Wondr Jakarta Running Festival 2025: Keseruan Lari yang Tak Terlupakan!

 

Wondr Jakarta Running Festival (JRF) 2025 berhasil mencuri perhatian para pecinta lari, khususnya di kategori half marathon. Ajang yang menempuh jarak sekitar 21 kilometer ini menuai pujian tinggi dari para peserta, bahkan ada yang menilainya lebih unggul dibandingkan perlombaan serupa di negara tetangga, Malaysia.

Salah satu peserta yang merasakan kenyamanan luar biasa adalah Ku Muhammad Nur Azmi (33), seorang pekerja di industri teknologi asal Malaysia. Meski terlihat tertatih dan bertelanjang kaki saat melintasi garis finis JRF sekitar pukul 08.00 WIB, Azmi sukses menuntaskan half marathon dalam waktu sekitar 3 jam sejak start pukul 05.00 WIB. Penampilannya di JRF memang bukan yang terbaik, mengingat ia baru kembali berlari setelah vakum selama tiga tahun. Namun, hal itu tidak mengurangi apresiasinya terhadap penyelenggaraan acara.

Azmi secara tegas menyatakan bahwa fasilitas dan atmosfer dalam JRF jauh melampaui standar ajang maraton di negaranya. “Pengaturan JRF cukup baik, bahkan lebih baik dari The Kuala Lumpur Standard Chartered Marathon. Perbedaan yang menonjol adalah energi para peserta dan kualitas perlengkapan yang didapatkan,” ungkap Azmi kepada Katadata.co.id, Sabtu (25/10).

Lebih lanjut, Azmi juga mengapresiasi ketersediaan titik air minum yang melimpah di sepanjang rute. Menariknya, ia mengaku tidak menghadapi masalah berarti dengan tingkat polusi udara di Jakarta selama berlari di JRF. Berdasarkan data AQI.in, kualitas udara di Jakarta tercatat berada di zona kuning atau pada angka 72 pukul 05.00 WIB, namun kemudian membaik menjadi 55 pada pukul 06.00 WIB.

Sentimen positif juga datang dari wisatawan asing asal Rusia, Alexander Pavlichenko (39). Meskipun mengakui bahwa kualitas udara di Jakarta mungkin bukan yang terbaik di dalam negeri, Alexander sangat terkesan dengan kelancaran pelaksanaan JRF berkat pengaturan lalu lintas yang teratur. “Tidak ada mobil dan sepeda motor, saya hanya melihat pelari yang menggunakan jalan selama acara,” tutur Alexander.

Pujian Alexander terhadap kelancaran lalu lintas bukan tanpa alasan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mengambil langkah proaktif dengan menutup lima jalan utama di kawasan Jakarta Pusat serta mengubah 13 rute Transjakarta guna mendukung kelancaran JRF 2025. Penyesuaian jalan ini diterapkan hingga pukul 09.30 WIB pada hari penyelenggaraan, Sabtu (25/10).

Bagi Alexander, JRF adalah ajang half marathon pertamanya. Ia sangat memperhatikan ketersediaan logistik seperti makanan, minuman, dan spons basah yang memadai di sepanjang rute lari. Meski demikian, Alexander memberikan catatan kecil bahwa waktu start half marathon JRF terasa terlalu pagi. “Waktu start memang cukup pagi, tapi cuaca saat acara berlangsung cukup baik,” tambahnya.

Keluhan mengenai waktu start yang terlalu pagi ini juga disampaikan oleh Jayanti Mora (37). Menurutnya, peserta wajib berada di garis start pukul 04.30 WIB, yang menyebabkan sebagian pelari half marathon JRF sudah memadati Gelora Bung Karno sekitar pukul 03.00 WIB. Keterpaksaan untuk hadir begitu dini, ditambah dengan penutupan semua jalan utama menuju GBK mulai pukul 03.30 WIB, membuat banyak peserta memilih datang lebih pagi untuk menghindari hambatan.

Akibat jadwal yang sangat pagi ini, Jayanti menemukan banyak nomor dada peserta JRF yang terbuang di sepanjang rute. Pegawai di perusahaan properti ini menduga bahwa bib yang berserakan tersebut kemungkinan milik peserta yang terlambat hadir di garis start karena kesulitan akses akibat pengalihan jalan. “Karena semua jalan utama menuju GBK ditutup mulai 03.30 WIB, jadi kami datang lebih pagi agar tidak terhalang. Namun secara keseluruhan acara ini sudah baik,” kata Jayanti.

Meskipun demikian, Jayanti menempatkan JRF 2025 sebagai ajang half marathon terbaik keempat di dalam negeri. Adapun perlombaan half marathon terbaik menurutnya adalah BTN Jakarta International Marathon, diikuti oleh Bank Jateng Borobudur Marathon dan Maybank Bali Marathon. Selain waktu mulai yang terlalu dini, Jayanti juga berpendapat bahwa JRF tidak masuk dalam posisi tiga besar karena diadakan pada hari Sabtu.

Menurut Jayanti, mayoritas ajang lari besar di Indonesia diadakan pada hari Minggu untuk memberikan waktu persiapan yang cukup bagi para pekerja kantoran. “Jakarta International Marathon diikuti lebih banyak pelari karena diadakan pada hari Minggu. Peserta JRF lebih sedikit karena pekerja kantoran masih harus bekerja pada Jumat dan tidak memiliki waktu persiapan yang cukup untuk berlari pada hari Sabtu,” jelasnya, menyoroti pentingnya penyesuaian jadwal dengan rutinitas harian para pelari.

Ringkasan

Wondr Jakarta Running Festival (JRF) 2025, khususnya kategori half marathon, mendapat pujian tinggi dari para peserta. Ku Muhammad Nur Azmi dari Malaysia menilai fasilitas dan atmosfer JRF lebih baik dari maraton di negaranya, serta mengapresiasi ketersediaan air minum yang melimpah. Alexander Pavlichenko dari Rusia juga terkesan dengan kelancaran acara berkat pengaturan lalu lintas yang baik, di mana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menutup lima jalan utama dan mengubah rute Transjakarta.

Meskipun demikian, beberapa peserta seperti Alexander dan Jayanti Mora mengeluhkan waktu start JRF yang terlalu pagi, mengharuskan mereka tiba di lokasi sangat dini karena penutupan jalan. Jayanti menempatkan JRF sebagai ajang half marathon domestik terbaik keempat, dan berpendapat bahwa penyelenggaraan pada hari Sabtu mengurangi partisipasi dibandingkan ajang yang digelar Minggu.

Baca Juga

Tags

nafa cahyani

Saya merupakan seorang content writer SEO, Teknologi, Finansial, Wisata, Resep Masakan dan lain-lain, Semoga dapat bermanfaat untuk teman semua.