ENRG Ungkap Kans Kerja Sama dengan Raksasa Migas Shell, Bagaimana Prospeknya?

 

Emiten Grup Bakrie PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) memberikan lampu hijau peluang atas kerja sama atas ancang-ancang kembalinya perusahaan minyak dan gas (migas) asal Inggris, Shell plc berinvestasi di sektor hulu migas RI. Apabila perusahaan migas raksasa tersebut benar kembali berinvestasi di Tanah Air, Shell plc diwajibkan untuk menjalin kerja sama bersama dengan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) eksisting. 

Direktur ENRG Tri Firmanto mengatakan hingga saat ini belum ada pembahasan resmi mengenai potensi kerja sama tersebut. Meski begitu, dia tak menampik adanya kerja sama dengan investor asing. 

Tri mencontohkan peluang kerja sama bisa dijalin ENRG bersama investor dari Jepang, Japan Petroleum Exploration Co. Ltd (JAPEX) di blok Gebang. Ia menegaskan seluruh blok migas ENRG saat ini masih dikembangkan secara mandiri.

“Jadi potensi untuk kerja sama, untuk merger, semuanya itu masih terbuka sekali,” kata Tri ketika ditemui wartawan pada Senin (1/12).

Baca juga:

  • OJK dan OECD Sepakat Kembangkan Transformasi Digital Jasa Keuangan
  • Sinyal Kongsi Salim-Bakrie (BUMI) Akuisisi Aset Mineral Baru, Intip Kisi Kinerja
  • Katalis Jumbo Emiten Bakrie ENRG, Temukan Sumur Baru di Tengah Lonjakan Harga

Di sisi lain, Tri mengatakan untuk saat ini perusahaan masih fokus pengembangan secara mandiri dari perusahaan sendiri, dari kolaborasi sendiri untuk mengembangkan blok-blok organik kita,

Sementara itu, Wakil Direktur Utama ENRG Edoardus Ardianto memandang rencana kembalinya Shell plc berinvestasi di sektor hulu migas RI merupakan hal yang positif. Menurutnya, masuknya perusahaan global akan membantu pemerintah menarik lebih banyak investasi ke sektor migas. 

“Jadi ujungnya kan bisa membantu pertumbuhan sektor migas di Indonesia,” ujar Edoardus. 

Edoardus menyampaikan perseroan telah menyiapkan dana sebesar US$ 200 juta atau setara dengan Rp 3,3 triliun sebagai belanja modal atau capital expenditure di tahun 2026. Nantinya, dana tersebut akan digunakan perseroan untuk menggarap aksi-aksi korporasi sepanjang tahun 2026. 

Sederet Aksi Korporasi Menanti

Perusahan juga menyampaikan niatnya mengakuisisi sejumlah blok minyak dan gas (migas) baru di dalam maupun luar negeri. Anggaran sebesar Rp 3,3 triliun merupakan bagian dari total anggaran US$ 1,4 miliar atau sekitar Rp 23 triliun yang telah perseroan rencanakan untuk sepanjang tahun 2025-2035. 

Dana akan dialokasikan untuk menunjang kegiatan bisnis ENRG seperti pengeboran 30 sumur eksplorasi, sekitar 130 sumur pengembangan, serta maintenance capex untuk 106 sumur guna menjaga tingkat produksi hingga 2030.

Ia menjelaskan bahwa rencana jangka panjang tersebut sejalan dengan roadmap 2026, yang menekankan pengembangan aset migas eksisting melalui kombinasi eksplorasi dan pengembangan. Dengan strategi itu, ENRG menargetkan peningkatan produksi migas secara signifikan dalam enam tahun ke depan.

“Produksi kami saat ini sekitar 50 ribu barrel setara minyak per hari. Harapannya bisa naik dua kali lipat pada 2030 secara organik,” katanya.

Selain pertumbuhan organik, ENRG juga membuka ruang ekspansi anorganik melalui akuisisi aset migas yang sudah berproduksi. Namun, Edoardus menegaskan bahwa alokasi dana khusus untuk akuisisi tidak dapat ditetapkan secara pasti karena nilai setiap aset sangat bervariasi.

Ia menambahkan, perseroan menargetkan kenaikan produksi pada tahun depan. “Kami berharap ada peningkatan sekitar 10% year on year, sehingga pendapatan juga terdampak positif,” ujarnya.

Baca Juga

Tags

Rancak

Saya seorang penulis konten dengan pengalaman di bidang SEO, teknologi, dan keuangan. Saya berspesialisasi dalam membuat konten yang menarik dan ramah mesin telusur yang membantu mengarahkan lebih banyak lalu lintas ke situs web. Saya telah membantu banyak klien mencapai tujuan mereka untuk meningkatkan visibilitas mereka secara online, meningkatkan peringkat situs web mereka di mesin telusur, dan membuat konten menarik yang mendorong jumlah pembaca.