BOLASPORT.COM – Putri Kusuma Wardani, tunggal putri kebanggaan Indonesia, semakin mendekat pada ‘checkpoint‘ krusial untuk mengukir prestasi di Kejuaraan Dunia 2025. Terciptanya kejutan di babak sebelumnya kini memperbesar peluangnya melangkah lebih jauh.
Perjuangan Putri di Kejuaraan Dunia 2025 terus berlanjut setelah ia berhasil menembus babak perempat final. Pada Kamis (28/8/2025) di Adidas Arena, Paris, Prancis, Putri tampil dominan mengalahkan unggulan kedelapan asal Jepang, Tomoka Miyazaki, dengan skor meyakinkan 21-12, 21-11.
Kemenangan ini bukan yang pertama bagi Putri atas Miyazaki. Sebelumnya, ia juga berhasil menaklukkan wakil Jepang tersebut di babak 16 besar Japan Open 2025 dengan skor 21-17, 21-14, modal berharga yang tentu menambah kepercayaan dirinya.
“Saya bermain tadi sudah menjaga bola-bola serangannya, terutama bola cross-nya, dengan footwork yang lebih aktif,” ungkap Putri melalui keterangan dari PBSI. Ia menambahkan bahwa kondisi lapangan di gim pertama menguntungkan dirinya, “Posisi Tomoka di gim pertama menang angin, jadi dia banyak out-out sendiri juga.” Putri juga menjelaskan strateginya di gim kedua, “Pada gim kedua, saya lebih sering nurunin bola untuk menyerang dan depannya juga agak manjangin dikit (pukulannya) untuk menghindari adu net.” Ia menyadari lawan mencoba bermain reli, namun “pukulannya memang hari ini tidak terlalu safe.”
Kejuaraan Dunia 2025 – Tunggu Alwi untuk Kunci Medali, Jonatan Lega Tak Lagi Jadi Unggulan Rasa Underdog
Pencapaian ini menjadi tonggak sejarah bagi Putri Kusuma Wardani, menandai perempat final pertamanya di ajang mayor bergengsi seperti Kejuaraan Dunia sejak debutnya pada tahun 2023. Ini menunjukkan progres signifikan dalam kariernya.
Sebenarnya, Putri tidak asing dengan atmosfer babak delapan besar. Tercatat, ia telah delapan kali menembus perempat final dari total 12 turnamen individu yang diikutinya sepanjang tahun ini, sebuah pencapaian yang lazimnya didominasi para pemain unggulan.
Namun, konsistensi melangkah ke perempat final ini belum sepenuhnya berhasil ia konversi menjadi gelar juara. Kemenangan di Korea Masters 2024 pada November silam masih menjadi satu-satunya koleksi trofi terbarunya.
Kabar gembira menghampiri Putri menjelang babak perempat final Kejuaraan Dunia 2025 ini. Ujian yang akan dihadapinya diprediksi akan menjadi sedikit lebih “ringan” dari skenario awal. Pasalnya, unggulan kedua, Wang Zhi Yi, yang sedianya menjadi calon lawan Putri, secara tak terduga takluk di tangan bintang India, Pusarla Venkata Sindhu. Kejutan ini tentu membuka peluang baru bagi Putri.
Jika melawan Wang Zhi Yi Putri memiliki rekor buruk 0-6 tanpa kemenangan, kini ia akan menghadapi Pusarla dengan catatan yang lebih seimbang, yakni 2 kemenangan dari 4 pertemuan. Ini memberikan secercah harapan yang lebih besar.
Terlebih lagi, Putri berhasil memenangi pertemuan terakhir mereka di Sudirman Cup 2025, Mei lalu, dengan skor meyakinkan 21-12, 21-13.
Namun, tidak bisa dimungkiri bahwa Pusarla Venkata Sindhu adalah lawan yang patut diwaspadai. Pemain kebanggaan India ini memiliki reputasi istimewa di turnamen-turnamen besar, dengan koleksi tujuh medali dari Kejuaraan Dunia dan Olimpiade, termasuk gelar Juara Dunia pada tahun 2019. Aura dan pengalamannya di panggung grand prix tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Putri.
Kendati demikian, Putri Kusuma Wardani tidak menunjukkan rasa gentar sedikit pun. “Ini adalah quarter final pertama saya untuk Kejuaraan Dunia, semoga saya bisa lakukan yang terbaik lagi besok,” ujar Putri penuh semangat. Ia menambahkan, “Saya juga merasa progres saya semakin membaik ketika melawan pemain top dunia, semoga besok siapapun lawan saya, saya mau mencoba membuktikan kalau saya bisa.”
Jika Putri berhasil melangkah lebih jauh, ia berkesempatan mengakhiri puasa medali bagi sektor tunggal putri Indonesia di Kejuaraan Dunia yang telah berlangsung sejak tahun 2016. Medalis Kejuaraan Dunia terakhir adalah Lindaweni Fanetri pada 2015, sementara gelar Juara Dunia terakhir diraih oleh legenda Susy Susanti pada 1993. Sebuah pencapaian yang akan sangat dinanti.
Sayangnya, langkah gemilang Putri tidak diikuti oleh rekan senegaranya, Gregoria Mariska Tunjung. Gregoria masih menunjukkan kesulitan untuk mempertahankan konsistensi performa terbaiknya, dan harus mengakui keunggulan wakil Korea, Sim Yu-jin, dengan skor 15-21, 18-21.
Meskipun kalah, Gregoria mengungkapkan rasa syukurnya, “Yang pertama saya mengucap syukur karena saya bisa melewati pertandingan dengan baik tanpa gangguan apapun.” Ia menyesali jalannya gim pertama, “Yang sangat disayangkan tadi di gim pertama, lawan terlalu gampang untuk bisa menang.” Gregoria mengakui sempat unggul di awal, namun lawan mampu membaca permainannya, “Di awal gim saya sempat unggul dua sampai tiga poin, setelah interval lawan sangat baik untuk antisipasi dan baca bola saya. Jadi disitu saya banyak ragu dan mati-mati sendiri.” Di gim kedua, Gregoria sempat mengejar ketertinggalan, namun kesalahan di poin-poin krusial menjadi bumerang, “Gim kedua saya juga sempat ketinggalan jauh dan sudah coba menyusul sampai dengan 18-19, di situ saya kurang melakukan inisiatif yang aman, jadi malah melakukan kesalahan terakhir.” Ia juga menyoroti keberanian lawan dan faktor angin, “Lawan juga berani spekulasi di poin-poin akhir, di posisi menang angin, itu juga membuat saya kesulitan melakukan defence,” pungkasnya.
Hasil Kejuaraan Dunia 2025 – Diasuh Irwansyah, Manusia Spesialis Event Besar Hapus 1 Kans Emas China
Ringkasan
Putri Kusuma Wardani berhasil menembus babak perempat final Kejuaraan Dunia 2025, menandai pencapaian signifikan dalam kariernya. Ia mengalahkan unggulan kedelapan Tomoka Miyazaki dengan skor meyakinkan 21-12, 21-11. Kemenangan ini adalah perempat final pertamanya di ajang mayor bergengsi, menunjukkan progres yang solid.
Di perempat final, Putri akan menghadapi Pusarla Venkata Sindhu setelah unggulan kedua Wang Zhi Yi takluk, memberikan peluang lebih besar dengan rekor pertemuan yang lebih seimbang. Jika berhasil melangkah lebih jauh, Putri berkesempatan mengakhiri puasa medali tunggal putri Indonesia di Kejuaraan Dunia yang telah berlangsung sejak 2016. Sementara itu, Gregoria Mariska Tunjung terhenti setelah kalah dari Sim Yu-jin.
