
Rancak Media JAKARTA — Langkah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal pekan ini terasa tertahan. Di tengah denyut pasar yang ikut terpengaruh dinamika sosial-politik dalam negeri, saham-saham perbankan yang selama ini menjadi jangkar utama pergerakan indeks terlihat serempak melemah.
Sejumlah bank besar, seperti PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), hingga PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), kompak mengalami koreksi harga.
Hingga pukul 11.09 WIB pada perdagangan sesi I, Senin (1/9/2025), saham BBCA terkoreksi 1,55% atau turun 125 poin ke level Rp7.950 per saham, setelah sempat menyentuh titik terendah Rp7.650 pada pukul 08.58 WIB. Saham BMRI pun melemah 2,53% atau 120 poin ke posisi Rp4.620, dengan level terendah harian di Rp4.490 per saham.
Adapun saham BBNI turun 0,46% atau 20 poin ke Rp4.360, sedangkan saham BBRI terkoreksi 1,73% atau 70 poin ke Rp3.980 per saham. Tekanan tidak hanya menghampiri bank berkapitalisasi besar. Saham PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) ikut melemah 1,92% atau 20 poin ke Rp1.280 per saham, setelah sempat menyentuh Rp1.225.
Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. – TradingView
Saham PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) turun 0,29% atau 5 poin ke Rp1.695 dengan level terendah Rp1.670. Sementara itu, saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) terkoreksi 0,74% atau 10 poin ke Rp2.690, yang juga menjadi titik terendah pada perdagangan sesi pertama.
Di balik gejolak pasar, sejumlah analis menilai fondasi perbankan nasional masih terjaga. Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus menilai perbankan nasional saat ini memiliki daya tahan yang cukup baik meskipun dihadapkan pada dinamika politik dan gejolak sosial yang berlangsung belakangan ini.
Menurutnya, bank-bank besar tidak terlalu khawatir karena telah memiliki segmen nasabah masing-masing. Selain itu, tren kebijakan moneter juga mendukung.
“Sejak awal tahun, suku bunga BI Rate sudah turun hampir 100 basis poin hingga Agustus, dan masih ada peluang pemangkasan tambahan 25 basis poin pada kuartal IV,” kata Nico kepada Bisnis, Senin (1/8/2025).
: Racikan Sektor Perbankan di Tengah Gejolak Aksi Demonstrasi
Namun, dia menegaskan bahwa stabilitas politik menjadi kunci bagi tercapainya pertumbuhan ekonomi. “Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang baik, stabilitas politik memainkan peran sangat penting, bagaimana kebijakan bisa diambil jika politik tidak dalam kondisi baik,” katanya.
Dia mengakui demonstrasi yang terjadi karena kebijakan pemerintah yang tidak tepat dapat memberikan tekanan jangka pendek, misalnya tercermin dari IHSG yang sempat terkoreksi 2,2% akibat panic selling pada Jumat pekan lalu. Meski begitu, kata Nico, pasar pada akhirnya menyadari bahwa kondisi tersebut hanya sementara.
“Secara definisi, kekuatan daya tahan sektor keuangan sudah amat baik. Tapi dampak instabilitas politik tetap menjadi perhatian, karena untuk menopang pertumbuhan ekonomi dibutuhkan stabilitas politik yang mampu mendukung jalannya kebijakan,” pungkasnya.
Head of Research Samuel Sekuritas Indonesia Prasetya Gunadi menilai aksi jual asing terbaru menyoroti meningkatnya sentimen risk-off yang berpotensi bertahan seiring eskalasi ketidakstabilan politik.
“Sektor perbankan menjadi yang paling rentan mengingat bobot besar pada indeks dan potensi tekanan likuiditas jika kondisi politik memicu penarikan dana,” ujarnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
