AKRA Raup Untung Gede Rp 1,6 Triliun Meski Stok BBM Bermasalah!

 

Di tengah tantangan kelangkaan stok bahan bakar minyak (BBM) di jaringan SPBU British Petroleum (BP), PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) justru berhasil membukukan kinerja finansial yang impresif. Emiten pengelola SPBU BP ini sukses mencatatkan laba bersih sebesar Rp 1,65 triliun pada kuartal ketiga tahun ini, menunjukkan pertumbuhan solid 13,01% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp 1,46 triliun.

Presiden Direktur AKRA, Haryanto Adikoesoemo, menegaskan bahwa pencapaian kinerja hingga kuartal ketiga ini tidak terlepas dari fundamental bisnis perusahaan yang kokoh. Menurutnya, infrastruktur yang terintegrasi, diversifikasi usaha yang strategis, serta disiplin keuangan yang ketat menjadi pilar utama di balik pertumbuhan positif ini.

Salah satu motor penggerak utama lonjakan laba AKRA adalah peningkatan signifikan pendapatan berulang dari kawasan industri terpadu, Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE). “Pendapatan dari segmen utilitas industri JIIPE tumbuh pesat dibandingkan tahun sebelumnya, membentuk sumber pendapatan berulang baru yang kuat,” jelas Haryanto, seperti dikutip pada Jumat (25/10). Segmen kawasan industri ini mencatat pendapatan Rp 1,26 triliun, didorong oleh kenaikan pendapatan utilitas hingga 199%, yang dilengkapi dengan monetisasi lahan dan pendapatan sewa yang stabil.

Peningkatan pendapatan berulang dari JIIPE ini mulai terealisasi seiring dengan beroperasinya penyewa utama secara penuh dan ekspansi kapasitas produksi mereka. JIIPE sendiri dikembangkan sebagai ekosistem industri berkelas dunia, dengan fokus pada pengolahan tembaga, bahan kimia, dan energi terbarukan. Hal ini sejalan dengan visi pemerintah dalam mendorong hilirisasi dan peningkatan nilai tambah industri nasional.

Secara keseluruhan, pendapatan dari kontrak dengan pelanggan AKRA selama periode Januari–September 2025 meningkat menjadi Rp 32,14 triliun, dari Rp 28,40 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, pendapatan sewa juga mengalami kenaikan dari Rp 208,89 miliar menjadi Rp 219,34 miliar. Dengan demikian, total pendapatan AKRA dalam sembilan bulan pertama tahun ini mencapai angka impresif Rp 32,39 triliun.

Menatap masa depan, AKRA berencana memperkuat segmen perdagangan dan distribusi. Fokus utamanya adalah ekspansi ke wilayah Indonesia Timur serta penguatan jaringan Business-to-Consumer (B2C). “Kami tetap optimistis bahwa dengan semakin kuatnya iklim investasi di Indonesia, penjualan lahan di Kawasan Ekonomi Khusus Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE SEZ) akan meningkat, yang pada akhirnya akan mendorong pertumbuhan pendapatan utilitas berulang,” ujar Haryanto, memproyeksikan potensi pertumbuhan dari aset strategis perusahaan.

Namun, di balik gemilangnya kinerja finansial, jaringan SPBU BP yang dikelola oleh AKRA sempat dihadapkan pada isu kelangkaan stok BBM yang signifikan sejak pertengahan Agustus 2025. Pada awal bulan ini, BP-AKR bahkan menyatakan bahwa hanya satu atau dua SPBU mereka yang masih menjual bensin. Cadangan stok Solar mereka kala itu hanya cukup untuk 17 hari, sementara pasokan bensin telah kosong sepenuhnya.

Menyikapi kondisi ini, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengambil langkah proaktif. Dirjen Migas Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengungkapkan bahwa seluruh pengelola SPBU swasta, termasuk BP, telah sepakat untuk melakukan negosiasi dengan Pertamina terkait pembelian BBM. “Semua sudah bernegosiasi sekarang. Sebelumnya kan ada yang belum, sekarang yang belum itu sudah bernegosiasi,” kata Laode Sulaeman pada Jumat (24/10) setelah Upacara Hari Jadi Pertambangan dan Energi di Monumen Nasional (Monas), seperti dikutip Antara. Sebelumnya, PT Vivo Energy Indonesia (Vivo) dan PT Aneka Petroindo Raya (APR)-AKR Corporindo Tbk (pengelola SPBU BP) telah menjalin negosiasi tersebut.

Di tengah tantangan operasional di segmen SPBU, AKRA dengan sigap memacu penjualan lahan di JIIPE. Target ambisius 100 hektare (Ha) ditetapkan untuk penjualan lahan tahun ini. Hingga semester pertama 2025, perusahaan telah berhasil merealisasikan penjualan 22 Ha, dan kini berupaya keras untuk menuntaskan sisa target pada paruh kedua tahun ini. “Berdasarkan tren dua tahun terakhir, penjualan lahan terbesar biasanya terjadi pada kuartal keempat. Kami berharap dapat menuntaskan penjualan lahan baru di kuartal IV tahun ini,” tutup Haryanto, menunjukkan keyakinan akan momentum penjualan di akhir tahun.

Ringkasan

PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) berhasil membukukan laba bersih impresif Rp 1,65 triliun pada kuartal ketiga tahun ini, tumbuh 13,01% dibanding periode yang sama tahun lalu, di tengah tantangan kelangkaan stok BBM di jaringan SPBU BP. Kinerja positif ini didorong oleh fundamental bisnis yang kokoh, serta peningkatan signifikan pendapatan berulang dari kawasan industri terpadu Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE). Pendapatan utilitas JIIPE tumbuh pesat hingga 199%, yang dilengkapi dengan monetisasi lahan dan pendapatan sewa yang stabil, membawa total pendapatan AKRA mencapai Rp 32,39 triliun selama sembilan bulan pertama tahun ini.

Namun, AKRA menghadapi isu kelangkaan stok BBM di SPBU BP sejak pertengahan Agustus 2025, yang mendorong Kementerian ESDM memfasilitasi negosiasi pasokan BBM antara pengelola SPBU swasta dan Pertamina. Sebagai respons, AKRA memacu penjualan lahan di JIIPE dengan target ambisius 100 hektare untuk tahun ini. Perusahaan juga berencana memperkuat segmen perdagangan dan distribusi, serta optimistis terhadap potensi pertumbuhan penjualan lahan di JIIPE di masa mendatang.

Baca Juga

Tags

nafa cahyani

Saya merupakan seorang content writer SEO, Teknologi, Finansial, Wisata, Resep Masakan dan lain-lain, Semoga dapat bermanfaat untuk teman semua.