AFC Dikritik: Kontroversi Wasit dan VAR Warnai Kualifikasi Piala Dunia

 

JAKARTA — Putaran Keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia telah resmi berakhir, namun gelombang kritik keras masih terus menghantam Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC). Berbagai pihak, mulai dari tim nasional Indonesia, Oman, hingga Irak, secara terbuka menyuarakan protes mereka atas dugaan keberpihakan wasit dan kejanggalan jadwal pertandingan yang dinilai merugikan.

Salah satu insiden paling mencolok terjadi pada laga pembuka Grup A, saat timnas Oman yang diasuh pelatih kawakan Carlos Queiroz merasa diperlakukan tidak adil kala bertamu ke markas Qatar. Pelatih asal Portugal itu tak ragu meluapkan kemarahannya melalui media sosial, menyoroti insiden keras pada menit ke-28 yang sangat merugikan timnya.

“Tekel brutal terhadap Jameel Al Yahmadi. Tidak ada kartu merah. Kami kehilangan salah satu pemain terbaik kami untuk 10–12 bulan ke depan,” tulis Queiroz di akun Instagram pribadinya, menggambarkan betapa seriusnya pelanggaran tersebut.

Menurut Queiroz, wasit yang memimpin pertandingan hanya memberikan kartu kuning, sementara Video Assistant Referee (VAR) tidak mengambil tindakan apa pun. “Qatar mempertahankan pemainnya di lapangan dan dia akan diberi hadiah dengan bermain di pertandingan berikutnya. Tuhan selamatkan sepak bola. The show must go on,” sindir Queiroz dengan nada tajam, menyoroti dugaan ketidakadilan dalam penegakan aturan.

Meskipun Oman berhasil menahan imbang Qatar tanpa gol, absennya Jameel Al Yahmadi akibat cedera fatal itu sangat terasa. Oman kemudian takluk 1-2 dari Uni Emirat Arab (UEA) dan harus tersingkir dari kompetisi. Ironisnya, UEA yang hanya memiliki waktu istirahat dua hari, kemudian takluk 1-2 dari Qatar pada laga penentu yang memastikan Qatar lolos ke Piala Dunia 2026. Sementara itu, UEA harus melanjutkan perjuangan ke putaran kelima melawan runner-up Grup B Irak sebelum menjalani playoff antarbenua. Serangkaian hasil ini semakin memantik tudingan adanya ketidakadilan dalam skema kompetisi.

Sebelum insiden di Grup A, Indonesia juga menjadi korban kontroversi kepemimpinan wasit dalam laga krusial kontra Irak. Wasit asal Tiongkok, Ma Ning, menjadi pusat perhatian setelah serangkaian keputusannya dianggap sangat merugikan Skuad Garuda, berpotensi mengubah jalannya pertandingan penentu nasib tersebut.

Pertama, pelanggaran keras terhadap Ole Romeny di depan gawang Irak hanya diganjar kartu kuning, padahal penyerang tersebut sudah berhadapan langsung dengan kiper. Kedua, insiden pelanggaran kaki tinggi terhadap Kevin Diks oleh pemain Irak yang justru berakting seolah ia diganjal ketika hendak membuang bola. Ketiga, dan yang paling memicu amarah, insiden siku terhadap Kevin Diks di kotak penalti memang menghasilkan kartu merah untuk pemain Irak, namun anehnya, tidak diikuti dengan tendangan penalti untuk Indonesia. Rangkaian keputusan kontroversial ini membuat publik sepak bola Tanah Air geram, apalagi setelah Indonesia kalah 0–1 dan gagal melaju ke Piala Dunia.

Namun, protes tidak berhenti pada wasit dan keputusan di lapangan. Irak juga turut menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap jadwal pertandingan yang dinilai tidak adil. Melalui akun Instagram @iraqfootballpod, seorang podcaster sepak bola asal Irak secara terang-terangan menuding adanya “perlakuan istimewa” bagi tuan rumah Qatar dan Arab Saudi dalam pengaturan jadwal.

“Selamat datang di Mafia AFC. Qatar dan Arab Saudi mendapat keuntungan kandang untuk dua laga terakhir, serta memiliki lima hari istirahat. Irak dan UEA hanya mendapat dua hari,” tulis akun tersebut, menyoroti perbedaan signifikan dalam masa pemulihan tim.

Keluhan serupa sebelumnya juga sempat diutarakan oleh Indonesia, yang merasa jadwal pertandingan yang terlalu mepet sangat menguras stamina para pemain, terutama menjelang laga-laga penting melawan tim-tim kuat.

Berbagai insiden yang terkumpul ini secara kolektif menyoroti krisis kepercayaan terhadap integritas wasit dan transparansi penyelenggaraan turnamen AFC. Dari ruang ganti tim yang frustrasi hingga ruang publik digital yang ramai dengan perdebatan, tuntutan akan akuntabilitas, transparansi, dan profesionalisme yang lebih tinggi dari otoritas sepak bola Asia semakin keras menggema.

Ringkasan

Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) menerima kritik keras terkait dugaan keberpihakan wasit dan kejanggalan jadwal pertandingan di Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia. Timnas Oman, melalui pelatih Carlos Queiroz, memprotes keputusan wasit dan VAR yang merugikan mereka saat melawan Qatar, menyebabkan cedera parah pemainnya tanpa kartu merah. Indonesia juga menjadi korban kontroversi kepemimpinan wasit asal Tiongkok, Ma Ning, dalam laga krusial kontra Irak yang dinilai merugikan Skuad Garuda.

Selain itu, Irak turut menyuarakan ketidakpuasan terhadap jadwal pertandingan yang dinilai tidak adil, menuding adanya perlakuan istimewa bagi tuan rumah Qatar dan Arab Saudi terkait masa istirahat. Berbagai insiden ini secara kolektif menyoroti krisis kepercayaan terhadap integritas wasit dan transparansi penyelenggaraan turnamen AFC. Tuntutan akan akuntabilitas, transparansi, dan profesionalisme yang lebih tinggi dari otoritas sepak bola Asia pun semakin keras menggema.

Baca Juga

Tags

nafa cahyani

Saya merupakan seorang content writer SEO, Teknologi, Finansial, Wisata, Resep Masakan dan lain-lain, Semoga dapat bermanfaat untuk teman semua.