, dengan cakupan wilayah yang lebih kecil, populasi orangutan di Pulau sumatra dilaporkan sebanyak 13.846 individu.

Ini artinya, bila tren ini dibiarkan berlanjut, orangutan di pulau ini bisa punah sekitar seabad lagi. Apalagi, bencana sumatra tahun lalu kemungkinan membuat populasi orangutan merosot tajam karena banyak yang tewas. Pasalnya, rumah terbesar kedua spesies ini, ekosistem Leuser dan Batang Toru, luluh lantak oleh bencana.   

Saat ini, pemerintah masih melakukan penghitungan populasi pasca-bencana. Namun, bila merujuk pada studi bertajuk Extreme Rainfall Further Endangers The World’s Rarest Great Ape, jumlah orangutan tapanuli yang tewas bukan tidak mungkin mencapai ratusan individu. Ini dengan melihat besarnya kerusakan habitat akibat bencana.

Studi tersebut memperkirakan jumlah yang tewas antara 18-120 individu orangutan. Ini hanya dengan mempertimbangkan kerusakan di Blok Barat Batang Toru. Berdasarkan analisis satelit terhadap wilayah tersebut, terdapat ribuan hektare hutan yang hancur.

Longsor yang terjadi ketika itu terindikasi berlangsung sangat cepat dan sangat merusak sehingga rentan membuat orangutan terjebak. Peluang mereka untuk melarikan diri dinilai tak banyak. 

Estimasi angka kematian bukan tidak mungkin semakin melambung jika memasukkan faktor di luar bencana, seperti kerusakan kanopi hutan dan hilangnya ketersediaan makanan. Dan, siklus reproduksi orangutan yang terhitung lambat. 

Orangutan Tapanuli di Ambang Kepunahan

Dengan populasi di bawah seribu, orangutan tapanuli telah lama masuk dalam satwa yang sangat terancam punah alias critically endangered.   

Secara fisik, orangutang tapanuli berbeda dengan orangutan sumatra. Orangutan tapanuli memiliki rambut yang lebih keriting dan mengembang serta wajah cenderung lebih sempit. Suara panggilan panjang pejantan untuk menandai wilayah dan menarik pasangan juga berbeda.  

Sebelum 2017, populasi orangutan di Batang Toru diklasifikasikan sebagai bagian dari orangutan sumatra (Pongo abelii). Namun, penelitian yang menganalisis DNA, morfologi tengkorak, dan perilaku menunjukkan bahwa populasi tersebut telah terpisah secara evolusi selama ratusan ribu tahun. Berdasarkan temuan itu, para ilmuwan pada 2017 menetapkannya sebagai spesies baru, yakni orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis).

Senior Wildlife Campaigner Geopix Annisa Rahmawati mengatakan, data populasi orangutan tapanuli merupakan alarm serius bagi pemerintah dan para pelaku usaha, khususnya yang mendiami kawasan Batang Toru. 

“Lanskap Batang Toru memiliki orangutan tapanuli dengan populasi yang memiliki kerentanan tinggi terhadap gangguan dan fragmentasi yang luar biasa,” kata Annisa, dikutip dari keterangan resmi. 

“Seharusnya ini menjadi tambahan pengingat mengenai pentingnya perlindungan bagi kawasan ini,” kata dia, menambahkan. 

Penurunan populasi orangutan disinyalir disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya habitat yang hilang dan terfragmentasi, risiko perburuan liar, perdagangan hewan, serta konflik dengan manusia. 

Annisa juga menyoroti fakta bahwa sebagian orangutan masih hidup di luar hutan konservasi. Karena itu, menurut dia, upaya perlindungan tidak bisa hanya fokus pada kawasan yang dilindungi saat ini.

“Pemerintah harus memastikan koridor ekologis bagi orangutan tetap terhubung dengan  melindungi hutan-hutan yang tersisa sekaligus memulihkan hutan-hutan yang menjadi ekosistem penghubung,” ucapnya. 

Bahaya: Mayoritas Orangutan Sumatra dan Tapanuli Hidup di Luar Area Perlindungan Ketat

Hasil survei 2021-2023 yang dilakukan Kementerian Kehutanan bersama mitranya juga mengungkap baru 38,5 persen orangutan sumatra yang berada di area perlindungan ketat seperti kawasan konservasi. Sedangkan sisanya berkeliaran di hutan lindung (43,4 persen), hutan produksi terbatas (2,8 persen), hutan produksi (10,1 persen), bahkan di areal penggunaan lain (5,2 persen).

Sedangkan orangutan tapanuli yang hidup di kawasan konservasi hanya 9,5 persen. Paling banyak berada di hutan lindung (78,6 persen), areal penggunaan lain (9,9 persen), hutan produksi (1,9 persen), dan hutan produksi terbatas (0,1 persen).

Habitat orangutan semakin mengecil. Jika dibandingkan dengan kondisi tahun 2011, habitat orangutan di delapan metapopulasi dilaporkan telah berkurang 91.825 hektare (4,7 persen), sedangkan habitat orangutan tapanuli di tiga metapopulasi menyusut 2.574 hektare (2,2 persen). 

 

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara Heri Wahyudi Marpaung mengatakan, pihaknya telah mendapat mandat dari Pemerintah Provinsi untuk menguatkan tata kelola hutan lindung dan hutan produksi. Sedangkan pemerintah kabupaten/kota diberi tugas untuk berperan aktif dalam tata kelola areal penggunaan lain. 

“Upaya konservasi harus dilakukan secara kolaboratif oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, pengelola kawasan hutan, pemerintah kabupaten dan kota, dunia usaha, akademisi, serta masyarakat agar perlindungan habitat dan populasi orangutan dapat berjalan secara optimal,” kata Heri. 

Baca Juga

Tags

Lutfi

Hai perkenalkan saya Lutfi Hulasoh, Saya adalah seorang penulis dan bloger tekno. saya mulai membuat blog pribadi menulis artikel-artikel informatif tentang tren dan perkembangan terbaru dalam teknologi. Tulisan saya mencakup berbagai topik, mulai dari aplikasi mobile hingga kecerdasan buatan, dan Saya juga dapat memberikan penjelasan yang mudah dipahami untuk membantu pembaca memahami konsep yang kompleks.