Indonesia Diuntungkan dari Perang Dagang Amerika Serikat – Cina

 

Pergeseran rantai pasok saat ini disebut tengah terjadi di sejumlah negara. Hal ini terjadi karena sejumlah hal mulai dari dampak pandemi hingga pengenaan tarif impor oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Lembaga konsultasi Roland Berger mengatakan, situasi ini bisa menjadi berkah bagi negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Hal ini karena RI bisa menerima investasi dari perpindahan fasilitas produksi, terutama dari Cina karena adanya hambatan dagang.

“Jadi, sebenarnya Indonesia sangat diuntungkan dari perang dagang AS-Cina karena perusahaan memindahkan pabrik mereka dari Cina ke Asia Tenggara,” kata Managing Partner Roland Berger Southeast Asia, John Low, dalam sebuah wawancara dengan Katadata di Kuala Lumpur, Malaysia pada akhir September 2025.

Menurut Low, Indonesia punya potensi karena jumlah penduduk yang besar, angkatan kerja yang memadai, hingga keterampilan dalam manufaktur. Meski demikian, RI juga menghadapi sejumlah tantangan.

Baca juga:

  • Indonesia Dinilai Masih Punya Tiga Kendala untuk jadi Pusat Rantai Pasok Global
  • RI dan Negara ASEAN Diminta Perkuat Integrasi agar Kuasai Rantai Pasok Global

Dalam studi yang dilakukan Roland Berger, mereka memetakan tiga tantangan Indonesia jika ingin menjadi pusat rantai pasok global: logistik, infrastruktur dan hambatan pelabuhan, serta aturan konten lokal.

“Ketika kami membantu perusahaan untuk masuk ke Indonesia, satu hal negatif tentang Indonesia adalah logistik,” katanya.

Dalam wawancara tersebut, Low juga bicara soal potensi nikel Indonesia, relasi perdagangan AS-Cina, hingga persepsi investor kepada pemerintahan Prabowo Subianto. Berikut petikan wawancaranya.

Bisa Anda jelaskan dampak kebijakan terkini tarif Trump ke rantai pasok dunia, terutama di Asia? ?

Amerika Serikat selalu jadi negara adidaya dan pada dasarnya mereka mendominasi segalanya. Mereka punya pasar konsumen terbesar. Mereka pemimpin dalam merek, produk konsumen, dan teknologi. Jadi, mereka benar-benar mendominasi pasar, mendominasi dunia. Saya akan bilang, mungkin mereka sekarang melihat kebangkitan Cina, karena sekarang Cina juga punya pasar domestik yang sangat kuat.

Pada dasarnya, Cina bagus di bidang manufaktur. Mereka juga belajar meniru serta banyak riset dan pengembangan sehingga bisa membuat mesin sendiri. Jadi, sekarang ada kebangkitan di Cina yang begitu cepat, sehingga AS menjadi khawatir.

It sebabnya sejak dahulu, bahkan saat era Biden (Presiden AS Joe Biden), Trump, semuanya mengeluarkan kebijakan yang mencoba melindungi kepentingan AS. Mereka telah melihat bahwa sekarang Cina sangat maju dalam teknologi. AS juga tahu bahwa siapa pun yang mengendalikan teknologi di masa depan akan menjadi negara adidaya.

(Lalu) AS melarang Huawei menggunakan produk Huawei di telekomunikasi mereka (buatan AS). Mereka bilang, “Kami akan kehilangan rahasia kami.” Padahal, tidak.

Jika tidak, lalu untuk apa?

Itu benar-benar untuk menghalangi Huawei mendominasi pasar AS. Menghentikan Huawei menjual lebih banyak teknologi di AS karena pasarnya besar. AS tidak bisa menghentikannya karena ini perdagangan bebas. Jadi, satu-satunya hal yang bisa mereka lakukan adalah menyalahkan.

Sekarang ada (rivalitas) Cina versus AS. Dan AS sudah tahu Cina bisa berdiri sendiri sekarang.  Mereka tidak mengizinkan Google, mereka punya Huawei, punya IoT (internet of things) mereka sendiri. Bahkan, lebih dahsyat dari yang dilakukan AS. Jadi, Cina tahu itu akan menjadi masalah bagi AS.

Merespons hal tersebut, Trump akan mengenakan tarif. Menggunakannya sebagai alasan, tapi sebenarnya menciptakan hambatan perdagangan AS-Cina.

Dari situasi persaingan seperti ini, apa dampaknya ke kawasan Asia Tenggara?

Ini (sebenarnya) tak ada hubungannya dengan Asia Tenggara. Tapi, karena mereka (AS) mungkin tahu bahwa Cina mungkin punya pabrik di Indonesia. Jadi, AS harus mengenakan pajak ke Indonesia karena ada barang-barang atau perusahaan-perusahaan Cina yang melalui Indonesia.

Situasi sejumlah negara seperti Indonesia akan mirip Vietnam?

Sama. AS akan melihat berapa banyak Cina mengekspor ke Indonesia dan akan menanyakan mengapa Indonesia membeli dari Cina dan bukan AS. Jadi, AS akan memaksa Indonesia untuk membeli lebih banyak produk AS, baik itu jagung, gandum, belum lagi barang-barang berteknologi tinggi. Bagaimana AS meningkatkan perdagangan dengan Indonesia sehingga Indonesia mengurangi perdagangan dengan Cina. Pada akhirnya, ini tetap tentang Cina.

Tapi sejumlah negara sudah mulai bernegosiasi, bagaimana ke depannya?

Semua negara bernegosiasi. Tapi tetap saja, jika Anda berbuat lebih banyak dengan AS, kemungkinan besar Anda akan berbuat lebih sedikit dengan Cina dan seluruh dunia. AS ingin menjadi negara adidaya yang juga mengendalikan perdagangan, bukan hanya teknologi. Sebagai gantinya, mereka mungkin akan menjual lebih banyak teknologi kepada Anda, tetapi mereka membeli sumber daya dari Anda. Jika Anda membeli teknologi dari AS, berarti Anda juga membeli lebih sedikit teknologi dari Cina.

Jadi, apakah itu sebabnya studi Roland Berger mengatakan bahwa negara-negara ASEAN lebih tahan terhadap tarif? Apakah karena dibandingkan dengan Cina?

Saya akan menjawab iya. Karena, di mana pusat manufaktur berbiaya rendah di dunia? Selain Cina, maka ada Indonesia, Vietnam, Thailand, Malaysia, Filipina, dan Asia Tenggara.

Ke mana lagi mereka (investor) akan pergi? Mereka  tidak bisa pergi ke Afrika karena infrastrukturnya belum terbangun di sana. Mungkin mereka bisa ke Meksiko atau Amerika Latin, tetapi di tempat lain seperti Eropa sudah terlalu mahal. Tidak ada tujuan lain. Itu lah menurut saya mengapa kita masih tangguh, karena tak ada tujuan lain bagi mereka (investor).

Lalu bagaimana situasi ini mempengaruhi wilayah lain di dunia? Uni Eropa, misalnya.

Jadi, Eropa tentu saja merupakan kekuatan besar tersendiri. Terutama dari Jerman, Italia, Prancis, Spanyol. Jadi ada basis konsumen yang sangat kuat di Eropa. Kami juga menyebut mereka tengah mengalami reindustrialisasi.  Sebagai contoh,  industri otomotif di Hungaria dan Polandia sangat besar. Lalu, ada sektor energi dan consumer goods. Eropa juga merupakan kekuatan sendiri dan kita tidak bisa mengabaikan mereka. 

Itulah mengapa kita katakan sekarang, ada tiga kawasan yang jelas sedang membangun wilayah mereka sendiri: Eropa, AS, dan Asia. Tetapi Eropa, menurut saya, sampai batas tertentu, bergantung pada AS. Mereka tidak bisa terlalu independen dari AS. Itulah mengapa Eropa masih berusaha bersikap positif kepada AS, karena berbagai alasan.

Menurut Anda, apakah Indonesia memperoleh keuntungan paling besar dari pergeseran rantai pasokan regional seperti ini saat ini?

Tentu saja, sektor manufaktur secara umum dapat dimanfaatkan oleh Indonesia karena biayanya masih rendah, tenaga kerjanya melimpah baik terampil maupun tidak terampil. Tenaga kerjanya masih murah dan pasokannya baik.

Apa yang membuat Indonesia masih menarik?

Pada dasarnya Indonesia juga memiliki pasar konsumen lokal yang besar. Jadi, orang-orang tidak hanya datang untuk melihat Indonesia, membangun manufaktur, lalu mengekspor barang. Mereka melakukannya juga karena dapat menembus pasar lokal Indonesia. Karena pertumbuhannya sangat cepat, 280 juta orang. Hampir seukuran AS.

Jadi, Anda punya pasar yang besar, orang-orang ingin datang. Anda masih punya keunggulan biaya rendah. Secara umum, saya rasa semua industri bisa diuntungkan.

Sekarang kuncinya adalah bagaimana agar Indonesia tidak hanya menjadi basis produksi berbiaya rendah. Bagaimana masing-masing industri ini harus bergerak maju untuk melakukan lebih banyakriset dan pengembangan (R&D) agar tidak hanya menjadi komoditas manufaktur sumber daya berbiaya rendah. Jadi, semua industri bisa mendapatkan keuntungan.

Itu bagian dari insentif pajak yang diberikan pemerintah. Anda harus bernegosiasi untuk memberi tahu mereka, “Oke, saya tidak ingin Anda datang hanya untuk membangun pabrik. Saya ingin anda membawa beberapa komponen R&D dari perusahaan ini ke Indonesia.”

Indonesia adalah salah satu produsen nikel terbesar. Namun, tantangannya adalah adanya semacam pembiayaan yang dinilai berdasarkan industri ini. Seperti peringkat ESG, bagaimana minat pembiayaan industri ini ke depannya?

Banyak negara Asia Tenggara bicara tentang Indonesia karena memiliki sumber daya yang baik. Untuk memproduksi baterai kendaraan listrik (EV), kita membutuhkan nikel. Jadi, manfaatkan itu. Jangan hanya menjual nikel ke negara lain. Simpan untuk diri sendiri.

Tetapi bagaimana anda dapat menciptakan ekosistem, menciptakan klaster, menciptakan seluruh rantai nilai di Indonesia sehingga tidak hanya menjual bahan mentah karena nilai tambah yang bisa didapatkan tidak banyak dan itu komoditas. Jadi, idenya adalah naik ke rantai nilai yang lebih tinggi.

Beberapa negara saat ini sedang mengembangkan baterai berbasis litium fero fosfat (LFP). Sejauh mana pengembangan baterai berbasis LFP akan berdampak pada industri pengolahan nikel Indonesia? Akankah hal ini mengurangi permintaan baterai kendaraan listrik di Indonesia?

Meningkatnya penggunaan baterai litium fero fosfat (LFP) akan mendiversifikasi pasar kendaraan listrik global dengan menurunkan biaya dan mempercepat adopsi. Meskipun LFP menggunakan lebih sedikit nikel, permintaan nikel secara keseluruhan diperkirakan masih akan tumbuh mengingat pesatnya ekspansi kendaraan listrik, terutama pada model jarak jauh dan performa tinggi yang masih mengandalkan bahan kimia kaya nikel.

Bagi Indonesia, pergeseran ini menyoroti pentingnya perluasan bisnis di luar nikel saja. Industri pengolahan nikel akan tetap menjadi pemain kunci, tetapi terdapat juga peluang untuk menangkap nilai dalam bahan kimia lain seperti LFP dan LMFP, serta dalam manufaktur sel dan komponen baterai. Alih-alih mengurangi peran Indonesia, meningkatnya penggunaan LFP dapat dilihat sebagai peluang untuk memperkuat posisinya sebagai pusat baterai kendaraan listrik spektrum penuh.

Apa langkah yang bisa diambil Pemerintah Indonesia?

Jangan hanya menjadi pemasok bahan baku. Tingkatkan rantai nilai dan paksa perusahaan yang datang ke Indonesia untuk memiliki komponen R&D. Karena begitu anda melakukan R&D di Indonesia, maka mereka (investor) perlu mempekerjakan pekerja Indonesia.

Jadi, pekerja Indonesia juga bisa belajar R&D bersama dengan (investor) Jepang, Cina, Eropa atau AS. Begitulah cara Cina menyalip AS. Mereka belajar, membongkar teknologinya, mereka membongkar peralatannya. Lalu, rakit lagi namun dengan komponen Cina.

Jadi, perusahaan Indonesia ini bisa berkembang karena orang Indonesia belajar semua hal dari perusahaan lain. Itulah mengapa saya mengatakan bahwa R&D sangat penting.

Baca halaman berikutnya soal tantangan Indonesia di bidang logistik

Selain R&D, kebijakan apa lagi yang harus jadi prioritas?

Kebijakan logistik nasional. Itu sangat penting. Ketika kami membantu perusahaan untuk masuk ke Indonesia atau mereka melakukan pemilihan lokasi, satu hal negatif tentang Indonesia adalah logistik.

Termasuk di Jawa? Karena pemerintah telah membangun banyak infrastruktur di Jawa..

Iya, bahkan di Jawa. Logistik lewat laut, darat, atau udara, semuanya. Logistik lewat laut inefisien. Kapal sampai di pelabuhan, tertahan lama. Investor tidak mau itu. Mereka mau barang datang, bereskan, pergi. Bea cukainya juga sangat lambat.

Jika anda mengunjungi pelabuhan Singapura dan Indonesia, langsung dapat melihat perbedaannya. Indonesia perlu meningkatkan infrastrukturnya, bukan hanya membangun jalan, tetapi juga pengaturannya, teknologinya.

Waktu yang dibutuhkan untuk mengirim barang di Jakarta saja sudah masalah besar karena macet. Contohnya Grab, Lala Move, atau Gojek dalam satu jam hanya bisa mengirim satu barang. Di Singapura, dalam satu jam sudah bisa mengirim sepuluh barang.

Jadi bukan cuma soal keberadaan infrastruktur secara fisik, tapi soal sistemnya?

Betul. Jadi itulah mengapa biaya logistik berbisnis di Indonesia sangat tinggi. Bahkan pasokan bahan baku kalau terjebak macet lama-lama, itu juga menjadi biaya. Jadi penting untuk memanfaatkan teknologi.

Neraca perdagangan Indonesia surplus 64 bulan berturut-turut (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/nym.)  

Soal ESG, bagaimana anda melihat ini dan dampaknya pada minat investasi?

ESG (prinsip environment, social, and governance) sangat penting karena beberapa konsumen, terutama di AS dan Eropa, mungkin tak mendukung Anda jika tak bersertifikat hijau.

Sekarang juga menjadi sangat penting untuk efisiensi, untuk transparansi, untuk ketertelusuran komoditas.  Jadi berinvestasi dalam teknologi, memastikan semuanya dapat dilacak. Bahkan, sekarang untuk minyak sawit ada kebijakan minyak sawit berkelanjutan. Anda bisa melacak dari perkebunan mana itu berasal, apakah berasal dari hutan yang ditebang? atau perusahaan memiliki praktik berkelanjutan yang baik di sana?

Jadi tuntutan global saat ini sama. Jika anda ingin mengekspor ke Eropa, Anda harus memenuhi peraturan hijau mereka.  Semakin banyak peraturan semacam ini dan pemerintah perlu memastikannya dan mendukung.

Bagaimana dunia bisnis internasional memandang dinamika pemerintahan dan kebijakan Indonesia?

Saya akan bilang secara umum oke, karena investasi tetap datang terlepas siapa pun presidennya. Sekarang, Presidennya Prabowo (Subianto). Saya pikir tidak masalah, kecuali untuk (demonstrasi ke) parlemen baru-baru ini.

Secara umum semua orang tahu, Indonesia itu liberal meskipun negara Muslim. Bahkan, lebih liberal daripada Malaysia. Anda bisa melakukan banyak hal. Anda bisa melakukan banyak hal yang tidak terlalu membatasi dari perspektif negara Muslim.

Populasi penduduknya besar, orang-orangnya cerdas, dan bisa melakukan banyak hal. Pekerja pabriknya juga siap sedia dan terampil.

Bagaimana pergeseran rantai pasokan Asia berdampak pada investasi di pasar saham di Indonesia?

Sebenarnya Indonesia sangat diuntungkan dari perang dagang AS-Cina. Karena perusahaan memindahkan pabrik mereka dari Cina ke Asia Tenggara dampak tarif mencapai 100%.

Sebelumnya, Perusahaan AS dan Eropa membuka pabrik di Cina karena dianggap berbiaya rendah, sangat efisien, penduduknya bisa bekerja cerdas dan cepat. Sekarang, mereka harus membayar tarif 100% jika mengekspor ke AS. Jadi mereka harus pindah ke Indonesia. 

Mungkin mereka tidak menutup operasional di Cina, tapi mungkin mengubah beberapa hal dan hanya memproduksi untuk pasar di Cina, karena pasarnya sangat besar. Jadi jika saya perusahaan Eropa, saya tidak perlu menutup pabrik saya di Cina karena pasarnya besar.

Sementara, Indonesia juga memiliki basis konsumen yang besar. Jadi saya juga bisa melokalisasi dan memiliki produk yang lebih murah sekarang untuk melayani pasar Indonesia.

Jadi pada dasarnya, perusahaan akan diuntungkan situasi itu?

Tentu saja. Tapi semua orang ingin diuntungkan. Malaysia juga ingin diuntungkan dari perusahaan yang pindah dari Cina. Di Vietnam juga. Jadi negara-negara ASEAN akan berkompetisi. Tapi secara keseluruhan, Indonesia akan diuntungkan sebagian, Malaysia diuntungkan sebagian, Vietnam diuntungkan sebagian.

Bagaimana investor internasional melihat dinamika ini?

Saya akan bilang pasar saham jauh lebih kompleks daripada sekadar rantai pasokan. Jadi saya tidak ingin terlalu mengaitkannya dengan pasar saham karena itu bergantung pada hal-hal yang jauh lebih besar daripada sekadar perang tarif AS-Cina.

Mungkin Anda akan mendapatkan beberapa keuntungan jika ada pengumuman bahwa sebuah perusahaan Eropa sekarang membuat usaha patungan dengan perusahaan publik di Indonesia.

Mungkin ada satu, dua, tiga, empat dampak pada perusahaan-perusahaan ini. Tetapi secara keseluruhan, jauh lebih kompleks. Jadi saya akan bilang pengaruhnya mungkin hanya pada perusahaan-perusahaan tertentu.

Apa yang bisa dilakukan korporasi Indonesia dalam situasi ini?

Pertama, mereka juga perlu memikirkan ketahanan mereka sendiri. Jadi, saat ini mereka perlu mengurangi risiko.

Mengurangi risiko seperti apa?

Mereka harus mengurangi risiko karena sebelumnya kita tidak memiliki semua risiko tarif, risiko rantai pasokan, risiko Covid-19, risiko gempa bumi, dan hal-hal seperti itu. Bagaimana mereka bisa membuat diri mereka lebih tangguh,

Tangguh berarti katakanlah besok, AS menerapkan tarif 50%, lalu bagaimana Anda masih bisa bertahan? Mungkin mengalihkan fokus ke Afrika, Amerika Latin, atau negara-negara ASEAN.

Lalu bagaimana mengamankan bahan baku. Seperti contoh, Toyota mengurangi risiko dengan tak hanya mendapatkan bahan baku dari satu pemasok saja, tapi dari berbagai negara. Karena jika terjadi sesuatu, mereka masih bisa mendapatkan bahan baku sehingga tidak mengganggu produksi pabrik.

Lalu kita perlu berinvestasi dalam teknologi.

Termasuk berinvestasi di AI?

Karena itu akan membuat Anda lebih efisien dan kompetitif. Investasi dalam teknologi tidaklah mahal dibandingkan dengan keuntungan yang Anda dapatkan karena mebuat lebih efisien, menjadi lebih transparan, menjadi lebih maju, untuk menurunkan biaya produksi Anda.

Apa saran anda untuk pemerintah Indonesia agar mampu bersaing menjadi pusat rantai pasok global?

Saya berbicara tentang keberlanjutan, ramah lingkungan, transisi ke energi hijau, keberlanjutan hingga teknologi. Oleh karena itu, dari sudut pandang kebijakan, dari sudut pandang pemerintah, inilah yang perlu didukung. Apa yang perlu didukung adalah kebijakan ramah lingkungan. Berikan insentif bagi perusahaan untuk menjadi ramah lingkungan.

Dari kebijakan bahan baku juga sama. Pemerintah (perlu) menggunakannya sebagai alat negosiasi dengan negara lain. Berikan insentif untuk membantu perusahaan Indonesia melakukan digitalisasi, transformasi, berinvestasi di TIK, dll.

Selain itu, di masa depan, siapa yang mengendalikan pangan akan menjadi negara adikuasa. Karena jika saya tidak menjual makanan kepada anda, anda akan mati. Jadi perlu memiliki kebijakan ketahanan pangan, karena Indonesia memiliki sumber daya pangan yang kaya.

Jadi, kebijakan ketahanan pangan itu penting. Karena masa depan bukan saja tentang siapa yang mengendalikan teknologi, tetapi siapa yang mengendalikan pangan. Ini berarti investasi di bidang pertanian, di bidang agri-tech. Jadi itu penting karena Indonesia bisa memproduksi pangan sebanyak mungkin dengan cara termurah, memanfaatkan teknologi mereka sendiri.

Kemudian, mungkin juga berinvestasi di bidang pariwisata. Karena Anda tidak perlu menghabiskan banyak uang. Orang-orang datang, mereka menghabiskan uang untuk infrastruktur yang sudah ada. Tapi, hasilnya cukup bagus. Jadi, saya pikir ini semua hal yang harus difokuskan pemerintah untuk diinvestasikan, baik itu kebijakan, insentif, dan sebagainya.

Baca Juga

Tags

nafa cahyani

Saya merupakan seorang content writer SEO, Teknologi, Finansial, Wisata, Resep Masakan dan lain-lain, Semoga dapat bermanfaat untuk teman semua.