Marc Marquez Selamatkan Ducati GP24: Pengembangan Mentok, Potensi Bencana Teratasi!

 

Rancak Media Pengamat MotoGP, Carlo Pernat, menilai bahwa keputusan Ducati untuk merekrut Marc Marquez turut didasari potensi motor Desmosedici yang hampir mencapai batas maksimal.

Dunia MotoGP dihebohkan oleh kegemilangan Marc Marquez pada musim 2025, sebuah performa yang ironisnya sedikit menutupi isu krusial pada motor Ducati Desmosedici GP25 yang ia tunggangi. Di tengah lintasan, hanya Marquez yang tampak piawai dalam mengendalikan tunggangan terbaru dari pabrikan Borgo Panigale itu. Bukti keunggulannya tak terbantahkan: Juara Dunia delapan kali tersebut telah mengoleksi 15 kemenangan (baik balapan utama maupun sprint) ditambah 2 hasil podium lain dari total 20 balapan yang telah terselenggara.

Kenyataan ini berbanding terbalik dengan performa dua pembalap lain yang juga dibekali GP25 musim ini. Meski memiliki reputasi mentereng seperti pemenang lomba Fabio Di Giannantonio (Pertamina Enduro VR46) dan pembalap tersukses Ducati sendiri, Francesco Bagnaia, mereka hampir tak bertaji. Bagnaia secara gamblang mengeluhkan kesulitan yang dihadapinya dengan GP25, khususnya hilangnya sensasi bagus pada bagian depan motornya.

Perbedaan jomplang yang begitu mencolok ini turut menarik perhatian Carlo Pernat, sosok senior yang disegani di paddock MotoGP. Dalam interviunya bersama Men on Wheels Magazine, Pernat, yang memiliki rekam jejak panjang sebagai direktur tim hingga manajer pembalap, mengungkapkan pandangannya. Sejak awal, ia memang sudah mengendus adanya indikasi bahwa pengembangan Ducati GP25 berpotensi gagal. Bahkan, Pernat meyakini bahwa General Manager Ducati, Luigi Dall’Igna, sejatinya sudah menyadari bahwa mesin Ducati telah mulai mencapai batasnya pada motor tahun lalu (GP24).

Inilah yang diyakini menjadi akar keputusan Dall’Igna untuk merekrut Marc Marquez, sebuah langkah strategis yang penuh risiko. Pasalnya, keputusan tersebut berarti mengabaikan proyek pengembangan pembalap muda yang telah mereka jalankan dengan konsisten selama bertahun-tahun. Sebagai konsekuensi dari kedatangan Marquez, tiga jagoan muda Ducati – Jorge Martin, Marco Bezzecchi, serta Enea Bastianini (yang hingga tahun lalu diasuh langsung oleh Pernat) – memilih untuk hengkang dari skuad Ducati.

“Saya tidak pernah menyembunyikan fakta bahwa saya sangat kritis terhadap Ducati,” jelas Pernat, yang tahun lalu harus mencarikan tim baru untuk Bastianini. “Mengambil Marc Marquez berarti mengingkari kebijakan pengembangan talenta muda sendiri yang telah mereka lakukan di Borgo Panigale selama bertahun-tahun. Namun sekarang harus dikatakan bahwa Gigi Dall’Igna membuat keputusan tepat. Angka-angka dan hasil berbicara sendiri.” Ia melanjutkan, “Jelas Gigi tahu bahwa proyek Desmosedici telah mencapai garis akhir.”

Takdir Marc Marquez Menang pada MotoGP Jerman 2025 Didukung Semesta, Francesco Bagnaia Dipecundangi Lagi

Dengan demikian, Pernat berada dalam pandangan bahwa motor Ducati GP25 tidak dirancang khusus untuk Marquez seorang. Sebaliknya, Ducati paham betul bahwa bakat luar biasa pembalap berjuluk ‘Alien’ itu memang bisa menjadi solusi vital jika terjadi kekeliruan dalam pengembangan motor musim ini.

Sebagai perbandingan, motor Desmosedici GP24 begitu berkuasa tahun lalu, dengan tiga pembalap berbeda berhasil memenangi 16 dari 20 balapan utama. Bagnaia menjadi yang paling dominan dengan meraih 11 kemenangan di antaranya. Ironisnya, tahun ini sosok yang paling menikmati performa GP24 adalah Alex Marquez (BK8 Gresini Racing). Dengan motor GP24, ia secara konsisten mampu mengisi posisi dua besar bersama sang kakak, Marc, menunjukkan bahwa potensi motor tersebut masih sangat besar.

“Jelas bahwa GP25 adalah motor yang tidak sempurna,” kata Pernat menegaskan. “Gigi mungkin tahu bahwa setelah GP24, mustahil untuk meningkatkannya dan sangat mudah untuk malah membuatnya jadi lebih buruk. Jadi dia memutuskan untuk mendapatkan pembalap yang bisa membuat perbedaan lebih dari yang lain.” Pernat melanjutkan argumennya, “Itu tidak berarti bahwa mereka membuat motor untuk Marquez, itu omong kosong besar. Tetapi, tahu akan mengambil risiko langkah mundur secara teknis, mereka memilih pembalap yang mampu mengambil dua langkah lebih maju daripada yang lain.”

Alasan Francesco Bagnaia Dianggap Lebih Hebat dari Dani Pedrosa Diungkap Marco Bezzecchi Jelang MotoGP Jerman 2025

Ringkasan

Pengamat MotoGP, Carlo Pernat, menilai bahwa Ducati merekrut Marc Marquez karena potensi motor Desmosedici GP25 hampir mencapai batas maksimal atau bahkan mengalami kemunduran teknis dari GP24. Marquez menunjukkan performa gemilang dengan GP25, meraih banyak kemenangan, sementara pembalap lain seperti Francesco Bagnaia justru kesulitan. Bagnaia mengeluhkan masalah pada bagian depan motor GP25, mengindikasikan ketidaksempurnaan pengembangan motor tersebut.

General Manager Ducati, Luigi Dall’Igna, diyakini telah menyadari batasan teknis ini dan mengambil risiko dengan GP25. Oleh karena itu, ia merekrut Marquez sebagai langkah strategis untuk mengkompensasi potensi kemunduran teknis, meskipun itu berarti mengesampingkan program pengembangan pembalap muda mereka. Pernat menegaskan bahwa Marquez tidak diberikan motor khusus, melainkan dipilih karena bakatnya yang luar biasa dapat mengatasi potensi kelemahan pada motor GP25.

Baca Juga

nafa cahyani

Saya merupakan seorang content writer SEO, Teknologi, Finansial, Wisata, Resep Masakan dan lain-lain, Semoga dapat bermanfaat untuk teman semua.