Mineral Kritis Indonesia: Dukung Dekarbonisasi Global, Kata Menlu

 

Pemerintah Indonesia, melalui Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono, menegaskan komitmennya untuk memastikan pengembangan mineral kritis melalui hilirisasi akan dilaksanakan secara bertanggung jawab. Langkah strategis ini dirancang tidak hanya untuk mendukung dekarbonisasi global, tetapi juga untuk memajukan kesejahteraan domestik. Komitmen tersebut sejalan dengan proyeksi International Energy Agency (IEA) yang memperkirakan lonjakan permintaan mineral kritis hingga empat kali lipat pada tahun 2040, khususnya untuk mendukung transisi menuju energi bersih.

Menlu Sugiono, dalam Indonesia International Sustainability Forum 2025 di Jakarta International Convention Center pada Sabtu (11/10), menyatakan, “Indonesia mengambil langkah berani untuk memastikan mineral kritis kami mendorong dekarbonisasi global, sekaligus meningkatkan kesejahteraan dalam negeri.” Pernyataan ini menyoroti visi Indonesia untuk memainkan peran sentral dalam isu keberlanjutan global.

Menurut Sugiono, negara berkembang seperti Indonesia memiliki urgensi untuk menetapkan standar keberlanjutan yang diakui secara global bagi mineral yang dihasilkan. Ia menekankan bahwa transisi menuju energi hijau tidak boleh memperparah ketimpangan antara negara-negara kaya sumber daya alam dan negara-negara maju teknologi. Oleh karena itu, bagi negara berkembang, transisi hijau harus dipandang sebagai jembatan menuju penguasaan teknologi, bukan sebaliknya yang justru menciptakan ketergantungan.

Ke depan, Indonesia akan aktif menginisiasi kerja sama global untuk membangun rantai nilai yang lebih kuat melalui investasi hilir yang berkelanjutan. Kolaborasi ini mencakup pertukaran teknologi dan keahlian. Untuk mencapai hilirisasi berkelanjutan, Menlu Sugiono menekankan pentingnya investasi yang inklusif dan bertanggung jawab. Program hilirisasi ini akan berlandaskan pada tata kelola yang baik, keadilan sosial, serta pengelolaan lingkungan yang cermat. Indonesia secara proaktif mendorong kerangka kerja investasi yang selaras dengan prinsip ESG (environmental, social, and governance) demi menjamin praktik yang bertanggung jawab.

Potensi Mineral Kritis Indonesia

Data US Geological Survey 2023 mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki cadangan nikel yang sangat signifikan, mencapai 72 juta ton. Dengan jumlah tersebut, Indonesia memegang posisi dominan sebagai penyumbang produksi nikel terbesar di dunia, memasok sekitar 48% dari total produksi global pada tahun 2023.

Tidak hanya nikel, Indonesia juga merupakan salah satu negara penghasil tembaga terbesar di dunia. Pada tahun 2022, Indonesia menduduki peringkat keenam dengan total produksi mencapai 920 ribu ton. Cadangan tembaga Indonesia diperkirakan sebesar 28 juta ton, yang merepresentasikan 3,21% dari total cadangan dunia.

Potensi Indonesia juga meluas ke mineral kritis lainnya. Dalam produksi kobalt, Indonesia bahkan menempati posisi kedua secara global dengan total produksi mencapai 10.000 ton pada tahun 2022. Peringkat serupa juga dipegang Indonesia untuk produksi timah, dengan total 68.000 ton, dan cadangan timah diperkirakan mencapai sekitar 2,8 juta ton.

Selain itu, cadangan bauksit di dalam negeri juga sangat besar, diperkirakan mencapai 1,2 miliar ton, dengan produksi sebesar 20 juta ton pada tahun 2022. Potensi beragam mineral kritis ini menempatkan Indonesia pada posisi strategis dalam mendukung transisi energi global.

Ringkasan

Pemerintah Indonesia, melalui Menlu Sugiono, menegaskan komitmennya untuk mengembangkan mineral kritis melalui hilirisasi secara bertanggung jawab. Langkah ini bertujuan mendukung dekarbonisasi global dan kesejahteraan domestik, sejalan dengan proyeksi peningkatan permintaan mineral kritis untuk transisi energi bersih. Indonesia berpandangan bahwa transisi hijau harus menjembatani penguasaan teknologi bagi negara berkembang, bukan justru menciptakan ketergantungan.

Indonesia akan aktif menginisiasi kerja sama global untuk membangun rantai nilai yang lebih kuat melalui investasi hilir yang berkelanjutan, termasuk pertukaran teknologi. Program hilirisasi ini akan berlandaskan tata kelola yang baik, keadilan sosial, dan pengelolaan lingkungan yang cermat, serta mendorong kerangka investasi yang selaras dengan prinsip ESG. Dengan cadangan nikel terbesar dunia, serta potensi signifikan tembaga, kobalt, timah, dan bauksit, Indonesia berada dalam posisi strategis untuk mendukung transisi energi global.

Baca Juga

Tags

nafa cahyani

Saya merupakan seorang content writer SEO, Teknologi, Finansial, Wisata, Resep Masakan dan lain-lain, Semoga dapat bermanfaat untuk teman semua.