WASHINGTON, KOMPAS.TV – Julio Cesar Chavez Jr, mantan juara dunia tinju asal Meksiko, menghadapi ancaman serius deportasi dari Amerika Serikat (AS). Nasibnya kini berada di ujung tanduk setelah agen imigrasi AS menangkapnya dan menyatakan niat untuk segera memulangkannya ke tanah airnya.
Penangkapan Chavez yang berusia 39 tahun ini terjadi di tengah tuduhan serius. Pada Kamis, 3 Juli 2025, pejabat AS mengumumkan bahwa otoritas Meksiko telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadapnya. Tuduhan yang dialamatkan kepadanya adalah keterlibatan dalam kejahatan terorganisasi, sebuah dakwaan yang sangat memberatkan.
Lebih lanjut, pejabat AS menuding Chavez memiliki afiliasi dengan kartel narkoba Sinaloa yang terkenal kejam. Tentu saja, tuduhan ini langsung dibantah keras oleh pengacara Chavez. Pihak pengacara bersikeras bahwa kliennya tidak terlibat dalam aktivitas ilegal apapun.
Ironisnya, penangkapan ini terjadi hanya seminggu setelah Chavez mengalami kekalahan dalam pertandingan tinju melawan Jake Paul, seorang influencer yang beralih menjadi petinju, di California. Kekalahan tersebut menambah pil pahit dalam situasi yang sudah sulit bagi sang mantan juara.
“Di bawah pemerintahan Presiden (Donald) Trump, tidak ada seorang pun yang kebal hukum, termasuk atlet terkenal sekalipun,” tegas juru bicara Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) dalam sebuah pernyataan yang dirilis menyusul penangkapan Chavez, seperti dikutip dari BBC. Penegasan ini menunjukkan keseriusan pemerintah AS dalam menangani kasus ini.
Badan Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) melakukan penangkapan terhadap Chavez di Studio City, Los Angeles, pada Kamis lalu. Lokasi penangkapan ini menunjukkan bahwa pihak berwenang telah melakukan pengintaian sebelum akhirnya mengambil tindakan.
Chavez adalah putra dari legenda tinju dunia, Julio Cesar Chavez Sr, yang dianggap sebagai salah satu petinju terbaik yang pernah dilahirkan Meksiko. Nama besar sang ayah semakin memperburuk citra Chavez Jr. di mata publik jika tuduhan ini terbukti benar.
Dalam pernyataan resminya, DHS menyatakan bahwa petinju terkenal Meksiko tersebut telah diproses untuk pemindahan secepat mungkin. Proses deportasi ini akan dilakukan dengan segera setelah semua prosedur hukum terpenuhi.
“Chavez adalah warga negara Meksiko yang memiliki surat perintah penangkapan aktif di Meksiko atas keterlibatannya dalam kejahatan terorganisasi dan perdagangan senjata api, amunisi, dan bahan peledak,” demikian bunyi pernyataan DHS. Tuduhan ini sangat serius dan dapat menjerat Chavez dengan hukuman berat jika terbukti bersalah.
DHS menambahkan bahwa Chavez diduga terafiliasi dengan Kartel Sinaloa, yang telah ditetapkan oleh Trump sebagai organisasi teroris sejak hari pertama ia menjabat pada Januari. Penetapan ini menunjukkan betapa seriusnya pemerintah AS memandang ancaman yang ditimbulkan oleh kartel tersebut.
Untuk memperkuat dugaan keterkaitan Chavez dengan kartel, DHS mengungkapkan bahwa Chavez mengajukan permohonan izin tinggal tetap di AS pada tahun lalu karena pernikahannya dengan seorang warga negara AS. Namun, fakta yang lebih mengejutkan adalah:
Warga negara AS yang menjadi istri Chavez tersebut ternyata terkait dengan Kartel Sinaloa melalui hubungan sebelumnya dengan mendiang putra pemimpin kartel terkenal, Joaquin “El Chapo” Guzman. Fakta ini semakin memperkuat indikasi keterlibatan Chavez dengan jaringan kriminal tersebut.
Menurut para pejabat AS, Chavez memiliki catatan kriminal di AS, termasuk penangkapan dan pemenjaraan atas beberapa pelanggaran, yang sebagian besar melibatkan kepemilikan senjata. Catatan kriminal ini semakin memberatkan posisinya dalam menghadapi proses deportasi.
Pada Januari 2024, ia ditangkap dan kemudian dihukum karena kepemilikan senjata serbu secara ilegal. Insiden ini menunjukkan bahwa Chavez memiliki kecenderungan untuk melanggar hukum terkait kepemilikan senjata.
Pada tahun 2023, seorang hakim di AS mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Chavez karena diduga memperdagangkan senjata untuk suatu organisasi kriminal. Tuduhan ini sangat serius dan dapat menjeratnya dengan hukuman yang berat.
Selain itu, Chavez juga diduga membuat beberapa pernyataan palsu kepada otoritas imigrasi AS dalam upaya untuk mendapatkan izin tinggal tetap dan melanggar batas waktu tinggal visa wisatanya yang berakhir Februari lalu. Tindakan ini dianggap sebagai upaya untuk mengakali hukum imigrasi AS.
Menanggapi semua tuduhan tersebut, seorang pengacara Chavez menyebut penangkapannya “tak lebih dari sekadar berita utama untuk meneror komunitas Latin.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa pihak Chavez akan berjuang keras untuk membela klien mereka dan menolak semua tuduhan yang dialamatkan kepadanya.
Ringkasan
Julio Cesar Chavez Jr., mantan juara dunia tinju, terancam dideportasi dari Amerika Serikat setelah ditangkap oleh agen imigrasi. Penangkapan tersebut terkait dengan tuduhan keterlibatan dalam kejahatan terorganisasi dan afiliasi dengan kartel narkoba Sinaloa, yang dibantah oleh pengacaranya. Selain tuduhan tersebut, Chavez juga memiliki catatan kriminal di AS, termasuk kepemilikan senjata ilegal, serta dugaan pemalsuan pernyataan kepada otoritas imigrasi.
Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) menyatakan bahwa Chavez akan diproses untuk deportasi secepatnya. Tuduhan terhadap Chavez diperkuat dengan fakta bahwa istrinya adalah warga negara AS yang terkait dengan Kartel Sinaloa melalui hubungan sebelumnya dengan putra “El Chapo” Guzman. Pihak pengacara Chavez membela dengan menyebut penangkapan tersebut sebagai upaya meneror komunitas Latin.
