Kesuksesan Marc Marquez adalah Kehancuran Ducati di Masa Depan, Pengamat Tak Bisa Bayangkan Francesco Bagnaia Mau Bertahan

 

Rancak Media Kesuksesan Marc Marquez dalam meraih gelar juara MotoGP 2025 tak menjamin eksistensi Ducati sebagai tim besar di masa depan.

Tak bisa dipungkiri bahwa Marquez telah memberikan dampak yang instan kepada pabrikan Italia itu dalam meneruskan dominasinya di kelas utama.

Kesuksesan tersebut datang dalam waktu yang relatif singkat karena Si Alien merupakan salah satu rider terhebat yang masih aktif saat ini.

Dengan bakat dan motor Desmosedici GP25 yang mumpuni membuatnya serasa tidak terbendung untuk mengamankan gelar MotoGP 2025 lebih dini.

Saat Marquez melejit di musim pertamanya sebagai rider pabirkan Ducati, situasi berbeda dialami rekan setimnya, Francesco Bagnaia.

Bergabung sejak musim 2021, murid kebanggaan Valentino Rossi tersebut justru melempem hingga musim ini menyisakan tiga seri lagi.

Ketimpangan performa inilah yang mengundang sorotan pengamat MotoGP Carlo Pernat untuk memberikan komentarnya.

Pria asal Italia itu tidak bisa membayangkan Bagnaia akan terus-terusan seperti ini untuk satu musim lagi bersama Ducati.

Menjadi rekan setim pembalap hebat yang memiliki pengalaman segudang seperti Marquez bukanlah hal yang mudah dijalani untuk juara MotoGP 2022 dan 2023 itu.

Media Spanyol Soroti Keuntungan Marc Marquez saat Francesco Bagnaia Remuk, Ducati Bisa Jebol Triliunan Rupiah di Bursa Transfer MotoGP

Opsi untuk pindah pun terbuka lebar bagi Bagnaia meski ada konsekuensi yang harus dibayar oleh kedua belah pihak.

Rasa nyaman menjadi hal krusial yang dicari saat ini terlebih Bagnaia dan Marquez memiliki kontrak yang sama-sama selesai pada akhir musim 2026.

“Saya tak tahan membayangkan Pecco Bagnaia dan Ducati bisa terus seperti ini setahun lagi,” kata Pernat, dilansir dari Motosan.

“Pasti ada sesuatu yang terjadi di sana, berapa harga yang harus dibayar Ducati?” imbuhnya.

Untuk Marquez, Pernat menilai dengan mendatangkannya Ducati sudah membongkar proyek yang selama ini sudah dijalankan.

Pembinaan melalui rider-rider muda seolah langsung tersapu dengan kesuksesan secepat kilat yang didatangkan rider berusia 32 tahun itu.

“Ducati, dengan mengontrak Marc Marquez, telah membongkar proyek yang sudah lama mereka garap,” kata Pernat.

“Itu keputusan yang tepat, perlu diperjelas, karena pemenang selalu benar, dan Marquez tidak menang, dia benar-benar menghancurkan kejuaraan.”

“Jadi, meskipun saya tegaskan itu adalah keputusan yang tepat untuk saat ini, hari ini saya bertanya-tanya berapa harga yang harus dibayar untuk masa depan,” imbuhnya.

Pernat secara tidak langsung menilai kedatangan peraih tujuh gelar juara dunia MotoGP itu menjadi pertanda kehancuran Ducati di masa depan.

Dengan usia Marquez yang tidak muda lagi, mereka terpaksa mengerahkan semua harapan dan pada saat yang sama kehilangan bakat-bakat muda hijrah ke tim lain.

Tempat utama yang seharusnya milik rider di tim satelit mereka seperti Jorge Martin, hingga Marco Bezzecchi

“Jorge Martin telah pindah ke tim lain, Marco Bezzecchi telah pindah ke tim lain, Enea Bastianini telah pindah ke tim lain,” ucap Pernat.

“Dan Pecco Bagnaia bisa pindah ke tim lain jika situasinya tidak segera diselesaikan.”

“Ini semua konsekuensi dari keputusan Marquez. Oke, ada Fermin Aldeguer, tetapi betapapun berbakatnya dia, dia tetap pilihan yang aman.”

“Álex Marquez? Luar biasa, tetapi saya tidak sepenuhnya yakin,” imbuhnya.

Baca Juga

nafa cahyani

Saya merupakan seorang content writer SEO, Teknologi, Finansial, Wisata, Resep Masakan dan lain-lain, Semoga dapat bermanfaat untuk teman semua.