Kepada Media Belanda, Eks Direktur Olahraga Persis Solo Ungkap Masalah Sepak Bola Indonesia

 

Rancak Media PSSI belum lama ini mengakhiri kerja sama dengan pelatih Timnas Indonesia Patrick Kluivert beserta seluruh jajarannya yang berasal dari Belanda.

Keputusan itu diambil menyusul kegagalan Timnas Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Langkah Skuad Garuda terhenti di putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia menyusul dua kekalahan beruntun.

Tim Merah-Putih harus puas finis di posisi juru kunci Grup B setelah kalah 2-3 dari tuan rumah Arab Saudi dan 0-1 dari Irak.

Punya Kesamaan, Jurnalis Belanda Ungkap Kelebihan Curacao yang Tak Dimiliki Timnas Indonesia

Pemberhentian Kluivert dan para stafnya melalui kesepakatan bersama turut mendapat perhatian dari media asal Belanda, NOS.

NOS tampak penasaran bagaimana Indonesia mengembangkan sepak bola secara mandiri tanpa pengaruh dari Belanda.

Menjawab pertanyaan tersebut, mantan direktur olahraga Persis Solo Edwin Klok memberikan komentar.

Pria asal Belanda itu mengatakan bahwa sepak bola Indonesia tidak bisa dibandingkan dengan negara asalnya.

Menurutnya, sepak bola Indonesia tidak memiliki piramida yang lengkap dari level amatir hingga profesional.

“Kita tidak bisa membandingkan Indonesia dengan negara lain, seperti Belanda,” kata Klok kepada NOS.

“Sepak bola amatir seperti yang kita kenal sekarang tidak ada. Ada turnamen-turnamen kecil, tetapi tidak ada piramida sepak bola yang lengkap,” tambahnya.

Di samping itu, Klok mengatakan bahwa pemain yang baru memulai kariernya di usia muda kurang memiliki fondasi.

Klok menilai Indonesia memiliki banyak talenta yang piawai dalam menggiring bola, namun kurang memiliki keahlian taktik.

Sadar Sanksi FIFA di Depan Mata, Pakar Malaysia Tak Gembira Harimau Malaya Salip Timnas Indonesia

“Pemain yang baru masuk sepak bola di usia muda kurang memiliki fondasi,” kata Klok.

“Banyak talenta Indonesia yang saya lihat sangat piawai dalam menggiring bola, tetapi mereka tidak tahu garis permainan dan kurang memiliki keahlian taktis.”

“Pemain perlu ditemukan sejak dini dan dikembangkan di klub-klub dengan visi yang jelas.”

“Maka Anda punya peluang emas di sini, dengan seratus juta anak,” tambahnya.

Klok telah bekerja di sepak bola Indonesia selama bertahun-tahun sebagai pencari bakat dan dalam peran teknis di level tertinggi Indonesia.

Ia menilai masyarakat Indonesia mencintai sepak bola, namun struktur yang solid untuk pemain muda belum terbentuk.

“Beberapa akademi muda di sini hampir tidak mampu memenuhi kebutuhan finansial,” kata Klok.

“Ada klub profesional di mana orang tua harus membayar agar anak-anak mereka dapat berpartisipasi dalam suatu program.”

“Begitulah cara mereka berusaha menutupi biaya operasional,” tambahnya.

Klok, yang bekerja di Persis Solo pada 2022-2024, menjelaskan bahwa ukuran Indonesia juga menyulitkan pelatihan yang merata.

Baca Juga

nafa cahyani

Saya merupakan seorang content writer SEO, Teknologi, Finansial, Wisata, Resep Masakan dan lain-lain, Semoga dapat bermanfaat untuk teman semua.