
Indeks bursa Amerika Serikat Wall Street ditutup naik pada perdagangan Rabu (9/10) waktu setempat. Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite mencatat rekor penutupan tertinggi sepanjang masa, sementara Dow Jones Industrial Average stagnan.
Kenaikan Wall Street dipimpin oleh saham teknologi di tengah minimnya rilis data ekonomi akibat penutupan sementara pemerintahan (shutdown) AS. Investor juga mencermati risalah pertemuan terakhir Federal Reserve alias The Fed untuk mencari petunjuk arah kebijakan suku bunga berikutnya.
Dow Jones turun tipis 1,20 poin atau 0,00% ke level 46.601,78. S&P 500 naik 39,13 poin atau 0,58% menjadi 6.753,72, sedangkan Nasdaq Composite melonjak 255,02 poin (1,12%) ke 23.043,38.
Saham-saham teknologi mencatatkan kenaikan terbesar, terutama emiten berkapitalisasi besar (megacaps) yang terkait pengembangan kecerdasan buatan atau AI. Saham hip memimpin penguatan, sementara sektor energi, barang konsumsi pokok dan properti tertinggal.
Asosiasi Bank Hipotek AS melaporkan permintaan kredit rumah turun 4,7% pada pekan lalu, meskipun suku bunga mulai menurun.
“Temanya terus berlanjut, yaitu pertumbuhan agresif, dengan pasokan pengumuman kesepakatan yang konstan, satu demi satu, yang terkait dengan bidang AI. Apa pun yang berkaitan dengan AI menarik banyak perhatian,” kata Kepala Riset Pasar Modal di US Bank Wealth Management Bill Merz dikutip dari Reuters, Rabu (8/10) waktu AS.
Euforia terhadap AI dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi serta geopolitik membuat investor beralih ke aset aman. Harga emas menembus ambang US$ 4.000 per ons, tertinggi dalam sejarah.
“Kita telah menyaksikan dalam beberapa tahun terakhir, saham dan aset safe haven dapat bekerja sama. Sebagian dari hal itu berasal dari realitas ganda bahwa fundamental, untuk saat ini, mendukung valuasi yang lebih tinggi dari biasanya, dan pada saat yang sama, pengeluaran defisit harus dibiayai oleh utang tambahan,” ujar Merz.
Sementara itu, penutupan pemerintah AS memasuki hari kedelapan. Kebuntuan di Kongres membuat pasar kehilangan data ekonomi resmi dalam waktu dekat. Akibatnya, investor menanti awal musim laporan keuangan kuartal ketiga pekan depan untuk mencari arah baru.
Risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) menunjukkan perbedaan pandangan di antara para pembuat kebijakan. Beberapa anggota menilai pelonggaran kebijakan moneter masih diperlukan tahun ini, namun waktu dan besarannya masih belum pasti.
“Diskusi yang sedang hangat adalah tentang seberapa besar pemangkasan suku bunga The Fed dan seberapa ketat kebijakannya,” kata Kepala Manajemen Portofolio di Horizon Investments, Charlotte, North Carolina, Zachary Hill.
Ia menambahkan, absennya data ekonomi akibat penutupan pemerintah membuat posisi The Fed semakin sulit dalam mengambil keputusan.
Pasar keuangan kini memperkirakan peluang 92,5% bahwa The Fed akan memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada pertemuan akhir bulan ini, 29 Oktober.
Dari 11 sektor utama di S&P 500, sektor teknologi menjadi penopang utama penguatan indeks, sementara energi mencatat penurunan paling tajam.
Di antara saham-saham yang ramai diperbincangkan perdagangan kemarin adalah, Datadog naik 6,2% setelah Bernstein menaikkan target harga saham, Intercontinental Exchange turun 2,2% usai pemangkasan target harga oleh Barclays dan Fair Isaac Corp anjlok 9,8% setelah Equifax mengumumkan rencana menawarkan skor kredit hipotek yang lebih murah.
Sementara itu, harga emas yang melonjak mengangkat saham tambang emas Newmont dan Gold Fields, masing-masing naik 1,7% dan 3,7%.
Jumlah saham yang naik di Bursa Efek New York (NYSE) melebihi yang turun dengan rasio 1,74:1, sedangkan di Nasdaq rasio kenaikan terhadap penurunan mencapai 1,81:1.
S&P 500 mencatat 35 rekor tertinggi baru dan 6 terendah dalam 52 minggu terakhir, sementara Nasdaq mencatat 129 rekor tertinggi dan 62 terendah baru.
Volume perdagangan saham di bursa AS Wall Street mencapai 20,7 miliar lembar, lebih tinggi dari rata-rata 19,63 miliar untuk sesi penuh selama 20 hari terakhir.
