Rancak Media Jordan Mintah menyelesaikan proses naturalisasi sebagai warga negara Malaysia setelah bermain lima tahun di sana.
Kabar mengejutkan datang dari kancah sepak bola Asia Tenggara, di mana Jordan Mintah, penyerang asal Ghana, resmi menuntaskan proses naturalisasinya untuk menjadi warga negara Malaysia. Keputusan ini menarik perhatian, mengingat pendekatan naturalisasi di region ini, khususnya Indonesia, telah mengalami evolusi signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Satu hingga dua dekade silam, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) pernah menerapkan kebijakan naturalisasi dengan memberikan status Warga Negara Indonesia (WNI) kepada pemain asing yang telah lama berkarier di kompetisi domestik. Nama-nama seperti Cristian Gonzales, yang bersinar di Piala AFF 2010, menjadi pionir program ini, diikuti oleh sederet pemain lain yang juga menjadi bagian dari gelombang naturalisasi, seperti Bio Paulin, Victor Igbonefo, Beto Goncalves, Yuu Hyun Koo, Fabiano Beltrame, hingga Otavio Dutra.
Namun, pendekatan “naturalisasi cara lama” ini kemudian menuai kritik dan dipandang negatif. Alih-alih meningkatkan kualitas timnas secara berkelanjutan, kebijakan ini justru memicu klub-klub untuk berlomba-lomba menaturalisasi pemain asing yang sudah uzur, semata-mata agar mereka bisa didaftarkan sebagai pemain lokal. Dampaknya fatal: perkembangan bakat-bakat muda dan pemain lokal menjadi terhambat secara signifikan, sehingga menimbulkan efek buruk bagi ekosistem kompetisi.
Berangkat dari pengalaman tersebut, PSSI kini telah meninggalkan metode naturalisasi lawas dan beralih ke strategi yang lebih progresif. Fokusnya kini adalah mengubah status kewarganegaraan pemain keturunan Indonesia yang sedang berkarier di level tertinggi sepak bola Eropa atau dunia. Hasilnya pun mulai terlihat dengan hadirnya bintang-bintang seperti Jay Idzes dan Calvin Verdonk, serta target transfer potensial lainnya seperti Emil Audero Mulyadi, yang diharapkan mampu mendongkrak performa timnas Indonesia ke level yang lebih tinggi.
Ironisnya, metode naturalisasi yang telah ditinggalkan Indonesia tersebut justru masih dipertahankan dan dilakukan oleh negara tetangga, Malaysia. Pada Jumat, 29 Agustus 2025, klub Kuching City dengan bangga mengumumkan keberhasilan “melokalkan” penyerang andalannya, Jordan Mintah. Pemain asal Ghana ini memenuhi syarat karena telah merumput di Malaysia sejak tahun 2020, atau lebih dari lima tahun, menjadikannya layak mendapatkan status kependudukan Malaysia.
“Striker Kuching City, Jordan Mintah, resmi menjadi warga negara Malaysia setelah melengkapi proses naturalisasinya,” demikian laporan NST mengutip kabar tersebut. “Ini akan membuat pemain kelahiran Ghana 29 tahun lalu itu bisa didaftarkan sebagai pemain lokal.” Dengan status baru ini, Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) dan tim nasional juga memiliki opsi untuk mendaftarkan Mintah dalam agenda ke depan.
“Jordan Mintah sekarang adalah salah satu dari kita, rakyat Malaysia!” demikian rilis penuh semangat dari Kuching City FC, menambahkan “Langkah besar baginya, kabar luar biasa bagi seluruh suporter. Selamat, Jordan!” Meskipun Mintah saat ini berusia 29 tahun dan hanya menyisakan sedikit masa keemasan dalam kariernya untuk dibaktikan pada timnas Malaysia, langkah ini menyoroti perbedaan filosofi naturalisasi di antara negara-negara di kawasan. Sementara Indonesia berfokus pada potensi jangka panjang dari pemain keturunan berdarah muda di level elit, Malaysia memilih jalur yang lebih pragmatis dengan mengintegrasikan pemain asing yang telah lama berbakti di liga lokal.
Super League 2025/2026 – PSIM Jogja Tim Promosi Terbaik, Asisten Pelatih Timnas Indonesia Temui Van Gastel
Pertandingan Super League Ditunda karena Faktor Keamanan, Padahal Tiga Hari Lagi Ada Partai Timnas U-23 Indonesia
Ringkasan
Striker asal Ghana, Jordan Mintah, telah merampungkan proses naturalisasi dan resmi menjadi warga negara Malaysia setelah bermain lima tahun di negara tersebut. Klubnya, Kuching City, mengumumkan keberhasilan ini, memungkinkan Mintah didaftarkan sebagai pemain lokal dan membuka peluang untuk membela timnas Malaysia.
Metode naturalisasi Mintah ini disebut “cara lama”, mirip dengan yang pernah diterapkan PSSI di Indonesia pada era Cristian Gonzales, namun kemudian dikritik karena dianggap menghambat perkembangan pemain lokal. Berbeda dengan Malaysia, Indonesia kini telah mengubah strateginya dengan fokus menaturalisasi pemain keturunan yang berkarier di liga top Eropa, seperti Jay Idzes dan Calvin Verdonk, demi meningkatkan kualitas timnas secara berkelanjutan.
