
Rancak Media – – Kekalahan Manchester United dari Grimsby Town di ajang Carabao Cup pekan lalu menjadi pukulan telak yang kembali menempatkan Ruben Amorim dalam sorotan. Skema permainan yang ia terapkan dinilai belum berhasil membawa perubahan signifikan, meski klub sudah menggelontorkan dana besar di bursa transfer musim panas.
Situasi ini pun memunculkan perdebatan besar di kalangan publik Old Trafford. Dari analisis taktik yang menyoroti kekakuan sistem, hingga suara fans yang frustrasi dengan siklus berulang di tubuh klub, semuanya menegaskan bahwa masalah Manchester United bukanlah perkara sederhana.
Laga melawan Grimsby memperlihatkan kelemahan nyata dalam strategi Amorim. United, yang sudah menghabiskan 200 juta Poundsterling atau setara Rp 3,8 triliun untuk belanja pemain, tetap kesulitan menjalankan pola yang diharapkan sang pelatih.
Ruben Amorim dikenal sebagai pelatih dengan filosofi permainan yang rigid. Ia menurunkan formasi 5-2-3 di mana setiap pemain memiliki peran spesifik: wing-back wajib melebar, gelandang tengah tetap di poros, dan minim rotasi posisi. Filosofi ini mengandalkan keunggulan jumlah pemain di area tertentu, terutama di sisi lapangan, untuk menekan lawan.
Manchester United Siap Lepas Tiga Pemain Sekaligus, Jadon Sancho Justru Berpeluang Bertahan di Old Trafford
Namun sistem itu kerap menemui jalan buntu, terutama ketika lawan memilih strategi man-to-man pressing. Itulah yang dilakukan Grimsby. Alih-alih kewalahan, mereka justru bisa menetralisasi keunggulan jumlah pemain yang coba dibangun United di sayap. Alhasil, pola serangan Setan Merah kerap terlihat monoton dan mudah dipatahkan.
Cara melawan pressing ketat adalah dengan mengandalkan kualitas individu dalam menggiring bola atau pergerakan dinamis pemain untuk menarik lawan keluar dari posisinya. Sayangnya, sistem Amorim tidak memberi ruang besar untuk kedua opsi itu.
Contoh jelas terlihat dari gol United saat melawan Grimsby. Kobbie Mainoo sukses menggiring bola melewati lawan, lalu membuka ruang serangan yang dituntaskan Bryan Mbeumo.
Namun momen seperti itu jarang terjadi karena mayoritas pemain United diminta bermain dengan sedikit sentuhan. Amorim lebih suka mereka menjalankan pola passing tertentu yang sudah dirancang, ketimbang improvisasi individu.
Skema yang dikenal sebagai up-back-through menjadi menu utama United. Polanya sederhana: bola dimainkan ke depan, dikembalikan ke tengah, lalu diteruskan dengan umpan terobosan. Bruno Fernandes kerap menjadi sorotan karena sering melepaskan umpan panjang. Tetapi, menurut analisis taktik, itu bukan semata gaya pribadi sang kapten, melainkan bagian dari instruksi Amorim.
Manchester United Siap Lepas Tiga Pemain Sekaligus, Jadon Sancho Justru Berpeluang Bertahan di Old Trafford
Masalah muncul ketika lawan bisa membaca pola ini. Grimsby dengan cerdik menutup sisi lapangan sambil membiarkan area tengah kosong. Hasilnya, serangan United buntu dan permainan mereka terlihat sangat mudah diprediksi.
Tak hanya dalam menyerang, masalah juga terlihat dalam fase bertahan. Amorim biasa menurunkan 5-2-3 atau 5-4-1 dengan tujuan pressing tinggi. Namun pressing itu tidak berbasis man-to-man, melainkan dengan trigger tertentu, misalnya saat bola masuk ke sayap.
Kiper Manchester United Andre Onana dan Altay Bayindir Kehilangan Kepercayaan Rekan Setim, Ruben Amorim Pasang Badan
Strategi ini punya kelemahan besar. Saat lawan menambahkan satu pemain ekstra di area build-up, tiga penyerang United kesulitan menutup ruang. Fulham sempat mencontohkannya. Ryan Sessegnon bergerak naik, memaksa Amad Diallo mundur, sementara Alex Iwobi masuk ke tengah. Fernandes dan Casemiro yang hanya berdua di lini tengah langsung kalah jumlah. Hasilnya, Fulham bisa mendominasi bola dan memegang kendali permainan.
Peran wing-back United yang vital juga sering dipatahkan lawan. Begitu mereka ditekan tetap di belakang, kekuatan serangan United otomatis tumpul. Ditambah overload lawan di lini tengah, pertahanan United makin rentan diterobos.
Di sisi lain, suara fans juga mulai menggaung keras. Kim Burdett, salah satu pendukung MU, menyampaikan unek-uneknya lewat BBC Radio 5 Live Breakfast. Ia menilai masalah klub jauh lebih dalam daripada sekadar siapa yang duduk di kursi pelatih.
“Amorim bilang pemain yang lebih baik kalah dan tim yang lebih baik menang, dan sulit untuk membantah hal itu. Grimsby memang pantas meraih kemenangan,” kata Burdett.
Kiper Manchester United Andre Onana dan Altay Bayindir Kehilangan Kepercayaan Rekan Setim, Ruben Amorim Pasang Badan
Namun ia menegaskan bahwa pergantian pelatih hanya akan mengulang siklus lama. “Kami sudah berganti banyak manajer dan pemain, tapi tetap saja polanya sama. Kalau ganti pelatih lagi, sama saja kembali ke titik nol,” ujarnya.
Meski begitu, Burdett juga mengkritik para pemain yang dinilai tidak maksimal. “Pemain jelas tidak melakukan apa yang seharusnya untuk Amorim. Dia tidak bisa mengganti semua 22 pemain, tapi kami selalu terjebak dalam siklus mendatangkan pemain baru dan tidak ada yang berubah,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa jumlah pelatih top di dunia terbatas. “Sulit untuk tahu harus bagaimana selanjutnya. Berapa banyak pelatih lagi yang harus kami coba sampai menemukan yang cocok?” katanya.
Burdett menyinggung masuknya Ineos sebagai struktur baru klub. Menurutnya, kehadiran mereka seharusnya memberi fondasi lebih kokoh.
Luka Modric Senang AC Milan Bisa Kalahkan Lecce, Tapi Rossoneri Masih Butuh Banyak Perbaikan
“Kami akhirnya punya struktur yang lebih jelas, sesuatu yang sudah lama kami nantikan. Tapi entah bagaimana, tetap saja belum berjalan dengan baik,” ucapnya dengan nada kecewa.
Kebingungan Burdett menutup dengan pertanyaan mendasar yang mungkin mewakili jutaan fans United lainnya: “Apa sebenarnya masalah inti dari klub ini?”
Pertanyaan itu menegaskan bahwa masalah MU tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengganti pelatih atau belanja besar-besaran. Ada persoalan kultur dan sistem yang lebih mendalam, dari rekrutmen pemain, manajemen, hingga filosofi permainan yang belum sepenuhnya cocok dengan Premier League.
Luka Modric Senang AC Milan Bisa Kalahkan Lecce, Tapi Rossoneri Masih Butuh Banyak Perbaikan
Amorim sendiri tak menutupi rasa frustrasinya. Ia sempat berkata, “Kadang saya ingin menyerah, kadang saya ingin bertahan di sini selama 20 tahun.” Kalimat itu mencerminkan beratnya tekanan yang ia hadapi di kursi panas Old Trafford.
Fans kini terpecah dua: sebagian masih percaya dengan proyek jangka panjang Amorim, sementara yang lain mulai kehilangan keyakinan. Dengan kompetisi yang semakin ketat, waktu Amorim untuk membuktikan diri jelas semakin menipis.
Melansir dari BBC Sports, jalan terbaik mungkin bukan sekadar bertahan pada idealisme, tetapi membuka ruang adaptasi. Tanpa itu, sulit membayangkan United bisa segera bangkit.
Kini, dengan jendela transfer yang segera ditutup, pertanyaan besar menggantung di Old Trafford. Apakah Amorim berani menyesuaikan sistemnya agar lebih fleksibel? Atau United akan kembali terjebak dalam siklus yang sama, di mana pelatih datang dan pergi tanpa menyentuh akar masalah klub?
Di atas kertas, United punya materi pemain yang bisa bersaing. Tetapi di lapangan, filosofi yang kaku membuat mereka mudah terbaca. Hanya dengan keberanian beradaptasi, baik oleh pelatih maupun manajemen, Setan Merah bisa keluar dari lingkaran setan kegagalan yang sudah terlalu lama menghantui.
Manchester United Siap Lepas Tiga Pemain Sekaligus, Jadon Sancho Justru Berpeluang Bertahan di Old Trafford
