Efek JDT: Malaysia Kena Sanksi FIFA? Jurnalis Salahkan Pemilik Klub

 

Skandal Pemalsuan Dokumen Naturalisasi: Sanksi FIFA Mengguncang Sepak Bola Malaysia

Asosiasi Sepak Bola Malaysia (FAM) kini tengah menghadapi krisis kredibilitas serius setelah FIFA menjatuhkan sanksi akibat terbukti melakukan pemalsuan dokumen untuk tujuh pemain naturalisasi. Laporan mendalam dari jurnalis Malaysia, Avineshwaran Taharumalengam dari The Star, secara kronologis mengungkap bobroknya praktik yang mencoreng wajah sepak bola Malaysia ini.

Ketujuh pemain yang menjadi pusat kontroversi adalah Gabriel Felipe Arrocha, Facundo Tomas Garces, Rodrigo Julian Holgado, Imanol Javier Machuca, Joao Vitor Brandao Figueiredo, Jon Irazabal Iraurgui, dan Hector Alejandro Hevel Serrano. FIFA menegaskan bahwa FAM menggunakan dokumen palsu agar para pemain ini dapat bermain, termasuk saat Timnas Malaysia harus menelan kekalahan telak 4-0 dari Vietnam pada Juni lalu, di mana para pemain tersebut turut tampil. Avineshwaran menilai kasus ini jauh melampaui sekadar hasil buruk atau kampanye yang gagal. “Ini bukan tentang hasil yang buruk atau kampanye yang gagal lagi. Ini sesuatu yang jauh lebih serius,” tegasnya dalam laporannya, menyoroti kekecewaan mendalam publik Malaysia.

Sejak awal proyek naturalisasi pemain ini bergulir, Avineshwaran mengaku sudah menyimpan kecurigaan. Titik awal skandal ini sendiri dapat dilacak pada 11 Januari 2023, ketika pemilik klub Johor Darul Ta’zim (JDT), Tunku Ismail Sultan Ibrahim, mengumumkan kehadiran enam hingga tujuh pemain naturalisasi baru di skuad Timnas Malaysia melalui akun X resminya. Pengumuman ini sontak menuai kritik karena dianggap mengabaikan uji kelayakan kewarganegaraan, terutama mengingat ratusan ribu warga Malaysia justru masih berjuang keras mendapatkan hak-hak dasar mereka.

Persepsi bahwa pemain kelahiran luar negeri mendapatkan percepatan proses hanya demi kenyamanan bermain sepak bola telah menyentuh sisi sensitif masyarakat. Avineshwaran lantas membandingkan pendekatan FAM dengan PSSI di Indonesia, yang melakukan proyek naturalisasi dengan transparansi dan pendokumentasian garis keturunan yang jelas. “Jika dilakukan secara transparan dan sah, seperti di negara lain seperti Indonesia – di mana garis keturunan terdokumentasi dengan jelas – upaya semacam itu membuahkan hasil,” tulisnya, menekankan pentingnya keterbukaan dalam proses serupa.

Kontras dengan PSSI yang membuka dokumen naturalisasi ke publik, FAM justru memilih menutup rapat-rapat informasi tersebut, hanya menyatakan bahwa ketujuh pemain telah mendapatkan persetujuan dari FIFA. Kritik tajam juga diarahkan kepada Pemerintah Malaysia yang cenderung mengalihkan pertanyaan kembali ke FAM, seolah berupaya menutup-nutupi masalah. Bahkan di dalam tim, muncul pandangan sinis, “Kenapa orang-orang begitu peduli dengan kakek-nenek mereka? Mereka orang Malaysia yang ingin mengenakan jersey itu,” yang mencerminkan kurangnya pemahaman terhadap sensitivitas isu ini.

Borok skandal ini semakin terbuka lebar ketika Tunku Ismail Sultan Ibrahim sendiri membocorkan detail penting: proses naturalisasi tidak menggunakan akta kelahiran asli. Menurutnya, catatan kelahiran asli yang ditulis tangan tidak dapat ditemukan dari arsip sejarah, dan salinan resmi diterbitkan berdasarkan bukti yang “terverifikasi” – sebuah indikasi kuat adanya manipulasi dokumen yang menguatkan alasan sanksi FIFA.

Konsekuensi dari sanksi FIFA ini tidak hanya berdampak pada FAM dan Timnas Malaysia, melainkan juga klub raksasa yang dimiliki Tunku Ismail, Johor Darul Ta’zim (JDT). JDT, yang selama ini dianggap sebagai model klub di Malaysia, kini berisiko besar reputasinya tercoreng parah. Ketidakpastian membayangi berbagai kompetisi yang mereka ikuti, seperti potensi tindakan dari AFC atau AFF terkait hasil di Liga Champions AFC Elite atau Piala Shopee Kejuaraan Klub ASEAN, bahkan penundaan jadwal pertandingan Liga Sepak Bola Malaysia.

Avineshwaran Taharumalengam menyimpulkan bahwa skandal pemalsuan dokumen ini merupakan salah satu momen paling memalukan dalam sejarah sepak bola Malaysia. “Ini bukan sekadar kemunduran biasa – ini adalah krisis kredibilitas yang serius. Jika temuan ini terbukti, ini akan menandai salah satu momen tergelap dalam sepak bola Malaysia, bahkan melampaui skandal pengaturan pertandingan tahun 1990-an,” ujarnya, menyoroti parahnya situasi yang kini dihadapi sepak bola Malaysia.

Ringkasan

Asosiasi Sepak Bola Malaysia (FAM) menghadapi krisis kredibilitas serius setelah FIFA menjatuhkan sanksi karena terbukti memalsukan dokumen untuk tujuh pemain naturalisasi. Jurnalis Avineshwaran Taharumalengam dari The Star mengungkap praktik ini, menyoroti ketujuh pemain yang sempat tampil saat Timnas Malaysia kalah 4-0 dari Vietnam. Kasus ini bermula dari pengumuman pemilik klub Johor Darul Ta’zim (JDT), Tunku Ismail Sultan Ibrahim, mengenai pemain naturalisasi baru tanpa proses yang transparan.

FIFA menegaskan FAM menggunakan dokumen palsu, sebuah fakta yang diperkuat oleh pengakuan Tunku Ismail sendiri bahwa proses naturalisasi tidak memakai akta kelahiran asli. Skandal ini, yang dianggap Avineshwaran sebagai salah satu momen paling memalukan dalam sejarah sepak bola Malaysia, berpotensi mencoreng reputasi JDT dan membawa konsekuensi lebih lanjut bagi sepak bola Malaysia di berbagai kompetisi.

Baca Juga

nafa cahyani

Saya merupakan seorang content writer SEO, Teknologi, Finansial, Wisata, Resep Masakan dan lain-lain, Semoga dapat bermanfaat untuk teman semua.