Pakai Formasi 9-1-0 saat Man City Dikepung Arsenal, Pep Tak Malu-Malu Lagi Mainkan Strategi Haram

 

Rancak Media Pep Guardiola seolah mengkhianati filosofinya sendiri ketika memutuskan Man City bermain ultra-defensif di tengah kepungan Arsenal.

Sepanjang kariernya, pelatih gundul asal Spanyol dikenal sebagai pemuja permainan menyerang, atraktif, dan mendominasi lawan.

Pep Guardiola membawa filosofi tiki-taka ke level berikutnya sejak membawa Barcelona ke era keemasan belasan tahun silam.

Akan tetapi, seiring pertambahan usia dan tahap karier, pria 54 tahun itu mulai berani menanggalkan prinsip lamanya.

Strategi bermain pragmatis dan defensif yang dulu dia benci kini tidak lagi haram diterapkan.

Momen laga Man City di markas Arsenal, Minggu (21/9/2025), menjadi contoh sahih bagaimana Pep terpaksa beradaptasi dengan perkembangan taktik dan kualitas musuh yang semakin mumpuni.

The Citizens banyak disorot karena memainkan sistem parkir bus untuk mencegah Si London Merah menyamakan kedudukan.

Pada bentrokan di Emirates Stadium, Man City unggul kilat melalui gol Erling Haaland pada menit ke-9.

Mendekati fase krusial, Pep butuh mempertahankan keunggulan di tengah gencarnya upaya Arsenal mencuri gol.

Tidak lagi meladeni musuh dengan sama-sama bermain terbuka, dia memilih untuk melawannya dengan strategi pertahanan berlapis-lapis.

City bahkan seperti menurunkan formasi 9-1-0 lantaran kerap memarkir hampir semua pemainnya di area pertahanan demi membatasi serangan The Gunners.

Bukan lagi parkir bus, taktik Pep ini lebih pantas disebut parkir pesawat.

Dia dianggap telah menggantikan tiki-taka dengan pola pikir pragmatis mirip cara Jose Mourinho menyingkirkan Barcelona-nya di semifinal Liga Champions, 15 tahun silam.

Cara itu berhasil, setidaknya sebelum tiba gol balasan yang dicetak Gabriel Martinelli pada menit tambahan waktu.

Hasil Liga Inggris – Aksi Dribel Setengah Lapangan Tijjani Reijnders untuk Haaland Sia-Sia, Man City Gagal Bungkam Arsenal

Pep merespons kritik yang menilai dirinya telah menjilat ludah sendiri dengan memainkan strategi yang dulu dia anggap haram buat timnya.

Opta mencatat Man City hanya diibiarkan menguasai bola sebanyak 32,8 persen.

Angka possession itu menjadi rekor terendah yang dialami tim asuhan Pep Guardiola sepanjang kariernya di kancah liga domestik.

Eks pelatih Bayern Muenchen beralasan dirinya sedang menjalani masa transisi taktik.

City dipaksa bertahan hidup di sisa pertandingan dari lawan yang dia anggap lebih baik.

Cara tersebut memang dibenci, tetapi inilah keputusan terbaik demi menghindari pembantaian seperti yang terjadi di tempat yang sama musim lalu (1-5).

 

“Saya memberikan banyak pujian kepada Arsenal atas apa yang telah mereka lakukan,” ujar Pep Guardiola, dikutip BolaSport.com dari Mirror.

“Baiklah, sekali dalam 10 tahun tidaklah buruk, kan? Saya harus membuktikan diri lagi dengan strategi lain.”

“Sekarang kami adalah sebuah tim transisi, Anda tahu itu.”

“Secara umum, yang mengendalikan pertandingan adalah Arsenal. Bukan kami. Dan itulah mengapa ketika ini terjadi, Saya menerimanya.”

“Saya menderita. Saya tidak suka itu. Kita harus menerima [hasilnya] tapi keadaan akan membaik.”

Murid yang Bikin Susah Guru, Arteta Paksa Guardiola Bertahan

“Saya katakan bahwa musim ini, saya tidak peduli dengan hasilnya. Saya ingin melihat tim semangat kembali dalam sesi latihan.”

“Saya lebih suka bermain dengan cara tertentu, tapi dalam sepuluh tahun ke depan kami akan menghadapi banyak tim yang bertahan sangat dalam.”

“Terkadang kami menghadapi tim yang lebih baik dalam hal itu, dan kami harus bertahan dengan cara itu.”

“Kami harus menerimanya, dan kami melakukannya,” ucap pelatih yang akan memasuki tahun kesepuluh masa pengabdiannya di Man City.

Baca Juga

nafa cahyani

Saya merupakan seorang content writer SEO, Teknologi, Finansial, Wisata, Resep Masakan dan lain-lain, Semoga dapat bermanfaat untuk teman semua.