
Rancak Media – , JAKARTA – Ambrolnya harga minyak dunia pada perdagangan akhir pekan lalu ke harga terendah sejak Mei 2025 turut menyeret jatuhnya beberapa saham emiten minyak dan gas (migas) seperti MEDC, ELSA dan ENRG. Namun, ketiga saham tersebut kembali menguat pada perdagangan Senin (13/10/2025).
Bagaimana peluang penguatan lanjutan saham-saham migas ke depan?
Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai penurunan harga minyak dunia yang cukup tajam pada akhir pekan lalu memang berpotensi menjadi sentimen negatif jangka pendek bagi saham-saham sektor migas.
“Namun, menurut saya dampaknya terhadap pasar domestik tidak akan terlalu besar, karena investor sudah cukup terbiasa dengan fluktuasi harga komoditas global, jadi sudah terekspektasi,” kata Ekky kepada Bisnis, Senin (13/10/2025).
Selain itu, Ekky mengatakan sejumlah emiten migas di Indonesia memiliki struktur bisnis yang terdiversifikasi, dengan eksposur pada gas, energi terbarukan, maupun distribusi BBM industri.
Meskipun tekanan jangka pendek masih ada, lanjutnya, prospek jangka menengah sektor migas relatif stabil, terutama jika harga minyak kembali ke kisaran US$70–US$80 per barel dalam beberapa waktu mendatang.
: Harga Minyak Global Rebound usai Trump Pastikan Akan Bertemu Xi Jinping
Berdasarkan data Trading Economics, harga minyak mentah dalam tren penurunan sejak Juli 2025. Namun, pada data perdagangan terakhir, harga minyak mentah berjangka WTI naik ke US$59,7 per barel. Begitu juga dengan harga minyak mentah Brent yang naik ke US$63,5 per barel.
Saat sejumlah saham migas ikut terseret ambruknya harga minyak dunia, kedua saham emiten Happy Hapsoro, PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA) dan PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU) kompak menguat signifikan. RAJA pada Jumat (10/10/2025) ditutup naik 8,61% ke Rp5.675, sedangkan RATU naik 13,35% ke Rp9.975.
Ekky melihat kenaikan tajam saham RAJA dan RATU di tengah pelemahan sektor migas lainnya lebih disebabkan oleh sentimen spesifik emiten.
“Kedua saham tersebut masih berada dalam euforia ‘Prajogo–Hapsoro play’ atau biasa kita sebut sentimen konglomerasi, di mana investor memburu saham-saham berafiliasi dengan konglomerasi besar yang memiliki rekam jejak ekspansi dan kinerja solid,” ungkapnya.
Menurutnya, ekspektasi terhadap potensi sinergi bisnis energi dan infrastruktur di bawah grup tersebut juga memperkuat optimisme pasar, sehingga pergerakan saham RAJA dan RATU cenderung terlepas dari tren komoditas global (decoupled).
: RAJA dan Happy Hapsoro Tegaskan Tak Punya Kaitan dengan CBRE
Pada perdagangan Senin (13/10/2025), saham-saham migas kembali pulih, antara lain adalah saham PT Super Energy Tbk. (SURE) ditutup naik 0,37% ke Rp2.720, saham PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) naik 3,02% ke Rp1.535, saham PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) naik 3,65% ke Rp995, dan RATU naik 3,76% ke Rp10.350. Sementara itu, RAJA tidak berubah dari level Rp5.675.
Sebaliknya, saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) terkoreksi 2,05% ke Rp1.670 dan saham PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA) ditutup turun 1,36% ke Rp1.090.
Penguatan sejumlah saham migas tersebut turut mendomplang laju indeks saham sektor energi yang ditutup naik 1,51%, menjadi lonjakan kedua tertinggi di belakang saham sektor transportasi.
Sebagai saham yang relatif kebal terhadap gejolak harga komoditas di akhir pekan lalu, Ekky melihat kontribusi bobot RAJA dan RATU terhadap indeks sektor energi memang tidak dominan, namun momentum positif keduanya tetap membantu menjaga sentimen sektor di tengah koreksi pada saham-saham lain seperti AKRA.
“Secara keseluruhan, selama aliran dana domestik ke saham energi masih kuat dan volatilitas global mulai mereda, tren positif sektor migas masih berpeluang bertahan, meskipun ruang kenaikannya kemungkinan akan lebih terbatas dalam jangka pendek,” pungkasnya.
—
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
