Manchester United kembali menjadi sorotan, bukan hanya karena performa di lapangan, melainkan karena pencapaian finansialnya yang spektakuler. Klub berjuluk Setan Merah ini mengumumkan laporan pendapatan tahunan yang memecahkan rekor, mencapai GBP 666 juta, atau setara dengan sekitar Rp 13 triliun. Angka fantastis ini didorong oleh pertumbuhan signifikan di berbagai sektor, termasuk kesepakatan komersial, sponsorship, penjualan merchandise, serta pemasukan yang melonjak dari hari pertandingan di Old Trafford.
Namun, di balik gemerlap rekor pendapatan ini, tersimpan sebuah ironi yang memicu banyak kritik. Musim lalu, Manchester United menutup kompetisi di posisi ke-15, salah satu pencapaian terburuk dalam sejarah klub. Mereka juga gagal mengamankan satu pun trofi, setelah harus mengakui keunggulan Tottenham di final Liga Europa. Kontras tajam antara kesuksesan finansial dan hasil di lapangan ini menjadi bahan perdebatan sengit di kalangan penggemar dan pengamat sepak bola.
Melihat fenomena ini, pakar keuangan sepak bola terkemuka, Kieran Maguire, menyimpulkan bahwa Manchester United kini telah menjadi “tahan guncangan” (shockproof) terhadap hasil buruk di lapangan. “Ini menunjukkan bahwa Manchester United ‘tahan guncangan’. Ed Woodward pernah mengatakan United tidak perlu memenangkan pertandingan untuk sukses secara komersial, dan banyak orang tidak yakin tentang itu. Dalam beberapa tahun terakhir, mereka telah membuktikannya,” ujar Maguire, sebagaimana dikutip dari The Mirror pada Selasa (23/9). Pernyataan ini menegaskan bahwa daya tarik komersial klub sudah melampaui performa tim itu sendiri.
Utang Meningkat, Penggemar Lokal Terancam Tersingkir
Di tengah euforia rekor pendapatan, era baru di bawah kendali Sir Jim Ratcliffe dan Grup Ineos justru menyoroti sisi gelap lain: utang klub yang kini mencapai rekor tertinggi, mendekati GBP 1,2 miliar. Meskipun Maguire berpendapat bahwa utang ini masih dalam batas yang bisa dikelola, ia menekankan bahwa angka tersebut merupakan simbol dari masalah mendasar yang perlu diatasi. “Manchester United menghasilkan cukup uang melalui penjualan tiket, kesepakatan komersial, penjualan merchandise, dan popularitas dengan penyiar untuk mengelola utang dengan mudah. Itu bukan kekhawatiran utama, tetapi itu simbolis. Spurs memiliki banyak utang, tetapi mereka memiliki stadion baru yang fantastis; Man United memiliki banyak utang, dan mereka memiliki Glazers, dan jelas itu adalah masalah,” tegas Maguire, membandingkan konteks utang antar klub.
Selain permasalahan utang, muncul kekhawatiran serius mengenai potensi klub untuk meminggirkan basis penggemar tradisional mereka. Maguire berteori bahwa Manchester United tengah berupaya mengubah Old Trafford menjadi “lebih dari sekadar stadion sepak bola, melainkan sebuah pengalaman.” Hal ini terlihat dari rencana relokasi kursi penggemar setia yang telah lama menduduki posisinya, demi menciptakan “pengalaman premium” yang lebih ditujukan bagi turis atau penggemar kaya yang mungkin hanya datang sesekali.
“Para penggemar kini membayarnya dalam arti tertentu. Ya, itu adalah rekor pendapatan, sebagian karena pendapatan hari pertandingan naik secara signifikan, yang disebabkan oleh harga tiket yang lebih tinggi, jadi para penggemar lah yang menghasilkan ini,” jelas Maguire. “Saya pikir apa yang mereka coba lakukan adalah mengubah Old Trafford dari stadion sepak bola menjadi lebih dari sebuah pengalaman. Kita melihat penggemar tradisional, yang telah duduk bersama teman-teman mereka selama 30 tahun terakhir, dikeluarkan. Kursi mereka di belakang bangku cadangan bisa dijual sebagai ‘pengalaman manajer’.”
Lebih lanjut, Maguire memprediksi strategi Ineos akan berujung pada “marjinalisasi basis penggemar lokal dan tradisional Manchester United untuk mencoba menggantikan mereka dengan penggemar yang lebih kaya yang menginginkan sesuatu yang berkesan karena mereka hanya mendapat kesempatan untuk datang sekali atau dua kali setahun, dan mereka bersedia membayar untuk hak istimewa itu.” Ini menimbulkan pertanyaan besar tentang identitas klub dan loyalitas penggemar di masa depan.
Pada dasarnya, model bisnis Manchester United saat ini sangat bergantung pada kejayaan masa lalu di bawah kepemimpinan Sir Alex Ferguson. Reputasi global yang dibangun selama era keemasan tersebut telah menjadikan klub ini sebagai magnet finansial yang tak terbantahkan, terlepas dari seberapa buruk performa mereka di lapangan pada musim-musim belakangan ini.
“Mereka berutang besar kepada Sir Alex Ferguson, karena ia membangun merek, dengan kesuksesan mereka di era itu bertepatan dengan pertumbuhan televisi satelit ketika mereka adalah klub dominan di liga dominan, yang membawa mereka perhatian global. Sekarang mereka bisa melakukan tur pra-musim dan pasca-musim. Penggemar Man United akan datang dan menonton mereka terlepas dari posisi mereka di liga,” tambah Maguire, menggarisbawahi betapa warisan Ferguson masih menjadi tulang punggung kekuatan finansial klub.
Ringkasan
Manchester United mencatatkan rekor pendapatan tahunan sebesar GBP 666 juta, didorong oleh pertumbuhan di sektor komersial, sponsorship, penjualan merchandise, dan pendapatan dari hari pertandingan. Ironisnya, pencapaian finansial ini kontras dengan performa buruk tim di lapangan, yang memicu kritik tajam dari penggemar dan pengamat sepak bola. Pakar keuangan sepak bola, Kieran Maguire, menyatakan bahwa Manchester United kini “tahan guncangan” terhadap hasil buruk berkat daya tarik komersialnya.
Di balik rekor pendapatan, utang klub juga mencapai rekor tertinggi, mendekati GBP 1,2 miliar. Muncul kekhawatiran bahwa Manchester United berupaya mengubah Old Trafford menjadi “lebih dari sekadar stadion sepak bola, melainkan sebuah pengalaman”, yang berpotensi meminggirkan basis penggemar lokal dan tradisional demi penggemar yang lebih kaya. Strategi ini dikhawatirkan akan menggerus identitas klub dan loyalitas penggemar di masa depan.
