
Rancak Media JAKARTA – Salah satu emiten terafiliasi taipan Garibaldi Thohir kembali mengisi bursa. PT Merdeka Gold Resources Tbk. resmi melaksanakan Initial Public Offering (IPO) hari ini, Selasa, 23 September 2025, bakal menambah pundi-pundi pada kekayaannya.
Emiten berkode saham EMAS itu resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan harga Rp2.880 per saham dan telah menghasilkan dana Rp4,65 triliun yang sebagian besar, sekitar Rp3,88 triliun, akan digunakan untuk membayar utang kepada PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA).
Di balik perusahaan ini, MDKA menjadi pemegang saham mayoritas EMAS sebelum IPO dengan persentase kepemilikan sebesar 62,73%.
: Lists of Garibaldi ThohirâWinato Kartono’s Partnerships Emerge Behind Merdeka Gold (EMAS) IPO
Adapun, beberapa pemegang saham minoritas termasuk Winanto Kartono yang mengempit 9,29% saham, Garibaldi Thohir 6,21%, Hardi Wijaya Liong sebesar 3,98%, sementara sisanya merupakan pemegang saham minoritas individu dan institusi, dengan porsi kepemilikan saham kurang dari 2%.
Kekayaan Garibaldi Thohir
Sebagai salah satu pemegang saham minoritas di EMAS, kekayaan Garibaldi Thohir turut menjadi sorotan.
: : Mengintip Deretan Kongsi Garibaldi Thohir-Winato Kartono di Balik Pembagian Jatah IPO Merdeka Gold (EMAS)
Mengutip Forbes, kekayaan Garibaldi Thohir hingga tahun 2024 mencapai US$3,8 miliar, atau setara dengan sekitar Rp61,3 triliun.
Kekayaannya sebagian besar berasal dari kepemilikan saham jumbo di PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO), sebagai salah satu produsen dan eksportir batu bara terbesar di Indonesia.
: : Saham Happy Hapsoro dan Garibaldi Thohir Masuk Radar IHSG Pekan Depan
Menurut data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Garibaldi Thohir tercatat mengempit 6,43% saham ADRO atau sebanyak 1.976.632.710 lembar saham.
Selain itu, dia juga memegang saham di perusahaan bahan baterai kendaraan listrik, Merdeka Battery Baterials (MBMA) dengan kepemilikan sebanyak 6,33% pada tahun 2025. Tak hanya itu, Garibaldi Thohir juga memiliki saham di beberapa perusahaan lain, seperti di GOTO, TRIM, WOMF, BFIN, ASSA, dan ESSA.
Pria kelahiran Jakarta, 1 Mei 1965 itu menempuh pendidikan tinggi di Amerika Serikat, dengan meraih gelar Sarjana Administrasi Bisnis dari University of Southern Califonia pada tahun 1988 dan kemudian melanjutkan gelar Master Administrasi Bisnis dari Northrop University Amerika Serikat.
Sebelum menjadi pebisnis, pria yang kerap disapa Boy Thohir sempat bekerja di Astra, perusahaan yang juga dibesarkan dan dipimpin oleh ayahnya, Mochammad Teddy Thohir.
Setelah bekerja di Astra dan mengambil gelar Master, dia kembali ke Tanah Air dan akhirnya memutuskan mengikuti jejak sang ayah untuk menjadi pengusaha properti, dan sempat membangun sebuah apartemen di kawasan Casablanca, Jakarta.
Setelah beberapa proyek propertinya tak berjalan mulus, dia kemudian memutuskan untuk memulai bisnis baru, dengan mulai terjun ke bidang pertambangan. Dia mulai bekerja di PT Allied Indo Coal, di Sawah Lunto, Sumatra Barat.
Sambil bekerja, dia juga membangun bisnisnya di bidang keuangan dengan mengakuisisi perusahaan multifinansial PT Wahana Ottomitra Multiartha (WOM Finance).
Sayangnya, perjalanan bisnisnya di dunia keuangan juga lagi-lagi terbentur kendala krisis moneter tahun 1998. Namun, perusahaan tersebut berhasil bertahan dan bahkan kemudian melantai di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2003.
Kemudian, pada tahun 2005, Boy mendalami bisnis batu bara dengan mengakuisisi perusahaan asal Australia, PT Adaro Energy, bersama dengan Theodore Permadi Rachmat, Edwin Soeryadjaya, Sandiaga Uno, dan Benny Subianto.
Di bawah tangan dinginnya, Adaro sukses dan menjadi salah satu perusahaan batu bara situs slot terbesar di Indonesia, dan bahkan masuk dalam 50 perusahaan terbaik versi Forbes pada 2018.
Hingga pada tahun 2024, Adaro Energy Indonesia mengganti nama menjadi Alamtri Resources Indonesia, dengan tujuan memperkenalkan identitas baru yang akan lebih fokus pada proyek ramah lingkungan.
Konglomerat di Balik EMAS
Selain Garibaldi Thohir, saham EMAS juga dipegang oleh Winato Kartono yang pernah masih dalam 50 orang terkaya di Indonesia pada 2013 dengan harta US$590 juta atau sekitar Rp6,1 triliun pada tahun tersebut.
Winato sendiri merupakan pendiri Provident Group dan mantan kepala perbankan investasi untuk Citigroup Global Markets di Indonesia. Dia juga telah berinvestasi bersama sejumlah perusahaan besar, termasuk Saratoga Investema Sedaya dalam berbagai proyek.
