
Rancak Media – , JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat ke level 8.667,20 pada perdagangan, Selasa (16/12/2025). Kenaikan ini sejalan dengan pertumbuhan saham DSSA, AMMN, TLKM dan UNVR.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG naik 0,20% atau 17,53 poin ke level 8.667,20 hingga pukul 09.02 WIB. Hari ini, IHSG bergerak pada level terendah 8.656,02 dan sempat ke posisi tertingginya di 8.700,86.
Tercatat, sebanyak 260 saham menguat, 212 saham terkoreksi, dan 181 saham stagnan. Adapun kapitalisasi pasar mencapai Rp15.851,9 triliun.
Saham dengan kapitalisasi pasar jumbo yang menguat antara lain PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) sebesar 6,25% ke Rp107.150 dan saham PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) tumbuh 1,92% ke Rp6.625.
Sementara itu, saham emiten pelat merah PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) meningkat 1,44% menuju level Rp3.520 per saham dan PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) tumbuh 0,70% menjadi Rp4.320 per saham.
Sebaliknya saham PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) melemah 1,84% menjadi Rp9.325 per saham, sementara PT Astra International Tbk. (ASII) terkoreksi sebesar 1,14% ke level Rp6.525 per saham.
: : IHSG Hari Ini (16/12) Diproyeksi Sideways, Cek Saham BBNI, BBCA, hingga ICBP
Lebih lanjut, saham yang masuk jajaran top gainers hari ini meliputi PT Puri Sentul Permai Tbk. (KDTN) yang melesat 25% ke Rp850 dan saham PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk. (SOCI) terapresiasi 25% ke Rp2.800.
Di sisi lain, saham dengan penurunan paling besar atau top losers dihuni oleh saham PT Citatah Tbk. (CTTH) yang turun 14,68% menjadi Rp186 dan saham PT Jobubu Jarum Minahasa Tbk. (BEER) terkoreksi 9,23% menjadi Rp236.
: : IHSG Rawan Lanjut Koreksi, Cek Rekomendasi Saham AADI, BRPT, ISAT, dan SIDO
Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih, menyampaikan bahwa IHSG pada perdagangan hari ini diproyeksikan masih bergerak melemah dalam kisaran 8.600–8.700, dipengaruhi kombinasi sentimen domestik dan global.
Dari dalam negeri, tekanan IHSG masih berasal dari aksi profit taking pada saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya kelompok konglomerasi. Pergerakan ini sejalan dengan pelemahan bursa saham di Asia Pasifik.
“Sementara itu, investor asing inflow di seluruh pasar terutama saham perbankan big caps menjelang keputusan BI Rate,” ujar Ratih.
Bank Indonesia (BI) sebelumnya melaporkan bahwa posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Oktober 2025 turun menjadi US$423,9 miliar dibandingkan September 2025 sebesar US$425,6 miliar.
Adapun rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat sebesar 29,3% pada Oktober 2025, atau lebih rendah jika dibandingkan dengan 30,4% pada kuartal II/2025 dan 29,5% pada kuartal III/2025.
Dari global, Ratih menuturkan pasar saham Amerika Serikat kembali melemah pada awal pekan. Indeks Nasdaq turun 0,59% dan S&P 500 terkoreksi 0,16% pada perdagangan Senin (15/12/2025).
Tekanan di Wall Street dipicu oleh panduan kinerja yang kurang meyakinkan dari sejumlah emiten teknologi besar, seperti Oracle dan Broadcom, terkait prospek bisnis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
________
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
