Strategi Ekonomi Berkelanjutan: LPEM UI Desak Perubahan Arah Indonesia

 

Ekonomi Indonesia saat ini menghadapi tantangan signifikan, dinilai masih terlalu mengandalkan pada sektor ekstraktif. Ketergantungan ini menimbulkan risiko tinggi terhadap keberlanjutan lingkungan dan potensi pertumbuhan jangka panjang negara. Penilaian ini menyoroti perlunya pergeseran strategis demi fondasi ekonomi yang lebih resilient dan bertanggung jawab.

Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI), Alin Halimatussadiah, menegaskan bahwa strategi ekonomi nasional harus secara proaktif diarahkan untuk memperkuat investasi hijau. Hal ini dapat dicapai melalui penciptaan sinyal harga yang tepat dan implementasi kebijakan fiskal yang mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon. Menurut Alin, model ekonomi yang saat ini bertumpu pada pertambangan, energi, dan sektor lahan seperti pertanian, meskipun penting, namun mengandung risiko yang tidak bisa diabaikan.

Langkah fundamental yang ditekankan oleh Alin adalah mengendalikan laju industri ekstraktif dan secara bertahap mengalihkan fokus ke sektor-sektor yang lebih ramah lingkungan serta memiliki nilai tambah ekonomi tinggi. Transisi ini tidak berarti penghentian mendadak sektor lama, melainkan sebuah proses evaluasi dan pengelolaan cermat untuk mengendalikan skala serta dampak negatifnya. “Kita harus mulai menurunkan skala sektor ekstraktif dan mengelola sektornya agar tujuan kita menuju absolute decoupling bisa tercapai,” jelasnya, merujuk pada pemisahan pertumbuhan ekonomi dari penggunaan sumber daya dan dampak lingkungan.

Pergeseran ini selaras dengan arah ekonomi global yang semakin bergerak menuju sektor-sektor hijau. Indonesia, dengan potensi besar yang dimilikinya, perlu mengidentifikasi bidang-bidang strategis yang paling menjanjikan untuk dikembangkan dalam ranah ini. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya akan mampu menekan angka emisi, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi substansial dari inovasi dan teknologi hijau yang berkembang pesat.

Namun, Alin juga mengingatkan bahwa pergeseran monumental ini tidak akan terwujud tanpa dukungan sinyal harga dan kebijakan fiskal yang komprehensif. Ia menyoroti distorsi pasar yang menyebabkan harga energi fosil dan bahan mentah masih terlalu murah, membuat investasi di sektor hijau kurang menarik. “Selama return on investment di sektor ‘brown‘ masih lebih tinggi dibanding sektor hijau, maka investasi akan tetap lari ke sana,” tegasnya, menjelaskan mengapa modal masih enggan beralih.

Sebagai ilustrasi, Alin memaparkan kesenjangan harga yang mencolok antara bahan baku daur ulang dan bahan baru (virgin materials), yang menghambat pertumbuhan ekonomi sirkular. Demikian pula dengan energi terbarukan yang masih sulit bersaing karena harga batubara dan bahan bakar fosil tetap rendah. “Kalau harga energi fosil tetap murah, siapa yang mau pasang panel surya? Tapi kalau harga energi fosil dinaikkan sesuai nilai sebenarnya, barulah energi bersih menjadi kompetitif,” pungkasnya, menekankan pentingnya koreksi harga untuk menciptakan level bermain yang adil bagi investasi berkelanjutan.

Ringkasan

Ekonomi Indonesia menghadapi tantangan karena terlalu bergantung pada sektor ekstraktif, yang berisiko terhadap keberlanjutan lingkungan dan pertumbuhan jangka panjang. Kepala LPEM UI, Alin Halimatussadiah, mendesak strategi ekonomi nasional untuk memperkuat investasi hijau. Ini dilakukan dengan mengendalikan industri ekstraktif dan mengalihkannya ke sektor ramah lingkungan bernilai tambah tinggi, demi mencapai pemisahan pertumbuhan ekonomi dari dampak lingkungan. Langkah ini akan menyelaraskan Indonesia dengan arah ekonomi global dan menekan emisi.

Transisi menuju ekonomi rendah karbon ini memerlukan dukungan sinyal harga yang tepat dan kebijakan fiskal komprehensif. Alin menyoroti distorsi pasar, di mana harga energi fosil dan bahan mentah yang masih murah menyebabkan investasi di sektor “cokelat” lebih menarik dibanding sektor hijau. Oleh karena itu, koreksi harga sangat penting agar investasi berkelanjutan dapat bersaing secara adil. Misalnya, harga energi fosil perlu disesuaikan agar energi bersih menjadi kompetitif.

Baca Juga

Tags

nafa cahyani

Saya merupakan seorang content writer SEO, Teknologi, Finansial, Wisata, Resep Masakan dan lain-lain, Semoga dapat bermanfaat untuk teman semua.