
Harga emas batangan yang diperdagangkan oleh PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah. Pada hari ini, Senin (22/12), harga emas Antam mencapai Rp 2.123.000 per gram. Kenaikan ini menandai lonjakan sebesar 40% atau setara Rp 608.000 per gram sepanjang tahun ini.
Menurut data dari logammulia.com, pada akhir tahun lalu, harga emas Antam masih berada di level Rp 1.515.000 per gram. Angka tersebut bahkan telah melesat 34% dibandingkan posisi akhir tahun sebelumnya, menunjukkan momentum kenaikan yang kuat.
Tidak hanya harga jual, harga pembelian kembali atau buyback emas Antam juga mengalami peningkatan signifikan. Saat ini, harga buyback dipatok Rp 1.970.000 per gram, melonjak 44% dari Rp 1.365.000 per gram pada akhir tahun lalu.
Lantas, apa pemicu di balik terus melambungnya harga emas Antam ini? Kenaikan harga emas Antam sejatinya selaras dengan pergerakan harga emas dunia yang juga mencapai rekor tertingginya. Fenomena ini terjadi setelah Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), melakukan pemangkasan suku bunga.
Mengutip laporan Reuters, harga emas di pasar spot terpantau naik 0,7% menjadi US$3.709,29 per ons pada pukul 06.37 GMT atau 13.37 WIB, setelah sempat menyentuh rekor puncak US$3.711,55. Sementara itu, harga emas berjangka AS untuk pengiriman Desember juga mengalami kenaikan 1% menjadi US$3.743,4.
“Emas kembali menemukan pijakannya hari ini, dengan para investor memfokuskan perhatian pada potensi kenaikan harga antara saat ini dan akhir tahun, didorong oleh proyeksi penurunan suku bunga lebih lanjut dari The Fed,” jelas Tim Waterer, Kepala Analis Pasar KCM Trade. Ia menambahkan bahwa pembelian emas yang konsisten oleh sejumlah bank sentral turut menyokong momentum kenaikan ini. Pergerakan harga emas pada pekan ini akan sangat dipengaruhi oleh rilis data inflasi inti harga konsumen AS pada Jumat dan pidato Ketua The Fed Jerome Powell pada Selasa, yang diharapkan memberikan gambaran jelas mengenai prospek kebijakan moneter bank sentral tersebut.
Waterer memperkirakan, “Logam mulia ini dapat mencapai titik tertinggi baru minggu ini jika data makro AS terus mendukung narasi dovish The Fed.” Pekan lalu, The Fed memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin, namun tetap mengingatkan tentang inflasi yang persisten. Investor secara umum memperkirakan dua penurunan suku bunga lagi pada tahun ini, masing-masing 25 basis poin pada Oktober dan Desember, dengan probabilitas masing-masing 93% dan 81% berdasarkan pemantauan CME FedWatch. Kondisi suku bunga rendah memang kerap membuat kinerja emas batangan cemerlang. Sepanjang tahun ini, harga emas dunia telah melesat hampir 42%, didorong oleh ketidakpastian geopolitik dan ekonomi yang meluas, pembelian oleh bank sentral, dan kebijakan moneter yang longgar.
Bersamaan dengan emas, harga logam mulia lainnya juga menunjukkan tren positif. Harga perak di pasar spot hari ini naik 1,3% menjadi US$43,64 per ons, mendekati level tertinggi dalam 14 tahun. Platinum turut menguat 1,2% menjadi US$1.420,48, dan paladium naik 1,2% menjadi US$1.163,24.
Ramalan J.P. Morgan soal Harga Emas
Kenaikan harga emas dunia saat ini bahkan telah melampaui ramalan dari J.P. Morgan. Sebelumnya, bank investasi asal AS ini memproyeksikan harga emas akan terus menanjak dan mencapai rata-rata US$3.675 per ons pada kuartal terakhir 2025. Natasha Kaneva, Kepala Strategi Komoditas Global J.P. Morgan, kini memperkirakan harga emas dunia bisa menyentuh angka US$4.000 per ons pada kuartal kedua tahun depan. Berbagai risiko ketidakpastian ekonomi global diyakini akan menjadi penopang utama kenaikan harga tersebut.
Secara umum, melemahnya dolar AS dan suku bunga AS yang lebih rendah meningkatkan daya tarik instrumen emas batangan. Ketidakpastian ekonomi dan geopolitik juga cenderung menjadi pendorong positif bagi emas, mengingat statusnya sebagai safe haven dan kemampuannya untuk tetap menjadi penyimpan nilai yang andal di tengah gejolak. Emas memiliki korelasi yang rendah dengan kelas aset lainnya, menjadikannya asuransi yang efektif selama pasar jatuh dan periode tekanan geopolitik.
“Bagi investor, kami berpendapat bahwa emas tetap menjadi salah satu lindung nilai paling optimal untuk kombinasi unik stagflasi, resesi, penurunan nilai, dan risiko kebijakan AS yang mungkin dihadapi pasar pada tahun 2025 dan 2026,” tutur Gregory Shearer, Kepala Strategi Logam Dasar dan Mulia di J.P. Morgan.
Prakiraan J.P. Morgan Research mengenai kenaikan harga emas hingga tahun depan didasarkan pada permintaan emas dari investor dan bank sentral yang terus kuat. Pembelian emas diproyeksikan rata-rata sekitar 710 ton per kuartal secara neto pada tahun ini. Secara keseluruhan, bank sentral diperkirakan akan membeli 900 ton emas pada tahun ini, mempertimbangkan kondisi makro saat ini serta ekspansi lebih lanjut dalam kepemilikan investor, terutama dari dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) dan Tiongkok.
Diversifikasi dari kepemilikan cadangan dolar AS (USD), meskipun masih moderat, telah menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Data komposisi mata uang cadangan devisa resmi (COFER) terbaru dari Yayasan Moneter Internasional (IMF) menunjukkan bahwa meskipun pangsa USD sedikit meningkat pada kuartal keempat 2024, pangsa tersebut masih berada di kisaran 57,8% hingga akhir tahun, menandai penurunan sebesar 0,62 poin persentase.
“Ditambah dengan ketidakpastian ekonomi, perdagangan, dan kebijakan AS serta aliansi geopolitik yang bergeser dan semakin tidak terduga, kami memperkirakan diversifikasi lebih lanjut ke emas akan mencapai sekitar 900 ton pembelian oleh bank sentral pada tahun 2025,” jelas Shearer.
Menurut data IMF, kepemilikan emas oleh bank sentral global mencapai hampir 36.200 ton dan mencakup hampir 20% dari total cadangan resmi, naik dari sekitar 15% pada akhir tahun 2023. Amerika Serikat, Jerman, Prancis, dan Italia secara kolektif masih memiliki sekitar 16.400 ton emas. Jumlah ini merepresentasikan hampir setengah dari cadangan emas resmi global yang dilaporkan, dengan AS sendiri memegang hampir seperempatnya.
Masing-masing dari keempat negara ini memiliki lebih dari 70% dari total cadangan emas mereka. Apabila keempat pemegang saham besar ini tidak diperhitungkan, porsi emas dalam cadangan resmi akan menurun drastis menjadi hanya sekitar 11%.
Ringkasan
Harga emas Antam mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah, mencapai Rp 2.123.000 per gram pada 22 Desember dan melonjak 40% sepanjang tahun ini. Kenaikan harga emas Antam ini sejalan dengan meroketnya harga emas dunia ke rekor tertinggi. Pemicu utamanya adalah pemangkasan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed) serta ekspektasi penurunan suku bunga lebih lanjut, didukung oleh pembelian emas yang konsisten oleh bank sentral.
J.P. Morgan memproyeksikan harga emas dunia dapat menyentuh US$4.000 per ons pada kuartal kedua tahun depan. Faktor pendukung kenaikan meliputi pelemahan dolar AS, suku bunga AS yang lebih rendah, ketidakpastian ekonomi dan geopolitik, serta status emas sebagai aset *safe haven*. Permintaan kuat dari investor dan bank sentral, yang diperkirakan akan membeli sekitar 900 ton emas pada tahun ini dan 2025, turut menjadi pendorong signifikan.
