
Maskapai kebanggaan nasional, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), menghadapi tantangan finansial yang signifikan dengan mencatatkan rugi bersih sebesar US$ 143,70 juta atau setara Rp 2,39 triliun pada semester pertama tahun 2025. Angka kerugian ini menunjukkan pembengkakan yang cukup tajam, mencapai 41,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar US$ 101,65 juta atau Rp 1,69 triliun. Situasi ini mengindikasikan adanya tekanan yang terus berlanjut terhadap kinerja keuangan emiten pelat merah tersebut.
Pembengkakan kerugian ini seiring dengan penurunan pendapatan usaha perusahaan. Garuda Indonesia mencatat penurunan pendapatan sebesar 7,1%, dari US$ 1,27 miliar pada semester I 2024 menjadi US$ 1,18 miliar atau sekitar Rp 19,73 triliun di semester pertama 2025. Kontribusi pendapatan terbesar berasal dari segmen penerbangan tidak berjadwal yang menyumbang US$ 1,54 miliar, sementara segmen penerbangan berjadwal memberikan kontribusi sebesar US$ 1,18 miliar hingga paruh pertama tahun ini. Dari sisi neraca keuangan, total aset Garuda Indonesia tercatat sebesar US$ 6,51 miliar atau setara Rp 108,63 triliun. Namun, total liabilitas perusahaan hingga semester pertama 2025 mencapai US$ 8,01 miliar atau Rp 13,52 triliun. Kondisi ini membuat total ekuitas atau modal perseroan berada dalam posisi negatif, yaitu sebesar US$ 1,49 miliar atau Rp 3,27 triliun.
Targetkan Punya 7 Pesawat Baru hingga Akhir 2025
Di tengah tekanan finansial ini, GIAA tetap optimistis dengan menargetkan penambahan tujuh pesawat baru hingga akhir tahun 2025. Target ambisius ini menjadi penambahan armada terbanyak yang dilakukan oleh Garuda Indonesia pasca pandemi, menunjukkan komitmen perusahaan untuk memperkuat kapasitas operasionalnya. “Sepanjang 2025, kami menargetkan untuk mendapatkan 7 armada pesawat baru, ini merupakan penambahan pesawat terbanyak GA pasca pandemi,” ujar Reza dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VI DPR RI pada Senin (22/9) lalu.
Hingga Agustus 2025, Garuda Indonesia telah berhasil menambah lima armada baru, sehingga total pesawat yang dimiliki saat ini mencapai 78 unit. Armada tersebut terdiri dari 32 pesawat berbadan lebar (wide body) dan 46 pesawat berbadan sempit (narrow body). Penambahan ini merupakan kelanjutan dari upaya pemulihan kapasitas produksi yang berangsur meningkat, dari 71 armada pada tahun 2023 menjadi 73 armada pada tahun 2024, seiring dengan pulihnya industri penerbangan global.
Langkah strategis penambahan armada ini sejalan dengan upaya Direktur Utama Garuda Indonesia (GA), Wamildan Tsani, yang saat ini berada di Amerika Serikat (AS). Beliau mendampingi Bapak Presiden RI dalam lawatan ke AS untuk membahas rencana pengadaan pesawat dari pabrikan Boeing. Diskusi ini merupakan bagian dari rencana pemerintah untuk membeli 50 pesawat Boeing dari AS, sebuah inisiatif yang dirancang untuk mengembangkan bisnis Garuda Indonesia sekaligus menjadi bagian dari kesepakatan dagang dengan pemerintah AS untuk menurunkan tarif impor resiprokal dari 32% menjadi 19%.
Lebih lanjut, Reza menjelaskan bahwa kerja sama pengadaan pesawat dengan Boeing ini merupakan strategi jangka panjang perusahaan. Tujuannya adalah untuk mendapatkan kepastian jumlah pesawat dan harga yang lebih kompetitif di pasar. Pertemuan GA bersama pemangku kepentingan terkait bertujuan untuk memastikan bahwa pembelian pesawat tersebut dapat membawa keuntungan yang optimal, baik secara strategis, operasional, maupun finansial bagi Garuda Indonesia di masa mendatang.
Ringkasan
PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mencatat kerugian bersih sebesar US$ 143,70 juta atau Rp 2,39 triliun pada semester pertama 2025, meningkat 41,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pembengkakan kerugian ini terjadi seiring penurunan pendapatan usaha sebesar 7,1% menjadi US$ 1,18 miliar. Kondisi keuangan GIAA juga menunjukkan liabilitas mencapai US$ 8,01 miliar, yang menyebabkan total ekuitas perseroan berada di posisi negatif sebesar US$ 1,49 miliar.
Di tengah tekanan finansial, Garuda Indonesia tetap optimistis dengan menargetkan penambahan tujuh pesawat baru hingga akhir 2025 untuk memperkuat kapasitas operasional, dengan lima unit telah berhasil ditambahkan hingga Agustus 2025. Penambahan armada ini juga mencakup diskusi pengadaan 50 pesawat Boeing dari AS, yang merupakan bagian dari inisiatif pemerintah dan kesepakatan dagang. Langkah strategis ini bertujuan untuk memastikan kepastian jumlah pesawat serta harga yang kompetitif bagi Garuda Indonesia di masa mendatang.
