WIFI: Saham Adik Prabowo Berpotensi Naik 300%? Analis Ungkap Katalisnya!

 

Saham emiten PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), yang juga dikenal sebagai Surge dan merupakan bagian dari entitas bisnis Hashim Djojohadikusumo, adik Presiden Prabowo Subianto, diproyeksikan memiliki potensi besar di pasar. Menurut analis Sucor Sekuritas, Niko Pandowo, target harga saham WIFI dapat mencapai level Rp 7.800, sebuah proyeksi yang bahkan dianggap masih konservatif.

Lebih lanjut, Niko menjelaskan bahwa optimisme kenaikan ini didasarkan pada ambisi Surge (WIFI) untuk memperluas basis penggunanya secara signifikan. Perusahaan menargetkan peningkatan jumlah pelanggan dari sekitar 400 ribu saat ini menjadi 40 juta dalam kurun waktu lima tahun ke depan. Apabila valuasi P/E *forward* 55x dalam 12 bulan terakhir dapat dipertahankan, harga saham teoritis WIFI berpotensi menembus Rp 34.400 pada tahun 2030. Angka fantastis ini mencerminkan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) yang impresif sebesar 65%.

Sucor Sekuritas tidak ragu merekomendasikan “beli” untuk saham WIFI, didukung oleh dua katalis utama yang diperkirakan akan menjadi pendorong pertumbuhan. Katalis pertama adalah potensi akuisisi PT Link Net Tbk (LINK), dan yang kedua adalah alokasi spektrum frekuensi 1,4 GHz.

Dalam risetnya yang dirilis Jumat (3/10), Niko Pandowo menyatakan, “Faktor-faktor pendorong ini akan memposisikan WIFI sebagai disruptor yang tangguh di pasar broadband tetap Indonesia, serupa dengan peran transformasional Jio di India.” Pernyataan ini menegaskan visi perusahaan untuk mengubah lanskap industri telekomunikasi nasional.

Selain itu, prospek pendapatan WIFI juga terlihat sangat menjanjikan. Sucor Sekuritas memproyeksikan pendapatan perusahaan akan tumbuh dengan CAGR sebesar 61% dalam lima tahun mendatang. Proyeksi ambisius ini bahkan hanya didasarkan pada pencapaian seperempat dari target pelanggan yang ditetapkan oleh manajemen.

Kinerja keuangan WIFI pada semester pertama 2025 menunjukkan performa yang mengesankan, dengan pencapaian margin EBIT sebesar 60% dan EBITDA sebesar 75%. Niko memperkirakan torehan ini akan terus meningkat, seiring dengan penurunan biaya tetap per pengguna yang berbanding lurus dengan pertumbuhan skala pelanggan.

Peningkatan signifikan juga diperkirakan terjadi pada *Return on Invested Capital* (ROIC), yang diproyeksikan melonjak dari 5% pada tahun 2025 menjadi 22% pada tahun 2030. Menurut Niko, lintasan pertumbuhan seperti ini jarang ditemukan di industri telekomunikasi Indonesia yang cenderung sudah berada pada titik jenuh.

Niko juga menjelaskan layanan yang ditawarkan WIFI saat ini, yaitu kecepatan 100 Mbps dengan harga Rp100 ribu, meskipun jangkauannya masih terbatas dalam radius 1 km dari jalur kereta api. Namun, ekspansi akan dipercepat melalui kemitraan strategis dengan OREX SAI (NTT Docomo & NEC) serta melalui peluncuran layanan pita lebar nirkabel tetap yang direncanakan di wilayah perkotaan.

WIFI Lolos Tahap Lelang Frekuensi 1,4 GHz

Dalam perkembangan terbaru yang krusial, WIFI telah berhasil melaju ke tahap lelang pengadaan pita frekuensi radio 1,4 GHz untuk layanan akses nirkabel pitalebar atau Broadband Wireless Access (BWA) tahun 2025 di Kementerian Komunikasi dan Digital. Berdasarkan pengumuman terbaru, WIFI menjadi salah satu dari tiga perusahaan yang berhasil lolos seleksi awal.

Selain WIFI, dua emiten raksasa lainnya yang juga melaju ke tahap lelang adalah PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA). Ketiga perusahaan ini telah melewati seleksi awal dan kini bersiap memasuki tahapan lelang harga.

Di sisi lain, PT XL Axiata Tbk (EXCL) dan PT Indosat Tbk (ISAT) secara resmi menyatakan mundur dari proses lelang tersebut, mempersempit persaingan bagi para peserta yang tersisa.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dalam keterangan resminya yang dikutip Kamis (2/10) menjelaskan, “Sesuai ketentuan dalam Dokumen Seleksi Pengguna Pita Frekuensi Radio 1,4 GHz untuk Layanan Akses Nirkabel Pitalebar (Broadband Wireless Access) Tahun 2025, maka berdasarkan hasil Evaluasi Administrasi proses Seleksi dilanjutkan ke tahapan lelang harga.”

Manajemen WIFI, melalui penjelasan resmi, menyampaikan bahwa keberhasilan anak usaha Surge ini akan membuat persaingan di segmen frekuensi BWA 1,4 GHz, yang memiliki lebar pita 80 MHz, semakin ketat. Persaingan ini akan melibatkan para pemain besar di sektor infrastruktur digital dan telekomunikasi.

“Keberhasilan Telemedia Komunikasi Pratama sebagai perwakilan dari ekosistem digital Surge (WIFI) untuk melangkah ke tahapan lelang harga ini menggarisbawahi ambisi perusahaan dalam memperluas jangkauan layanan akses nirkabel pita lebar mereka di Indonesia,” ujar manajemen WIFI, seperti dikutip Kamis (2/10).

Sebelumnya, Presiden Direktur WIFI, Yune Marketatmo, telah mengungkapkan bahwa perseroan telah melakukan kajian internal mendalam terkait kesiapan dan kesesuaian strategi bisnis. Menurut Yune, WIFI menyambut baik kesempatan lelang di semua regional yang tersedia, didukung oleh modal yang kuat dan kesiapan ekosistem pendukung yang sangat komprehensif.

Ringkasan

Saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), entitas bisnis Hashim Djojohadikusumo, diproyeksikan memiliki potensi kenaikan signifikan oleh analis Sucor Sekuritas, dengan target harga awal Rp 7.800. Optimisme ini didasari ambisi perusahaan untuk memperluas basis pelanggan dari 400 ribu menjadi 40 juta dalam lima tahun, berpotensi mendorong harga saham hingga Rp 34.400 pada 2030. Sucor Sekuritas merekomendasikan “beli” dengan katalis utama potensi akuisisi PT Link Net Tbk (LINK) dan alokasi spektrum frekuensi 1,4 GHz, memposisikan WIFI sebagai disruptor di pasar broadband tetap Indonesia.

Prospek pendapatan WIFI juga menjanjikan, dengan proyeksi pertumbuhan CAGR 61% dalam lima tahun dan kinerja margin EBIT 60% serta EBITDA 75% pada semester I 2025. Teranyar, WIFI berhasil lolos tahap lelang pengadaan pita frekuensi radio 1,4 GHz untuk layanan Broadband Wireless Access (BWA) tahun 2025 di Kementerian Komunikasi dan Digital. Keberhasilan ini menggarisbawahi ambisi perusahaan untuk memperluas jangkauan layanan, bersaing dengan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) setelah PT XL Axiata Tbk (EXCL) dan PT Indosat Tbk (ISAT) mundur.

Baca Juga

Tags

nafa cahyani

Saya merupakan seorang content writer SEO, Teknologi, Finansial, Wisata, Resep Masakan dan lain-lain, Semoga dapat bermanfaat untuk teman semua.