
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, secara resmi mengonfirmasi bahwa pasokan bahan bakar minyak (BBM) di seluruh stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) milik badan usaha swasta akan kembali tersedia penuh mulai pekan ini. Kepastian ini menjadi angin segar setelah kelangkaan pasokan BBM cukup terasa dalam sebulan terakhir.
Krisis pasokan yang menghantui SPBU swasta mendorong Kementerian ESDM, Pertamina, dan perwakilan pemilik SPBU swasta untuk menggelar rapat penting pada Jumat (19/9) lalu. Pertemuan tersebut bertujuan mencari solusi komprehensif, khususnya terkait mekanisme impor BBM yang terhambat sebelumnya.
“Ini merupakan arahan langsung dari Menteri ESDM. Targetnya, dalam kurun waktu tujuh hari sejak rapat, BBM sudah bisa terisi kembali di SPBU swasta,” tegas Yuliot saat ditemui di Jakarta pada Selasa (23/9).
Yuliot menjelaskan lebih lanjut, pasca-rapat koordinasi tingkat tinggi, Pertamina dan badan usaha swasta akan melanjutkan pembahasan detail mengenai skema impor ini secara business to business (B2B), tanpa intervensi langsung dari pemerintah. Kendati demikian, Kementerian ESDM tetap memantau proses tersebut. “Apabila kesepakatan dalam pembahasan B2B tidak tercapai, kami akan melakukan evaluasi mendalam untuk mencari tahu penyebabnya,” ujarnya.
Menurut Yuliot, data kebutuhan impor telah disampaikan oleh badan usaha SPBU swasta kepada Pertamina. Namun, volume impor pasti masih menunggu hasil kesepakatan final antara kedua belah pihak. “Volume impor ini akan dilakukan secara bertahap, disesuaikan dengan kesepakatan yang nantinya dicapai dengan Pertamina,” tambahnya.
Kementerian ESDM sendiri telah mencatat penambahan alokasi BBM khusus bagi badan usaha SPBU swasta hingga Desember 2025. Jumlahnya mencapai 571.748 kiloliter. Tambahan pasokan krusial ini akan dipenuhi melalui pengadaan impor yang dikelola oleh Pertamina Patra Niaga.
Menariknya, hingga saat ini, anak usaha Pertamina tersebut masih memiliki sisa kuota impor yang signifikan, yakni sebesar 34% atau setara dengan 7,52 juta kiloliter untuk alokasi tahun 2025, menunjukkan kapasitas mereka dalam mengamankan pasokan.
Impor Baru Melalui Pertamina
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, secara terpisah menegaskan bahwa semua badan usaha pemilik SPBU swasta telah mencapai kesepakatan bulat untuk melaksanakan impor BBM melalui Pertamina. Menurutnya, keputusan strategis ini menjadi kunci vital dalam mengatasi kelangkaan pasokan yang kian menipis di SPBU swasta.
“Mereka (pemilik SPBU swasta) setuju, dan memang seharusnya setuju, untuk membeli serta berkolaborasi dengan Pertamina dalam pengadaan BBM,” ujar Bahlil dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta pada Jumat (19/9).
Bahlil menambahkan, impor yang akan difasilitasi melalui Pertamina ini merupakan impor baru, yang berarti bukan berasal dari stok BBM yang sudah tersedia di gudang perusahaan pelat merah tersebut. Hal ini memastikan bahwa kebutuhan SPBU swasta akan dipenuhi dari sumber yang terpisah.
Berikut adalah poin-poin penting yang disepakati dalam rapat antara Kementerian ESDM, Pertamina, dan badan usaha swasta pekan lalu:
- Badan usaha swasta berkomitmen untuk membeli BBM melalui kolaborasi dengan Pertamina. Komoditas yang akan dipasok berupa base fuel, yakni produk BBM yang belum dicampur aditif dan pewarna.
- Proses pemeriksaan kualitas BBM akan dilakukan secara bersama-sama melalui sistem joint surveyor, menjamin transparansi dan standar mutu.
- Pemerintah akan berperan dalam mengatur harga secara adil, memastikan tidak ada pihak yang dirugikan. Penentuan harga akan dilaksanakan secara terbuka dengan mekanisme open book dan harus disepakati oleh semua pihak terlibat.
- Setelah konferensi pers yang dipimpin Menteri ESDM, Pertamina dan badan usaha swasta melanjutkan koordinasi internal secara terpisah untuk membahas detail teknis.
- Fokus utama pembahasan adalah pada dua aspek krusial: skenario penyediaan pasokan untuk memenuhi kebutuhan badan usaha swasta, serta aspek komersial antar badan usaha guna merealisasikan arahan Menteri ESDM dan, yang terpenting, menjamin ketersediaan BBM bagi masyarakat luas.
Ringkasan
Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, mengonfirmasi ketersediaan penuh pasokan BBM di seluruh SPBU swasta mulai pekan ini, setelah kelangkaan yang terjadi dalam sebulan terakhir. Kepastian ini merupakan hasil rapat penting antara Kementerian ESDM, Pertamina, dan perwakilan SPBU swasta pada 19 September lalu untuk mencari solusi terkait mekanisme impor BBM yang terhambat. Targetnya, pasokan BBM dapat kembali terisi di SPBU swasta dalam waktu tujuh hari sejak rapat koordinasi tersebut.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menambahkan bahwa seluruh pemilik SPBU swasta telah sepakat untuk mengimpor BBM melalui Pertamina, dengan impor ini merupakan pasokan baru yang terpisah dari stok perusahaan pelat merah. Pertamina dan badan usaha swasta akan melanjutkan pembahasan detail skema impor ini secara business to business (B2B), dengan pemerintah tetap memantau prosesnya. Kementerian ESDM juga mencatat penambahan alokasi BBM khusus bagi SPBU swasta hingga Desember 2025, sebanyak 571.748 kiloliter, yang akan dipenuhi melalui impor yang dikelola Pertamina Patra Niaga.
