JAKARTA – Sebagian besar saham bank mengalami kenaikan yang menggembirakan pada perdagangan hari ini, Rabu (19 November 2025), setelah Bank Indonesia (BI) kembali mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate stabil di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) November 2025. Keputusan ini menjadi angin segar bagi sektor perbankan.
Saham-saham yang mencatat peningkatan antara lain saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI). Namun, tidak semua bank bernasib sama; saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) justru harus rela parkir di zona merah pada perdagangan hari ini.
Saham BMRI memimpin penguatan di antara deretan bank-bank besar, dengan kenaikan mencapai 1,25% atau 60 poin, sehingga bertengger di level Rp4.850 per saham. Meskipun demikian, secara tahun berjalan (year to date/YtD), saham bank berlogo pita emas ini masih mencatatkan penurunan signifikan sebesar 14,91% atau 850 poin.
Kondisi serupa juga dialami oleh saham BBCA, yang menguat sebesar 0,89% atau 75 poin ke level Rp8.475 per saham. Akan tetapi, secara tahun berjalan, saham BBCA juga mengalami penurunan sebesar 12,40% atau 1.200 poin.
Sementara itu, saham BBRI naik tipis 0,76% atau 30 poin, mencapai level Rp4.000 per saham. Secara tahun berjalan, saham bank swasta terbesar di Indonesia ini turun 1,96% YtD atau 80 poin.
Di sisi lain, saham BBNI menunjukkan stabilitas dengan bertahan di level Rp4.460 per saham pada perdagangan hari ini. Secara tahun berjalan, saham bank berlogo 46 ini justru terpantau naik 2,53% YtD atau 110 poin.
Berbanding terbalik dengan performa mayoritas bank besar, saham BBTN dan BRIS justru terperosok ke zona merah. BBTN mencatatkan penurunan terdalam pada perdagangan hari ini.
Saham BBTN mengalami penurunan sebesar 0,83% atau 10 poin ke level Rp1.200 per saham. Namun, secara tahun berjalan, saham BBTN masih mencatatkan peningkatan sebesar 5,26% YtD atau 60 poin.
Penurunan juga menghampiri saham BRIS, yang terkoreksi sebesar 0,40% atau 10 poin menuju Rp2.460 per saham, turun 9,89% YtD atau 270 poin.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa menguatnya saham empat bank besar (big four banks) erat kaitannya dengan keputusan BI yang kembali menahan BI Rate pada level 4,75%.
Menurutnya, kebijakan penahanan BI Rate ini membantu menjaga stabilitas pasar dan mencegah potensi arus keluar modal (capital outflow) dari pasar obligasi. Kondisi ini kemudian mendorong sentimen positif bagi saham-saham perbankan dengan kapitalisasi besar.
“Big four banks mengalami penguatan karena mendapatkan katalis positif dari kebijakan Bank Indonesia yang kembali menahan suku bunga acuan sebesar 4,75%,” ungkap Nafan kepada Bisnis, Rabu (19/11/2025).
Nafan menambahkan bahwa pasar saham sempat mengalami tekanan akibat aksi jual bersih (net foreign sell) oleh investor asing pada perdagangan sebelumnya, yang menyebabkan IHSG mengalami koreksi yang wajar.
Namun, pada pembukaan perdagangan hari ini, indeks kembali menguat, didorong oleh rebound pada saham-saham berkapitalisasi besar, termasuk big four banks.
Nafan juga menuturkan bahwa keputusan BI untuk menahan suku bunga tidak hanya mencerminkan sikap pro stabilitas, tetapi juga komitmen untuk tetap mendukung pertumbuhan ekonomi (pro growth). Sentimen ini dinilai memberikan manfaat signifikan bagi sektor perbankan, terutama bagi kelompok bank besar yang memiliki likuiditas yang kuat.
Sebaliknya, bank-bank yang memiliki likuiditas lebih terbatas atau bukan bagian dari big four diperkirakan tidak akan merasakan dampak yang signifikan dari kebijakan suku bunga tersebut.
Summary
Most state-owned bank stocks, including PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), and PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), experienced an encouraging rise on November 19, 2025. This surge followed Bank Indonesia’s (BI) decision to maintain its benchmark interest rate at a stable 4.75%. However, some banks like PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) and PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) traded in the red zone during the same period.
M. Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst at Mirae Asset Sekuritas Indonesia, explained that BI’s decision to hold the interest rate acted as a positive catalyst for the “big four banks.” This policy helped maintain market stability, prevent potential capital outflow from the bond market, and supported economic growth. The significant positive impact was primarily felt by large banks with strong liquidity.
