
JAKARTA — Bursa Efek Indonesia (BEI) telah resmi membuka kembali gembok perdagangan saham PT Futura Energi Global Tbk. (FUTR), menandai berakhirnya periode suspensi yang sebelumnya diterapkan. Keputusan ini sontak memicu lonjakan signifikan pada harga saham FUTR, yang langsung melesat hingga 10% begitu kembali diperdagangkan di pasar modal.
Berdasarkan data dari RTI Infokom, pada sesi I perdagangan awal pekan, Senin (6/10/2025), saham FUTR dibuka dengan kenaikan impresif sebesar 10% atau setara 50 poin, mencapai level Rp550 per saham. Aktivitas perdagangan terpantau sangat aktif dengan total 18,89 juta saham FUTR berpindah tangan, membukukan nilai transaksi mencapai Rp10,39 miliar. Lonjakan ini turut mendongkrak kapitalisasi pasar FUTR menjadi Rp3,65 triliun.
Kenaikan fantastis ini bukan hal baru bagi saham FUTR. Sebelum suspensi dicabut, saham perseroan telah menunjukkan performa yang sangat kuat, termasuk sempat melonjak 25% hingga menyentuh level Auto Reject Atas (ARA). Secara keseluruhan, penguatan harga ini telah membuat saham FUTR melesat 135% dalam sebulan terakhir dan meroket 269,13% sejak awal tahun. Suspensi oleh BEI sebelumnya justru diberlakukan karena harga sahamnya yang terus melambung tinggi, dalam upaya menjaga stabilitas pasar dan melindungi investor.
Di balik pergerakan harga yang agresif, terdapat restrukturisasi kepemilikan dan visi baru perusahaan. Direktur Utama FUTR, Tonny Agus Mulyantono, menjelaskan bahwa pasca-akuisisi oleh Ardhantara—pihak pengendali baru—perusahaan kini berfokus pada rencana pelaksanaan mandatory tender offer (MTO). Lebih lanjut, Tonny menyatakan pada Kamis (2/10/2025) bahwa serangkaian tindakan korporasi, termasuk rencana rights issue, telah masuk dalam agenda perseroan.
Tonny juga mengungkapkan arah strategis FUTR ke depan. Di bawah kendali Ardhantara yang telah merampungkan akuisisi, perseroan berencana untuk mengembangkan bisnisnya secara lebih luas di sektor energi, khususnya pada segmen energi baru terbarukan (EBT). Visi ini menempatkan FUTR sebagai holding energi hijau yang akan menaungi berbagai proyek di bidang energi bersih, sejalan dengan komitmen Ardhantara untuk mendorong proyek-proyek berkelanjutan.
Salah satu proyek ambisius yang sedang digarap oleh FUTR adalah konsesi geothermal di Gunung Slamet. Proyek vital ini, menurut manajemen, telah memasuki tahap eksplorasi aktif. Kegiatan yang sedang berjalan meliputi geosurvey, pengeboran sumur eksplorasi tahap awal, serta pembangunan infrastruktur akses utama. Investasi awal untuk proyek ini diperkirakan mencapai lebih dari US$80 juta, atau setara dengan sekitar Rp1,2 triliun.
Demi memaksimalkan nilai ekonomis, perseroan berencana untuk melakukan pengeboran tambahan pada tahap berikutnya, dengan target awal sebesar 20 MW yang akan terus ditingkatkan. Tonny menambahkan bahwa Ardhantara saat ini tengah bernegosiasi dengan mitra global yang telah menyatakan minat untuk berkolaborasi dalam proyek konsesi geothermal ini. Tahap pengeboran lebih lanjut dijadwalkan akan dimulai pada tahun 2026, menandakan langkah konkret FUTR dalam mewujudkan ambisi energi bersihnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Ringkasan
Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mencabut suspensi perdagangan saham PT Futura Energi Global Tbk. (FUTR), menyebabkan harga sahamnya langsung melonjak 10% menjadi Rp550 per saham. Pencabutan ini menyusul penguatan signifikan saham FUTR sebelumnya, yang sempat melonjak hingga 269,13% sejak awal tahun hingga BEI memberlakukan suspensi.
Setelah diakuisisi oleh Ardhantara, FUTR kini berfokus pada rencana mandatory tender offer (MTO) dan rights issue, dengan visi menjadi holding energi hijau yang mengembangkan energi baru terbarukan (EBT). Salah satu proyek utamanya adalah konsesi geothermal di Gunung Slamet yang sedang dalam tahap eksplorasi, dengan investasi awal lebih dari US$80 juta. Pengeboran lanjutan untuk proyek ini dijadwalkan akan dimulai pada tahun 2026.
