Saham Bank Mandiri & BCA Anjlok: Dampak BI Tahan Suku Bunga?

 

Rancak Media – , JAKARTA – Mayoritas saham emiten perbankan di pasar modal Indonesia tergelincir ke zona merah pada perdagangan hari ini, Rabu (22/10/2025). Penurunan signifikan ini terjadi pasca pengumuman Bank Indonesia (BI) yang memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Oktober 2025.

Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), sejumlah saham bank, mulai dari bank swasta hingga bank syariah, mengalami tekanan jual. Di antaranya adalah PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN), dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS).

Di antara para emiten tersebut, saham BBTN mencatatkan penurunan paling tajam, anjlok sebesar 4,49% atau 55 poin, berakhir di level Rp1.170 per saham. Meskipun demikian, secara tahun berjalan (year to date/YtD), saham BBTN masih menunjukkan kenaikan positif sebesar 2,63% atau 30 poin. Sementara itu, BBCA turut terpuruk 3,24% atau 275 poin ke Rp8.900 per saham, dengan catatan penurunan YtD yang lebih dalam, yakni 15,25% atau 1.475 poin. Saham BRIS juga tidak luput dari tekanan, terkoreksi 1,87% atau 50 poin menjadi Rp2.620 per saham dan secara YtD turun 4,03% atau 110 poin.

Penurunan juga merambah saham perbankan BUMN lainnya. BBRI melemah 1,60% atau 60 poin, menutup perdagangan di Rp3.700 per saham, serta mencatatkan penurunan 9,31% YtD atau 380 poin. Selanjutnya, BBNI mencatat koreksi tipis 0,49% atau 20 poin ke level Rp4.030 per saham, dengan penurunan YtD 7,36% atau 320 poin. Terakhir, saham BMRI terpantau turun 0,46% atau 20 poin pada hari ini ke Rp4.330 per saham. Menariknya, secara tahun berjalan, saham bank berlogo pita emas ini menunjukkan penurunan paling dalam di antara yang lain, yakni 24,04% atau 1.370 poin.

Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menjelaskan bahwa gejolak di pasar saham perbankan ini merupakan respons langsung dari pelaku pasar. Ia menuturkan, saham-saham perbankan sempat mengalami penguatan pada Selasa (21/10/2025) lalu, dipicu oleh ekspektasi pasar akan adanya pemangkasan suku bunga acuan BI di bulan Oktober 2025. “Tapi ternyata kenyataannya adalah BI tetap jaga suku bunga di level 4,75% suku bunga BI Rate ya, untuk menjaga stabilitas moneter. Makanya ya kalau kita lihat saham-saham bank yang kemarin sempat naik langsung marak aksi profit taking,” ungkap Myrdal kepada Bisnis, Rabu (22/10/2025).

Oleh karena itu, Myrdal menegaskan bahwa koreksi saham-saham perbankan hari ini sangat erat kaitannya dengan reaksi pelaku pasar terhadap keputusan Bank Indonesia yang konsisten mempertahankan BI Rate. Sentimen ini memicu investor untuk melakukan aksi ambil untung setelah ekspektasi penurunan suku bunga tidak terpenuhi, sehingga menekan pergerakan indeks saham perbankan.

Meskipun terjadi penurunan, Myrdal tetap optimistis terhadap prospek saham perbankan ke depannya. Ia menilai, kondisi ekonomi Indonesia saat ini cukup baik, terutama di bawah kepemimpinan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa. Selain itu, koordinasi yang solid antara pemerintah, BI, dan regulator terkait lainnya juga menjadi faktor pendukung. Myrdal juga menyoroti upaya Bank Indonesia yang terus mendorong perbankan untuk mentransmisikan tren penurunan suku bunga yang sudah terjadi lebih dari 100 basis poin pada BI Rate.

Myrdal berharap penurunan BI Rate tersebut dapat direspons oleh perbankan dengan menurunkan suku bunga pinjaman (lending rate) maupun suku bunga deposito (deposit rate). “Kalau saya lihat dari sisi perbankan masih menarik. Apalagi juga beberapa emiten perbankan [negara] valuasinya masih cukup murah ya. Seperti BBNI yang kalau saya lihat ini kelihatannya masih relatif menarik,” pungkasnya, memberikan sinyal positif pada beberapa saham bank.

Sebagai informasi, Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa keputusan untuk mempertahankan BI Rate pada level 4,75% diambil dengan mempertimbangkan sejumlah indikator perekonomian, baik di kancah global maupun domestik, termasuk perkembangan kredit di sektor perbankan. “Keputusan ini konsisten dengan perkiraan inflasi 2025-2026,” ujar Perry, Rabu (22/10/2025). Sejalan dengan itu, bank sentral juga tetap mempertahankan suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75% dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,5%.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Ringkasan

Mayoritas saham perbankan di pasar modal Indonesia, termasuk BBCA dan BMRI, mengalami penurunan signifikan pada 22 Oktober 2025. Penurunan ini dipicu oleh keputusan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 4,75%, bertolak belakang dengan ekspektasi pasar akan pemotongan suku bunga. Reaksi ini memicu aksi ambil untung oleh pelaku pasar, dengan saham BBTN mencatat penurunan harian paling tajam.

Ekonom Global Markets Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menjelaskan bahwa koreksi ini adalah respons langsung terhadap keputusan BI untuk menjaga stabilitas moneter. Namun, ia tetap optimistis terhadap prospek saham perbankan, didukung oleh kondisi ekonomi yang baik dan koordinasi pemerintah-BI yang solid. Myrdal juga menyebut BI terus mendorong perbankan untuk mentransmisikan penurunan suku bunga yang sudah ada, dengan beberapa valuasi saham bank masih menarik.

Baca Juga

nafa cahyani

Saya merupakan seorang content writer SEO, Teknologi, Finansial, Wisata, Resep Masakan dan lain-lain, Semoga dapat bermanfaat untuk teman semua.