Advertisement

Stock Beras di Bulog Tembus 923.000 Ton

Stock Beras di Bulog Tembus 923.000 Ton, Buwas Percaya RI Tidak Perlu Import. Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksi produksi beras pada Januari-April 2021 capai 14,54 juta ton dengan keinginan 9,7 juta ton.

Dari angka itu diprediksi akan terjadi surplus stock beras sejumlah 4,8 juta ton dari Januari sampai April 2021.

Berkaitan penghitungan itu, Presiden Bulog Budi Waseso (Buwas) memandang produksi dalam negeri telah cukup buat penuhi keperluan warga.

“Saya ingin menunjukkan ke diri kita jika produksi dalam negeri cukup. Saya berdasar tegar dari sesuatu yang sudah dikatakan oleh Kementerian Pertanian dan BPS. Jika tidak yakin, siapakah yang saya percayai?” / 3/2021).

Stock beras di Bulog tembus 923.000 ton, Buwas percaya RI tidak perlu import. Disamping itu, cadangan beras pemerintahan (CBP) di kamp Bulog ialah 923.000 ton.

“Hari ini beras CBP kita 902.000 ton, kecuali tempo hari resapan 800.000 ton. Saat ini bertambah. Jika bulog seutuhnya terkuasai hari ini 923.000 ton,” terangnya.

Menurutnya, gagasan import beras 1 juta ton tidak penuhi persyaratan dalam negeri yang bakal masuk periode panen raya.

“Kita harus tetap maklumatkan import, apa lagi beras dasarnya yakni beras. Disamping itu, saat panen. Bukan saya berbicara import karena saya bukan pembikin peraturan, bukan pengambil keputusan,” katanya.

Beras mengendap, Import beras sendiri dilaksanakan pada 2018 sekitar 1,8 juta ton. Tetapi, stock beras import belum habis dan kualitasnya turun. Kenyataannya, masihlah ada 200.000 ton beras import pada 2018, 106.000 ton salah satunya terancam hancur atau busuk.

“Tersisa beras import seputar 200.000 ton. Beras import 106.000 ton mempunyai potensi hancur. Aman dalam negeri,” kata Buwas.

Dia bercerita begitu susahnya pada akhirnya mengimpor 1,8 juta ton beras hingga beresiko membusuk.

Buwas menjelaskan, import beras waktu itu cuman 600.000 ton karena ada cadangan beras pemerintahan (CBP) di Bulogs, sedang Bulog bekerja memberi bansos (bantuan sosial) untuk beras kaya (rastra) sampai 2,6 juta ton /tahun untuk diteruskan.

Sayang, pada 2019 pemerintahan menahan program Bantuan sosial Rastra jadi Kontribusi Pangan Non Tunai (BPNT). Dalam program BPNT, Bulog tidak lagi penyuplai khusus. Mengakibatkan, beras import susah dialokasikan dan ditopangk di gudang Bulog.

Kalau kualitas beras import masih bagus, menurut Buwas, distribusinya susah. Masalahnya tipe beras yang di-import tidak sesuai tipe beras yang umum dimakan sebagian besar warga Indonesia.

“Dengan tersisa 1,8 juta ton, beras di Bulog memiliki masalah import. Mengapa memiliki masalah? Berasnya cukup nikmat. Masalahnya beras yang di-import umumnya kebanyakan Pera. Pera tidak dimakan sebagian besar warga Indonesia “, ucapnya. ia.

Karena itu, beras import harus juga dialokasikan dengan menambahkannya dengan beras produksi dalam negeri.

“Bulog, jika diteruskan dalam aktivitas apa saja tentu digabung dengan beras lokal. Minimum rasionya 1: 1 supaya bisa diterima warga kita,” katanya.

Related Articles

Back to top button