Advertisement

Harga Gas Nonsubsidi Naik dan Ancaman Kelangkaan Gas Melon

Rancakmedia.com – Harga gas nonsubsidi naik, gas cair liquefied petroleum gas (LPG) nonsubsidi mengalami kenaikan per 27 Februari 2022. Sekretaris Perusahaan PT Pertamina Patra Niaga Irto Ginting menyebutkan harga Kontrak Harga (CPA) Aramco tercatat sebesar 775 dollar AS/metrik ton.

Dalam pengumuman resminya, ia mengungkapkan bahwa rata-rata harga CPA akan naik 21% pada tahun 2021. Meski naik, Irto secara pribadi memastikan elpiji 3 kilogram yang disubsidi pemerintah tidak mengalami penyesuaian harga.

Harga elpiji 3 kg masih mengacu pada Harga Eceran Maksimum (HET) yang ditetapkan pemerintah daerah. Namun, kenaikan harga elpiji nonsubsidi memaksa banyak orang beralih ke elpiji 3 kilogram.

Bonifacius, pemilik toko kelontong di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur, mengungkapkan banyak klien yang beralih ke elpiji 3 kilogram. Hal yang sama juga dialami oleh Ehma, seorang pelanggan rumahan di wilayah Cilegon yang mulai beralih ke elpiji 3kg.

Pandangan Pengamat Ekonomi

Pada Kamis, 23 Januari 2020, petugas agen gas Pancoran Mas di Depok, Jawa Barat, mencatat tabung gas elpiji tiga kilogram. Pemerintah berupaya membatasi distribusi dan penyesuaian harga elpiji 3 kilogram.

Bhima Yudhistira, Ekonom dan Direktur Pusat Studi Ekonomi dan Hukum (Celios), memperkirakan ketika harga elpiji nonsubsidi naik, masyarakat akan lebih banyak beralih ke elpiji 3 kg.

Hal ini terkait dengan banyaknya kelas menengah yang pendapatannya belum pulih akibat wabah, sementara disparitas harga antara gas bersubsidi dan nonsubsidi semakin melebar.

Harga Gas Nonsubsidi Naik

Solusi untuk Harga Gas Nonsubsidi Naik

Terjadinya migrasi, kemungkinan akan menimbulkan kelangkaan gas melon di pasaran. Bima menegaskan, hanya ada dua alternatif yang bisa diambil pemerintah menjelang eksodus ini.

Pertama-tama, seharusnya tidak ada kenaikan harga elpiji di masa depan. “Jadi penyesuaiannya cukup, jangan diutak-atik lagi. Karena dampak elpiji melon akan bergeser jika elpiji nonsubsidi diubah lagi,” kata Bima.

Lebih lanjut, Bhima menambahkan, pemerintah dapat memanfaatkan uang kompensasi untuk menghindari kenaikan biaya elpiji nonsubsidi.

Kedua, pemerintah harus meningkatkan jumlah uang yang dikeluarkan untuk subsidi produksi energi. Menurut Bima, seluruh subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022 sebesar Rp 134 triliun.

Baginya, kenaikan subsidi Rp 180-200 triliun merupakan tujuan akhir rencananya. Sebab, kenaikan harga gas dan minyak mentah diperkirakan akan berdampak jangka panjang bagi dunia.

Subsidi Tertutup Tidak Boleh diterapkan

Sementara itu, menurut Bhima, tidak tepat menerapkan subsidi tertutup dalam upaya mencegah kelangkaan gas melon saat ini.

Berbeda dengan subsidi terbuka yang membebaskan siapa saja untuk membeli, subsidi tertutup hanya memungkinkan orang-orang dengan kriteria tertentu. Banyak orang akan dirugikan akibat hal ini. Pasalnya, pembeli melon gas tidak hanya kalangan miskin, tapi juga UKM.

Menurut Bhima, pasokan melon gas semakin menipis, sehingga orang yang memenuhi syarat bisa jadi tidak bisa mendapatkannya.

“Jangan terlalu cepat beralih dari subsidi terbuka ke tertutup, momentumnya tidak tepat. Seharusnya dari kemarin harga elpiji diturunkan,” lanjutnya.

Kesimpulan

Harga Kontrak Harga (CPA) Aramco tercatat sebesar 775 dollar AS/metrik ton. Rata-rata harga CPA akan naik 21% pada tahun 2021. Harga elpiji 3 kg masih mengacu pada Harga Eceran Maksimum (HET) yang ditetapkan pemerintah daerah.

Namun, kenaikan harga elpiji nonsubsidi memaksa banyak orang beralih ke elpiji 3 kilogram. Terjadinya migrasi, kemungkinan akan menimbulkan kelangkaan gas melon di pasaran.

Bima menegaskan, hanya ada dua alternatif yang bisa diambil pemerintah menjelang eksodus ini. Pertama-tama, seharusnya tidak ada kenaikan harga elpiji di masa depan. Kedua, pemerintah harus meningkatkan jumlah uang yang dikeluarkan untuk subsidi produksi energi.

Cek Berita dan Artikel Rancakmedia.com Lainnya di Google News

Tombol kembali ke atas